“Satu kata yang bener2 bikin muak jiwa raga setelah tiba di Jepang dua tahun lalu adalah : GAMBARU alias berjuang mati-matian sampai titik darah penghabisan. Muak abis karena tiap kali bimbingan sama prof, kata-kata penutup selalu : motto gambattekudasai (ayo berjuang lebih lagi), taihen dakedo, isshoni gambarimashoo (saya tau ini sulit, tapi ayo berjuang bersama-sama), motto motto kenkyuu shitekudasai (ayo bikin penelitian lebih dan lebih lagi). Sampai rasanya pingin ngomong, apa ngga ada kosa kata lain selain GAMBARU? apaan kek gitu, yang penting bukan gambaru.
Terus terang aja, dua tahun di jepang, dua tahun juga ngga ngerti, kenapa orang2 jepang ini menjadikan gambaru sebagai falsafah hidupnya. Bahkan anak umur 3 tahun pun udah disuruh gambaru di sekolahnya, meskipun kena flu atau demam tetap dihimbau masuk dari pagi sampai sore, dengan alasan, anak akan kuat menghadapi penyakit jika ia melawan penyakitnya itu sendiri.
Bener2 baru mulai sedikit mengerti mengapa gambaru ini penting banget dalam hidup, adalah setelah terjadi tsunami dan gempa bumi dengan kekuatan 9.0 di jepang bagian timur. Bencana alam di Indonesia seperti tsunami di aceh, nias dan sekitarnya, gempa bumi di padang, letusan gunung merapi....juga bukanlah hal yang gampang untuk dihadapi. Tapi, tsunami dan gempa bumi di Jepang kali ini, jauuuuuh lebih parah dari semuanya itu. Bahkan, ini adalah gempa bumi dan tsunami terparah dan terbesar di dunia.
Sangat wajar jika kemudian mereka tidak punya harapan. Tapi apa yang terjadi pasca bencana mengerikan ini? Dari hari pertama bencana, terlihat potret warga dan pemerintah yang bahu membahu menyelamatkan warga yang terkena bencana, pengobaran semangat dari pemerintah yang dibawakan dengan gaya tenang dan tidak emosional : mari berjuang sama-sama menghadapi bencana, mari kita hadapi dengan sepenuh hati. Dan juga tergambar potret para warga yang terkena bencana, yang saling menyemangati
Sebagai orang Indonesia yang tidak pernah melihat cara penanganan bencana ala gambaru kayak gini, bener-bener merasa malu dan di saat yang bersamaan : kagum dan hormat banget sama warga dan pemerintah Jepang. Ini negeri yang luar biasa, negeri yang sumber daya alamnya terbatas banget, negeri yang alamnya keras, tapi bisa maju luar biasa dan punya mental sekuat baja, karena : falsafah gambaru-nya itu. Bisa dibilang, orang-orang jepang ini ngga punya apa-apa selain GAMBARU. Dan, gambaru udah lebih dari cukup untuk menghadapi segala persoalan dalam hidup.”
Itulah penggalan cerita dari seorang Indonesia yang sedang menuntut ilmu di negeri sakura yang membuktikan akan moto hidup bangsa Jepang. “Gambaru” memberikannya makna yang sangat luar biasa dalam menjalani kehidupan dengan segudang permasalahannya.
Tuhan memberikan sesuatu pasti dengan hikmah yang akan kita dapatkan, salah satunya dengan "Gambaru"nya Jepang khususnya untuk Indonesia. Ketahanan diri dan tidak pantah semangat menjadi satu pelajaran penting untuk Indonesia untuk bangun dari keterpurukan.
Showing posts with label Pengalaman Pribadi. Show all posts
Showing posts with label Pengalaman Pribadi. Show all posts
Monday, June 20, 2011
Monday, April 11, 2011
kabar bahagia setelah tsunami jepang
cerita pertama

Akiko Kosaka, gadis pelajar asal Jepang yang tengah kuliah di University of California di Riverside, Amerika Serikat, sudah kehilangan harapan akan keselamatan keluarganya di Minami Sanriku. Apalagi, desa yang dihuni sekitar 17.000 kepala keluarga tersebut diberitakan telah hancur dan menyisakan banyak korban jiwa akibat terjangan gelombang laut setinggi lebih dari 3 meter.
Tiga hari lamanya Kosaka berusaha mencari tahu keadaan keluarganya. Baru pada hari ke-4 pascabencana ia menerima e-mail adiknya, Yukiko, telah diselamatkan dan mengungsi di sebuah sekolah. Akan tetapi, apa yang terjadi pada kedua orangtuanya, kakek dan nenek, serta kakaknya yang sebelumnya tinggal satu atap, ia belum tahu.
Hingga akhirnya ia mendapatkan kabar dari salah satu teman yang menghubunginya tentang keberadaan sebuah video berdurasi sekitar 45 menit di situs YouTube yang menunjukkan bahwa rumah keluarga Kosaka adalah satu-satunya rumah yang masih berdiri di antara puing-puing desa. Video tersebut dikabarkan menunjukkan kakaknya sedang melambai-lambaikan tangan ke kamera wartawan sambil mengatakan, "Kami semua selamat."
Kosaka panik ketika seharian mencari di internet, tapi tidak menemukan video yang dimaksud. Pertolongan akhirnya datang melalui sebuah e-mail yang melampirkan link dari video tersebut kepadanya.
"Saya kira mereka tidak selamat. Saya menangis selama tiga hari ini, Jumat, Sabtu dan Minggu," katanya sambil terisak-isak saat diwawancarai CNN.
Ketika menyaksikan video itu untuk pertama kalinya di rumah kontrakannya di Riverside, California, reaksi Kosaka mengejutkan semua penghuni rumah. "Saya berteriak, membuat penjaga rumah terbangun dan membuat mereka mengira sesuatu yang buruk telah terjadi. Mereka bertanya apa yang terjadi, saya berkata, mereka selamat!" teriaknya.
Dalam video tersebut, kakak Kosaka, Shoko yang berusia 24 tahun, sedang berdiri di beranda lantai dua rumahnya, tepat di luar kamar Kosaka. Ia berusaha menarik perhatian media yang membawa kamera video dan berpesan tolong sampaikan kepada saudaranya di California bahwa keluarganya baik-baik saja.
Saat diwawancarai, Kosaka masih berusaha mengirimkan pesan melalui video dan media lainnya dengan tujuan menyampaikan pesan ke Jepang bahwa ia sudah menerima pesan yang dikirim keluarganya. Kosaka masih harus melihat video yang menampilkan keadaan ayahnya, Natsumi, ibunya, Noriko, serta kakek dan neneknya.
Rumah keluarga Kosaka menjadi satu-satunya yang bertahan di desa Minami karena sekitar 5 tahun lalu ayahnya membangun rekonstruksi baru yang membagi rumah menjadi dua bagian lengkap dengan ruang bawah tanah. Rumah-rumah lain di desa itu sudah dimakan usia dan tidak diperbarui.
Dalam video YouTube yang melegakan tersebut tampak kakak Kosaka memegang papan bertuliskan "KELUARGA KOSAKA" lalu berteriak "Karena adik kami sedang berada di Amerika, tolong sampaikan bahwa kami semua selamat."
Dikatakannya, video tersebut ditontonnya berulang kali dan selama menonton itu dia terus menangis haru. Dia memperkirakan, telah menonton video tersebut setidaknya 50 kali dalam 24 jam.
Tak berhenti disini, Akiko masih mengkhawatirkan kondisi kesehatan keluarganya dan berharap segera mendapatkan pesan balasan dari mereka.
cerita kedua

Seorang lelaki ditemukan masih hidup Sabtu (19/3/2011) pagi ini di bawah reruntuhan rumahnya, delapan hari setelah tsunami menerjang bangunan itu, yang membuat pria itu sama sekali tidak mungkin untuk melarikan diri.
Semua harapan untuk menemukan korban yang bertahan hidup semula telah pupus akibat lamanya waktu berlalu dan suhu yang membeku. Pasukan dari departemen pertahanan sipil terkesima mendapati pria muda itu, yang dalam keadaan syok berat dan tak mampu bicara, dalam puing-puing rumah di kota Kesennuma di Prefektur Miyagi yang rusak parah.
Dia tidak tampak menderita luka berat. Namun, apa yang dialaminya telah mengakibatkan ia syok berat, kata para pejabat. Pria itu, namanya belum diketahui, tidak mampu bercerita kepada para petugas penyelamatnya apa yang terjadi dan apa yang dialaminya selama delapan hari tersebut.
"Rasanya menakjubkan bahwa kami dapat menemukan seorang korban yang bertahan hidup setelah melewati waktu selama ini," ujar seorang petugas pertahanan sipil.
Mungkin ada beberapa korban lain yang bertahan dapat ditemukan. "Kami berupaya sebaik mungkin mendatangi gedung-gedung yang sulit dijangkau dan setelah penemuan yang memberi harapan hari ini mungkin kami bisa menemukan beberapa korban lain yang masih bertahan," tuturnya.
Televisi Jepang menunjukkan lelaki itu berusia sekitar 20-an, diangkat dengan tandu dari reruntuhan rumahnya. Dia dibawa ke rumah sakit untuk pemulihan akibat syok, hipotermia, kelaparan, dan keletihan.

Akiko Kosaka, gadis pelajar asal Jepang yang tengah kuliah di University of California di Riverside, Amerika Serikat, sudah kehilangan harapan akan keselamatan keluarganya di Minami Sanriku. Apalagi, desa yang dihuni sekitar 17.000 kepala keluarga tersebut diberitakan telah hancur dan menyisakan banyak korban jiwa akibat terjangan gelombang laut setinggi lebih dari 3 meter.
Tiga hari lamanya Kosaka berusaha mencari tahu keadaan keluarganya. Baru pada hari ke-4 pascabencana ia menerima e-mail adiknya, Yukiko, telah diselamatkan dan mengungsi di sebuah sekolah. Akan tetapi, apa yang terjadi pada kedua orangtuanya, kakek dan nenek, serta kakaknya yang sebelumnya tinggal satu atap, ia belum tahu.
Hingga akhirnya ia mendapatkan kabar dari salah satu teman yang menghubunginya tentang keberadaan sebuah video berdurasi sekitar 45 menit di situs YouTube yang menunjukkan bahwa rumah keluarga Kosaka adalah satu-satunya rumah yang masih berdiri di antara puing-puing desa. Video tersebut dikabarkan menunjukkan kakaknya sedang melambai-lambaikan tangan ke kamera wartawan sambil mengatakan, "Kami semua selamat."
Kosaka panik ketika seharian mencari di internet, tapi tidak menemukan video yang dimaksud. Pertolongan akhirnya datang melalui sebuah e-mail yang melampirkan link dari video tersebut kepadanya.
"Saya kira mereka tidak selamat. Saya menangis selama tiga hari ini, Jumat, Sabtu dan Minggu," katanya sambil terisak-isak saat diwawancarai CNN.
Ketika menyaksikan video itu untuk pertama kalinya di rumah kontrakannya di Riverside, California, reaksi Kosaka mengejutkan semua penghuni rumah. "Saya berteriak, membuat penjaga rumah terbangun dan membuat mereka mengira sesuatu yang buruk telah terjadi. Mereka bertanya apa yang terjadi, saya berkata, mereka selamat!" teriaknya.
Dalam video tersebut, kakak Kosaka, Shoko yang berusia 24 tahun, sedang berdiri di beranda lantai dua rumahnya, tepat di luar kamar Kosaka. Ia berusaha menarik perhatian media yang membawa kamera video dan berpesan tolong sampaikan kepada saudaranya di California bahwa keluarganya baik-baik saja.
Saat diwawancarai, Kosaka masih berusaha mengirimkan pesan melalui video dan media lainnya dengan tujuan menyampaikan pesan ke Jepang bahwa ia sudah menerima pesan yang dikirim keluarganya. Kosaka masih harus melihat video yang menampilkan keadaan ayahnya, Natsumi, ibunya, Noriko, serta kakek dan neneknya.
Rumah keluarga Kosaka menjadi satu-satunya yang bertahan di desa Minami karena sekitar 5 tahun lalu ayahnya membangun rekonstruksi baru yang membagi rumah menjadi dua bagian lengkap dengan ruang bawah tanah. Rumah-rumah lain di desa itu sudah dimakan usia dan tidak diperbarui.
Dalam video YouTube yang melegakan tersebut tampak kakak Kosaka memegang papan bertuliskan "KELUARGA KOSAKA" lalu berteriak "Karena adik kami sedang berada di Amerika, tolong sampaikan bahwa kami semua selamat."
Dikatakannya, video tersebut ditontonnya berulang kali dan selama menonton itu dia terus menangis haru. Dia memperkirakan, telah menonton video tersebut setidaknya 50 kali dalam 24 jam.
Tak berhenti disini, Akiko masih mengkhawatirkan kondisi kesehatan keluarganya dan berharap segera mendapatkan pesan balasan dari mereka.
cerita kedua

Seorang lelaki ditemukan masih hidup Sabtu (19/3/2011) pagi ini di bawah reruntuhan rumahnya, delapan hari setelah tsunami menerjang bangunan itu, yang membuat pria itu sama sekali tidak mungkin untuk melarikan diri.
Semua harapan untuk menemukan korban yang bertahan hidup semula telah pupus akibat lamanya waktu berlalu dan suhu yang membeku. Pasukan dari departemen pertahanan sipil terkesima mendapati pria muda itu, yang dalam keadaan syok berat dan tak mampu bicara, dalam puing-puing rumah di kota Kesennuma di Prefektur Miyagi yang rusak parah.
Dia tidak tampak menderita luka berat. Namun, apa yang dialaminya telah mengakibatkan ia syok berat, kata para pejabat. Pria itu, namanya belum diketahui, tidak mampu bercerita kepada para petugas penyelamatnya apa yang terjadi dan apa yang dialaminya selama delapan hari tersebut.
"Rasanya menakjubkan bahwa kami dapat menemukan seorang korban yang bertahan hidup setelah melewati waktu selama ini," ujar seorang petugas pertahanan sipil.
Mungkin ada beberapa korban lain yang bertahan dapat ditemukan. "Kami berupaya sebaik mungkin mendatangi gedung-gedung yang sulit dijangkau dan setelah penemuan yang memberi harapan hari ini mungkin kami bisa menemukan beberapa korban lain yang masih bertahan," tuturnya.
Televisi Jepang menunjukkan lelaki itu berusia sekitar 20-an, diangkat dengan tandu dari reruntuhan rumahnya. Dia dibawa ke rumah sakit untuk pemulihan akibat syok, hipotermia, kelaparan, dan keletihan.
Friday, April 8, 2011
Etika bisnis negeri matahari terbit

Bapak Joko tampak bingung ketika memasuki ruang rapat di salah satu gedung perusahaan ternama di Jepang. Ia menemukan banyak muka masam yang melihat ke arahnya. Ketika ia duduk dan mulai berbicara, ekspresi masam tersebut tidaklah juga hilang, tapi malah bertambah. Ada apa gerangan? Apa yang salah? Ternyata Pak Joko terlambat 15 menit memasuki ruang rapat. Tak hanya itu, ia langsung memulai percakapan, dengan anggapan hal tersebut bisa menghemat waktu semua orang yang hadir.
Banyak pebisnis, terutama mereka yang sering bepergian, akan menemukan berbagai kebiasaan atau adat yang tidak mereka pahami. Perilaku dan tata cara dalam berbisnis bisa jadi berbeda-beda. Banyak yang bisa kita pelajari dari budaya luar tersebut, walau memang terkadang mengundang kebingungan sekaligus kekaguman. Bagi Pak Joko, terlambat 15 menit di negara asalnya sudah dianggap lumrah. Ketika ia langsung berbicara untuk menghemat waktu, di negaranya mungkin dianggap sebagai tindakan yang praktis dan to the point. Tetapi, di Negara Jepang, ternyata hal itu dianggap sebagai tindakan yang kurang sopan.
Di balik kebiasaan di setiap negara, tersimpan suatu tata krama dan tata cara khas yang menyiratkan budaya mereka. Pastinya, tidak semua bisa cocok jika diterapkan di tempat lain. Tetapi, kita harus memahami budaya suatu negara jika ingin berbisnis dan berinteraksi di negara tersebut. “Lain padang, lain belalang”.
Ibarat kata, di mana tanah dipijak, di situlah langit dijunjung. Kita harus menghormati budaya orang lain jika kita memang berniat untuk menjalin kerja sama. Hal ini berlaku untuk kedua belah pihak. Tak hanya untuk pihak yang berkunjung, pihak tuan rumah pun sebaiknya menghormati budaya pihak yang berkunjung. Tetapi biasanya, pihak yang berkunjunglah yang harus lebih menghormati pihak tuan rumah.
Coba kita amati sejenak bagaimana kebiasaan para pebisnis di negara matahari terbit. Orang-orang Jepang cenderung formal dan resmi dalam mengadakan suatu perjanjian atau pertemuan bisnis. Bagi kita, orang asing (atau “Gaijin”, sebutan orang Jepang untuk orang asing), kebiasaan berbisnis Jepang nampak sangat kental dengan budaya dan tradisinya, yang kemungkinan terasa kaku atau tidak terlalu cocok untuk diterapkan begitu saja di negara kita, dan bahkan di negara barat sekalipun.
Namun, jika kita perhatikan lebih dalam, ternyata banyak hal yang memang patut ditiru, seperti kebiasaan untuk lebih menghormati orang yang lebih tua, teliti dalam memperhatikan setiap detail, dan bahkan komitmen untuk bersenang-senang setelah menyelesaikan pekerjaan. Berikut adalah beberapa tradisi atau kebiasaan yang bisa kita amati dan bagaimana kita bisa mengadaptasinya untuk lebih memperkaya tata cara berbisnis kita.
Hormati Kartu Nama Orang Lain
Sebuah meeting di Jepang selalu dimulai dengan ritual pertukaran kartu nama yang dilakukan secara formal dan resmi. Ritual ini dinamakan Meishi Kokan. Dalam proses pertukaran kartu nama, orang yang diberi kartu menerimanya dengan kedua tangan, membaca kartu nama tersebut dengan teliti, membaca tulisan yang ada hingga terdengar oleh semua orang, lalu meletakkannya dalam tempat kartu nama, atau di atas meja di depannya (sehingga bisa langsung dibaca kembali apabila diperlukan). Kartu nama tidak pernah ditaruh di dalam kantong, karena dianggap tak sopan.
Pelajaran yang bisa diambil: Pertukaran kartu nama adalah cara untuk mengekspresikan rasa hormat dan menganggap penting orang lain dalam suatu pertemuan. Ini menunjukkan Anda menghargai pertemuan tersebut, sama dengan halnya Anda akan menghargai pertemuan-pertemuan selanjutnya.
Bagaimana kita mengadaptasinya: Mungkin akan terlihat konyol apabila Anda benar-benar melakukan tradisi Meishi Kokan di tempat lain. Tetapi, jika Anda menerima kartu nama dari orang lain, usahakanlah untuk membaca dan menyerap semua informasi yang ada di dalamnya. Tidak ada ruginya berusaha untuk mengingat nama lengkap orang tersebut. Sebaliknya, Anda akan terlihat kasar dan tidak sopan jika Anda langsung menjejalkan kartu nama tersebut ke dalam kantong terdekat.
Mengalah pada yang Lebih Tua
Sudah merupakan kebiasaan dalam meeting di Jepang untuk selalu memberi kesempatan pada orang yang lebih tua dan mempunyai jabatan tertinggi untuk memberikan pendapat atau komentar terlebih dahulu. Orang yang lebih tua juga selalu paling diperhatikan pendapat dan nasihatnya. Ketika membungkuk—tradisi menyapa Jepang—kita harus selalu membungkuk lebih dalam kepada orang-orang yang lebih senior.
Pelajaran yang bisa diambil: Budaya bisnis Jepang menghargai mereka yang lebih senior untuk kebijaksanaan dan pengalaman yang mereka bagikan ke perusahaan. Di Jepang, umur adalah sama dengan pangkat. Jadi, semakin tua seseorang, semakin dianggap penting pulalah dia.
Bagaimana kita mengadaptasinya: Kita bisa berusaha untuk sedikit mengalah kepada orang-orang yang lebih senior atau mereka yang berpangkat lebih tinggi. Jika Anda tidak setuju/berselisih pendapat dengan seorang manajer, keluarkan keluhan Anda secara pribadi di ruangan tertutup. Jangan pernah mempertanyakan otoritas dan kekuasaannya di depan orang lain. Ketahuilah bahwa mereka yang berada di atas Anda itu adalah memang orang-orang yang layak dipromosikan karena keahlian dan pengalaman mereka. Lain halnya jika mereka yang berada di atas Anda itu mencapai jabatannya lewat KKN, nepotisme dan suap. Anda lebih baik keluar dari perusahaan tersebut.
Tanamkan Motivasi Melalui Slogan
Banyak perusahaan Jepang memulai hari mereka dengan meeting pagi, dimana para pekerja berbaris dan menyanyikan slogan perusahaan sebagai salah satu cara untuk menanamkan motivasi dan kesetiaan terhadap perusahaan. Hal ini juga penting untuk menjaga agar semua karyawan tetap ingat akan maksud dan tujuan perusahaan.
Pelajaran yang bisa diambil: Sekilas, tradisi ini mungkin terlihat seperti aktivitas untuk “cuci otak” atau indoktrinasi. Tetapi, hal ini merupakan cara Jepang untuk menanamkan semangat kerja bagi seluruh karyawannya. Acara pagi ini berfungsi untuk terus mengingatkan misi dan visi perusahaan yang perlahan bisa menjadi kabur seiring dengan sibuknya hari-hari kerja.
Bagaimana kita mengadaptasinya: Ingatkan diri Anda setiap kali duduk di tempat kerja—apa yang sebenarnya Anda kerjakan. Refresh kembali visi, misi dan tujuan jangka panjang dalam benak Anda. Tetaplah sadar akan betapa pentingnya kerja sama tim dan seluruh perusahaan untuk mencapai tujuan tersebut. Buat daftar dari slogan Anda sendiri supaya bisa dibaca dan diingat lagi jika Anda sedang hilang atau patah semangat.
Muka Serius Tanpa Ekspresi
Anda tidak akan pernah melihat muka-muka datar tanpa ekspresi, seperti yang Anda lihat di kantor-kantor Jepang. Sesekali mungkin ada karyawan yang tertawa, tetapi para pekerja pada umumnya akan menunjukkan ekspresi muka yang datar dan serius, khususnya saat meeting. Mereka berbicara dengan nada yang rendah dan teratur. Mereka bahkan kerap menutup mata ketika mendengar dan memperhatikan pembicara—kebiasaan ini sering disalahartikan oleh orang asing yang tidak mengerti, sebagai tanda kebosanan.
Pelajaran yang bisa diambil: Orang Jepang menganggap tempat kerja sebagai tempat yang harus dihormati. Mereka jarang bercanda kecuali pada waktu luang atau istirahat. Jarang sekali ada kontak fisik antarpekerja, apalagi menepuk punggung atau kepala.
Bagaimana kita mengadaptasinya: Bagi kita, suasana kerja yang terlalu kaku dan formal mungkin terkesan menyiksa. Anda tidak perlu memperlakukan lingkungan kantor seperti tempat yang sakral, tetapi juga jangan berlaku seenaknya seperti di rumah sendiri. Sikap profesional tetap diperlukan untuk meningkatkan produktivitas. Hormati pekerjaan dan hormati orang lain. Jaga volume suara dan tertawa, karena Anda tidak bekerja sendirian di kantor.
Getol Kerja, Getol Hiburan Juga
Setelah melalui waktu kerja, para pekerja Jepang siap untuk bersantai—sangat santai bahkan. Mengunjungi bar demi bar setelah jam kerja adalah hal yang umum—bahkan sudah menjadi tradisi. Jika lingkungan kerja merupakan tempat yang formal dan resmi, bar adalah tempat para pekerja Jepang berhura-hura. Salah satu tempat favorit adalah karaoke bar, dimana semua orang diharapkan untuk ikut bernyanyi—walaupun ada dari mereka yang tidak bisa menyanyi. Selain itu, klub-klub malam juga menjadi tempat favorit, tidak hanya untuk menyeimbangkan pekerjaan dengan hiburan, tetapi juga untuk saling berbagi informasi dan memperkuat tali persaudaraan dalam suatu tim
Friday, January 21, 2011
Budaya Orang Mandi Di Jepang

1. Mandi Sendiri aja
Kalau di Indonesia ‘kebanyakan orang’ pada mandikan 2x sehari ya pagi sama sore hehehehe, tapi beda gan sama di Jepang orang sana mandituh cuman 1x sehari (mereka putih mungkin karena faktor genetik). Yaitu cuman malam hari, karena menurut pemikiran orang jepang sebelum naik ke atas kasur kita harus benar-benar bersih dari segala hal yang mengotori kita selama melakukan aktivitas di pagi sampai sore hari. Dan biasanya pada saat bangun tidur mereka cuman gosok gigi sama cuci muka. Jadi gak usah mandi lagi karena menurut mereka mereka belom kotor.
Nah ane mo ngasi tau nih gan caranya orang jepang mandi :

1.
Rata rata rumah di Jepang memili "ofuro" (tempat mandi yang berupa bak besar yang mana semua badan bisa masuk semua)/(Bathubnya orang jepang lah)
Dan besar kicilnya ofuro tergantung kesukaan setiap orang dan kemampuan mebeli yang mana.
2.
Karena temperatur udara di Jepang dingin, setiap orang mandi menggunakan air panas. air panas di bikin menggunakan gas atau dengan tenaga listik.
Sebelum mulai mandi kita isi air panas kedalam ofuro dulu dan mengatur berapa drajat panas air yang di inginkan, Kalau sudah siap semua kita jangan masuk ke dalam bak dulu, melainkan kita harus mandi bersih dulu, pakai samphoo, sabun, dan lalu bilas dulu, kalau sudah benar benar bersih barulah kita masuk ke dalam ofuro dan berendam. Dengan berendam dengan air panas ini bisa membuka pori pori dan membuat kulit menjadi halus, dan yang paling penting bisa mengambil capek dan lelah dan membuat badan jadi fresss and segar (hahaha itumah sama aja yah gan) .

3.
Dan yang paling penting lagi sehabis mandi, air yang ada dalam ofuro tidak di buang melainkan bisa di pakai mandi lagi, tinggal di panaskan saja. bukan itu saja rata rata orang jepang sisa air mandi tidak di buang melainkan bisa di pakai lagi untuk mencuci pakaian, air yang ada dalam bak di pindahkan kedalam mesin cuci. Hal ini sangat praktis bisa menghemat air. Dan itulah mengapa kita harus mandi (seperti biasa) dulu sebelum nyebur ke Ofuro. Dan tujuan terjun ke Ofuro sepertinya cuman menghilangkan capek.
2.Mandi bareng yukkk !
Yang kedua ane mo ngasi tau tentang Budaya mandi bareng di jepang . Heheheh jangan ngeres dulu sih agan, soalnya kamar mandinya dipisah antara laki” dan perempuan (kebanyakan) . Tapi yang ane taku kalo disitu ada di tempat mandi bareng pria gimana yah gan, pasti ane langsung
Onsen atau Hot spring biasanya letaknya gak jauh” sama sumber air panas. Dan letaknya tuh biasanya deket gunung atau Bukit. Dan perlengkapan yang harus dibawa itu handuk kecil dan besar + shampoo. Dan biasanya di Onsen itu pintu masuknya untuk membedakan tempat laki” dan perempuan itu kalo laki” itu pintu masuk dengan tirai warna biru sedangkan wanita itu warna merah. Tapi ada juga sih onsen yang di gabung hehehehe.
Pas masuk disana naujibillah (kecil gan ; halah ngomong apaan sih gw ) terpampang didepan mata hahahahaha, soalnya mereka tuh lepas bajutuh bukan di kamar mandi tapi di tempat naro baju/ tempat loker”. Dan kayaknya pada udah biasa gan. Dan disana orangnya emang jarang ada yang maho soalnya pada gak saling liat”an gan. Kalo ane mah ngeliat gitu pasti agak”ngeliat gitu soalnya aneh gan (tapi ane bukan homoloh

Thursday, September 2, 2010
Indonesia di Mata Mahasiswa Jepang
Judul aselinya adalah kisah mahasiswa Jepang riset di ITS. Ada hal menarik yang dapat kita jadikan renungan, Kampus ITS, ITS Online - Laki-laki putih bermata sipit ini sebenarnya sedang menempuh S2 di kobe University, Jepang. Dia hampir lulus tahun ini di jurusan Marine Engineering. Sejak bulan April lalu, dia mengadakan riset untuk thesis S2nya. Melalui persetujuan dari profesornya, dia dikirim ke ITS untuk mengadakan riset. Sebelumnya, saat menempuh S1 di Kobe, dia memasuki laboratorium yang sama dengan Dr Lahar Baliwangi, dosen Teknik Sistem Perkapalan (Siskal) ITS yang saat itu sedang menempuh studi di sana. Karena bidang riset dan tools yang mereka gunakan sama, akhirnya Yashiki dikirim ke ITS oleh profesornya, yaitu Prof.Kenji Ishida.Yashiki diberi kesempatan untuk riset di Indonesia, tepatnya di ITS. Di bawah tiga dosen Siskal, akhirnya Yashiki dapat menyelesaikan risetnya. Dr Ketut Buda Artana, Dr Lahar Baliwangi, dan Dr Dinariyana adalah dosen pembimbingnya. Jika ada masalah, Yashiki sering konsultasi ke tiga dosen tersebut. Ada cerita yang menarik mengenai dosennya di sini, diungkapkan oleh Yashiki, “Yang mengesankan bagi saya adalah dengan Dr Lahar Baliwangi. Dulu ketika saya masih S1, dia menjadi senior saya di Kobe University. Namun, setelah saya mengambil riset S2 ini ternyata riset saya mirip dengan dia. Akhirnya, saya dikirim ke sini menjadi murid didiknya."
Ditanya mengenai risetnya, dia menceritakan bahwa penelitiannya itu mengenai system dynamic dan mempelajari tentang optimasi waktu perawatan kapal. Untuk pengambilan data riset, ada perbedaan antara Jepang dan Indonesia. Yashiki menjelaskan bahwa di Indonesia pengambilan data langsung dilakukan ke perusahaan yang berkenaan dengan riset itu. Sedangkan di Jepang sendiri, biasanya data didapat dari professor. Apabila data yang diinginkan tidak ada, maka professor melobi perusahaan di sana yang memiliki data yang dibutuhkan oleh mahasiswanya. Dan biasanya perusahaan mau memberikan data tetapi mereka juga memberikan tugas kepada mahasiswa tersebut untuk melaporkan hasil riset mereka sebagai masukan perusahaan. Dengan kata lain, di Indonesia mahasiswanya harus lebih aktif untuk mendapatkan data penelitiannya dibandingkan dengan di Jepang. Dalam risetnya kali ini, Yashiki langsung melakukan pengambilan data-data kapal di perusahaan pelayaran bernama Pelayaran Nusa Tenggara.
Laki-laki beragama Budha ini lahir di Minamkyobate Cho, Nara, Jepang. Hobinya jalan-jalan, dan hobi traveling itu dibawa sampai ke Indonesia. Tujuan dia traveling adalah melihat budaya dan orang Indonesia serta melihat iklim di sini. Laki-laki 24 tahun ini bercerita bahwa dia telah mengunjungi beberapa tempat di sini. Diantaranya adalah Bali, Malang, Jember, Banyuwangi, Solo, Jogja, Jakarta, hingga sampai ke Makassar dan Toraja.
“Orang Indonesia yang saya lihat, mereka ramah-tamah, baik hati, suka menolong, tetapi jam karet dan kadang-kadang malas. Mereka juga aktif tetapi individualis. Hal yang sangat kontras. Saya sendiri heran dengan orang Indonesia. Seharusnya dari ketiga hal itu (ramah-tamah, baik hati, dan suka menolong, Red) mereka merupakan pribadi yang sosialis. Tetapi mereka individualis. Mungkin karena karakter yang berbeda dan ego yang tinggi ya,” kata Yashiki mengenai orang-orang Indonesia.
Kalau berbicara kemajuan di bidang teknologi, Jepang sangat pesat terkait dengan pengembangan dan aplikasi teknologinya. Yashiki juga bercerita bahwa orang Jepang terkenal dengan jiwa nasionalisme yang tinggi. Mereka sangat bangga bekerja di perusahaan sendiri dan memiliki loyalitas yang tinggi daripada bekerja di pihak asing. Mereka juga memiliki sikap yang disiplin dan jujur. Orang Jepang akan sangat malu jika melakukan pekerjaan tidak benar atau tidak tepat. Tingkat kejujuran pun tinggi, mereka benar-benar mengabdi dan mencintai Negaranya.
“Orang-orang Jepang memang berbeda dengan Indonesia. Misalnya dalam hal diskusi. Mahasiswa di Jepang jarang berdiskusi di kelas dibandingkan dengan mahasiswa Indonesia yang sering melakukan presentasi dan diskusi. Tetapi sekali kita berdiskusi, diskusi itu all out dan efektif. Kami harus mempersiapkan diskusi dengan sebaik-baiknya. Sedangkan di sini saya lihat diskusi tidak efektif. Dosen ataupun mahasiswa cenderung kurang persiapan untuk kegiatan itu. Jadi, hasilnya kurang efektif,” ungkap Yashiki.
Ditanya soal kendala di sini, dia mengalami kendala di bahasa saja. Karena bahasa pengantar di manapun adalah bahasa Inggris, jadi dia meng-upgrade sendiri bahasanya. Saat bepergian ke suatu tempat dia lebih memilih pergi bersama teman Jepang sebab bisa diajak ngobrol dengan enak dan lancar. Namun, jika di suatu tempat dimana sama-sama tidak mengerti bahasa di daerah tersebut biasanya menggunakan bahasa tubuh.
Laki-laki muda ini berpesan pada kita, “sebenarnya Indonesia tidak perlu menyamakan diri dengan Jepang karena Indonesia sebenarnya pun mampu lebih baik dengan ciri karakterisitik yang dimilikinya. Dalam beberapa hal Indonesia dan Jepang itu tidak ada yang beda. Waktu kerja dan belajar kita sama. Tetapi bagaimana kalian membentuk sikap disiplin dan jujur lah yang menentukan sebuah negara,” pesan Yashiki.
JAM KARET, cocok buat ane tuhbagaimana dg tmn2 agan ditempat kerja,di kampus ato di skolahan?apakah mereka cenderung rajin tekun disiplin ato malah mereka cenderung males,tidak disiplin + seneng ngobrol sendiri tnpa fokus terhadap kerjaan/pelajaran?
jujur kalo di kampus ane emg yg males lebih byk dibanding dg yg rajin,dan mereka cenderung menyepelekan entah itu hal besar ato pada hal sekecil apapun.eits budaya titip absen jg
Sunday, July 11, 2010
Inilah Dunia Kerja Jepang Yang Sebenarnya [Masih Ngarepin Tinggal Di Jepang?]

banyak dari kita, anak muda Indonesia selalu dan selalu membanggakan negeri Samurai, jepang. apakah salah? tidak juga. memang harus kita akui klo Jepang adalah negeri dengan segudang kehebatan, mulai dari teknologi, kedisiplinan, kreasi anime, sampai dunia sex! banyak juga dari kita yang mengandai2 “seandainya saya bisa ke jepang, sekolah di jepang dan hidup di jepang…” setelah baca thread ini, masihkan ngarep untuk idup di jepang?
Setiap tahun terdapat jutaan mahasiswa yang bersorak gembira ketika mereka dinyatakan lulus dari universitas. Mereka senang karena jerih payah orang tua tidak sia-sia setelah mereka di wisuda mengenakan toga. Sayang sekali… mereka tidak sadar kalau mereka baru saja keluar dari “kandang anak kucing” dan masuk ke hutan belantara yang dipenuhi oleh singa, ular berbisa, mawar beracun, dan banyak lagi yang aneh-aneh.

Menurut survey di Tokyo, orang-orang yang baru lulus kuliah cenderung mengalami tingkat stress yang lebih tinggi jika dibandingkan ketika mereka sedang menghadapi ujian terakhir di kampus.
Kenapa mereka lebih stress? Karena mereka tidak bisa mendapatkan pekerjaan!
Makin hari makin banyak darah segar yang bersaing ketat untuk mendapatkan pekerjaan. Dan ketika saingan semakin banyak, banyak pula yang rela di gaji rendah, kerja semakin larut, dan tingkat kesehatan yang semakin menurun.
Inilah dunia kerja Jepang yang sesungguhnya.
“Setiap hari saya hidup dengan kegelisahan yang mengerikan,” kata Ikezaki, seorang karyawan kontrak yang saat ini kerja dengan gaji ¥75.000/bulan (atau sekitar 7 juta rupiah per bulan). “Ketika saya berpikir tentang masa depan saya, saya jadi tidak bisa tidur di malam hari.”
Berdasarkan data dari pemerintah Jepang, terdapat lebih dari 10 juta orang yang hidup dengan penghasilan kurang dari standard normalnya Jepang yaitu ¥1.600.000/tahun (atau sekitar 155 juta rupiah per tahun).
Mungkin ini semua adalah akibat dari perusahaan-perusahaan Jepang yang lebih mementingkan keuntungan perusahaan dan memanfaatkan keluguan para pekerja baru (yang jelas-jelas tidak punya pilihan lain).

Terciptalah salaryman. Orang-orang yang hidup dengan gaji rendah, kerja setengah mati, tanpa uang lembur, dan tanpa kepastian peningkatan karir meskipun mereka telah bekerja puluhan tahun. Makanya jangan heran ketika kamu melihat banyak karyawan Jepang yang tertidur pulas di kereta ketika mereka menuju pulang ke rumah. Mereka terlalu lelah.

Kata salaryman sendiri diambil dari bahasa Inggris, yaitu salary (gaji) dan man (orang), jadi salaryman artinya adalah orang yang hidupnya 100% tergantung dari gaji. Mereka kalo sampai dipecat rasanya dunia kiamat. Kalo di Indonesia, ini sama dengan bangsawan = bangsa karyawan.
Saking stressnya, tercipta satu kata baru yang terkenal di dunia pekerja Jepang untuk menggambarkan betapa kerasnya kerja di Jepang, yaitu karoshi.
Apa itu karoshi?
Karoshi artinya “mati di kerja” atau kematian karena stress pekerjaan. Halusnya berarti “meninggal karena setia dan mengabdi kepada perusahaan”. Kematiannya bisa karena kecelakaan di tempat kerja, kematian karena terlalu lelah (kesehatannya menurun jauh), ataupun karena bunuh diri karena stress kerja.
Saking seriusnya masalah ini, pemerintah Jepang telah mencoba berbagai cara untuk mengatasinya. Mulai dari menyediakan nomor telepon darurat untuk menerima keluh-kesah para salaryman, buku petunjuk untuk mengurangi stress, sampai mensahkan undang-undang yang memberikan sejumlah uang (asuransi) ke para janda dan anak-anak yang ditinggal mati karena karoshi.

Menurut data pemerintah, dari 2.207 kasus bunuh diri pada tahun 2007, 672-nya adalah karena pekerjaannya terlalu banyak. Kasus karoshi yang terkenal adalah kasus kematian Kenichi Uchino pada tahun 2002, seorang manager quality-control berusia 30 tahun yang bekerja di perusahaan otomotif terbesar di dunia, Toyota.
Kenichi dikabarkan bekerja lembur selama 80 jam setiap bulan selama 6 bulan lamanya tanpa dikasih uang lembur atau bonus tambahan apapun. Dia akhirnya jatuh pingsan di tempat kerjanya dan dilarikan ke rumah sakit, yang kemudian membawanya ke akhirat.
McDonald’s Jepang pun terkena masalah ini. Salah seorang manager restorannya jatuh sakit dan meninggal karena bekerja lembur tanpa bayaran apapun.
Mau gak mau, karena tekanan publik, Toyota dan McDonald’s akhirnya memutuskan akan memberikan uang lembur bagi yang ingin bekerja lembur dan menyediakan fasilitas kesehatan yang lebih baik.
Para salaryman ini sebenarnya niatnya baik, yaitu ingin memajukan perusahaannya. Ditambah lagi dengan kebudayaan Jepang yang selalu menekankan disiplin tinggi, mereka berpikiran bahwa dengan bekerja lebih lama dan lebih keras daripada karyawan lain dan tanpa meminta bayaran apapun, boss mereka bisa memberikan posisi yang lebih baik. Tapi kenyataan, TIDAK!!.
Bagaimana sih kehidupan seorang salaryman sehari-hari?
06:30 = bangun dari tempat tidur
07:30 = berangkat ke kantor (jalan kaki / naik sepeda / subway)
08:50 = harus tiba di kantor
09:00 = meeting pagi dengan supervisor
09:10 = mulai kerja
12:00 = makan siang (bento / kantin / restoran terdekat)
13:00 = mulai kerja lagi
17:00 = lembur dimulai (biasanya tanpa uang lembur)
20:30 = pesta nomikai (kalau ada)
21:30 = pulang ke rumah (jalan kaki / naik sepeda / subway)
22:30 = sampe rumah, nonton TV, baca koran
23:00 = tidur
Ulangi terus dari Senin-Jumat. Sabtu biasanya pulang lebih awal (kalau ada lembur, kerja seperti biasa). Minggu libur (kalau ada lembur, kerja seperti biasa).
Peraturan di kantor:
#1. Kalau atasan bilang bumi berbentuk kotak, maka bumi bentuknya kotak.
#2. Kalau dia berubah pikiran, maka bumi juga bentuknya berubah.
#3. Lupakan apa kata pelanggan. Boss adalah raja.
#4. Karyawan baru? Boss adalah Tuhan.
#5. Membungkuk. Membungkuk. Membungkuk.
jadi, masih ngarep pengen idup di Jepang?
Friday, April 30, 2010
Rahasia Panjang Umur Orang Jepang

Secara bergurau seorang teman mengungkapkan rahasia panjang umur orang Jepang. Katanya, di Jepang semua serba mahal, termasuk biaya penguburan ketika meninggal. Jadi orang Jepang mau menabung dulu yang banyak sampai berusia lanjut supaya bisa dikuburkan dengan layak. Saya tertawa mendengarnya. Pada suatu kesempatan, saya menanyakan kepada salah seorang professor saya tentang hal ini. Dengan sedikit menambahkan dari beberapa hal yang saya lihat sehari-hari, inilah rahasia panjang umur orang Jepang.
Pertama dari makanan. Orang Jepang makan dengan makanan yang bergizi dan higyenis. Tentu kita tahu orang Jepang juga suka memakan ikan mentah yang dicampur sedikit nasi (sushi) bahkan yang benar-benar ikan mentah saja (sashimi). Ikan mempunyai gizi yang tinggi serta rendah kalori. Contoh lain, makanan yang digoreng menggunakan minyak goreng seperti tempura akan dimasak dengan sangat kering dan garing sehingga seolah-olah minyak goreng tidak melekat di makanan tersebut.
Pada hampir setiap restoran besar di Jepang, akan bisa kita lihat jumlah kalori yang terdapat pada setiap menunya. Dengan demikian orang bisa mengatur asupan jumlah kalorinya. Makanan yang dimasak juga tidak akan dihidangkan sampai lebih dari satu hari. Di banyak supermarket, setiap malam biasanya diadakan potongan harga untuk makanan yang dimasak pagi harinya karena tidak akan dijual lagi untuk keesokan harinya. Semua makanan yang menggunakan bahan pengawet tercantum jelas kapan habis masa berlakunya. Dari sisi minuman, teh Jepang juga sangat terkenal akan khasiatnya. Dan orang Jepang tidak pernah minum yang dicampur dengan gula.
Faktor yang kedua adalah olah raga. Sedari kecil, warga Jepang terbiasa berolah raga. Di sekolah dasar, selain diberikan pelajaran olah raga, setiap tahun diadakan lomba olah raga bersama yang melibatkan semua muridnya tanpa terkecuali. Walaupun sifatnya lomba, namun lebih banyak ditekankan tentang kerja sama dalam kelompok, sehingga setiap murid dapat berpartisipasi. Lomba yang sama juga diadakan pada tingkat TK. Karena cinta berolah raga, walaupun sedang musim dingin dan bersalju, banyak orang yang tetap melakukan aktivitas olah raganya.
Ditunjang faktor transportasi umum yang nyaman, warga Jepang biasa berjalan kaki atau mengendarai sepeda setelah turun dari bus/kereta untuk menyambung perjalanannya. Karena kebiasaan ini, kalau kita bertanya jarak suatu tempat, biasanya tidak akan dijawab dengan dalam berapa meter atau satuan jarak, mereka akan menjawab “Kira-kira 10 menit berjalan kaki dari sini”. Di jalan umum, biasa terlihat orang tua yang masih gagah berjalan kaki. Tanpa disadari, hal ini juga merupakan olah raga yang ringan.
Faktor ini masih sangat jarang dilakukan oleh masyarakat kita. Bagi mereka yang memiliki kendaraan, akan naik kendaraan dari rumah sampai ke tujuan. Bagi yang berkendaraan umum, akan memaksakan diri untuk turun sampai tempat terdekat (bahkan bukan di tempat pemberhentian) setelah itu disambung menggunakan ojek/bajaj sampai di depan rumah. Sehingga tubuh kita tidak terbiasa untuk melakukan olah raga yang ringan.
Yang ketiga adalah peran pemerintah. Di setiap kota disediakan sarana olah raga yang memadai. Minimal ada lapangan luas serta gym yang dilengkapi dengan tempat fitness serta kolam renang. Masyarakat bisa menggunakan fasilitas ini dengan biaya yang relatif murah. Pemerintah juga mewajibkan setiap warga untuk mengikuti asuransi kesehatan nasional yang disesuaikan dengan penghasilan kita. Sehingga pada saat sakit, biaya pengobatan ditanggung oleh asuransi.
Cukup dengan menunjukkan kartu asuransi, masyarakat dapat langsung mendapatkan potongan harga di rumah sakit atau dokter manapun. Untuk anak di bawah usia tertentu serta orang lanjut usia di atas usia tertentu biayanya akan sangat murah, bahkan ada yang gratis. Khusus untuk orang yang sudah sangat lanjut usia, bahkan pemerintah menyediakan sarana penjemputan bagi mereka yang hendak memeriksakan diri ke dokter/rumah sakit.
Yang terakhir adalah menyediakan waktu untuk bersantai guna menghindari kejenuhan. Berbagai macam cara digunakan untuk relaks. Contohnya adalah dengan menekuni suatu hobby tertentu.Bisa dengan memelihara tanaman, memelihara bonsai, menekuni fotografi, belajar kaligrafi dan lain-lain. Di rumah juga tidak sedikit yang menanam tanaman atau pohon bonsai. Selain bisa untuk melepaskan diri dari kejenuhan sehari-hari juga untuk menambah teman / kenalan untuk berbagi rasa.
Contoh lainnya adalah menikmati keindahan alam. Sebagai negara empat musim, warga Jepang setiap tahun sering menikmati pergantian musim. Pada saat musim semi mereka berkumpul sambil duduk menikmati bunga sakura (hanami). pergi melihat sunset di musim panas, serta menikmati indahnya dedaunan di musim gugur. Foto ilustrasi di atas adalah seorang nenek berusia sekitar 90 tahunan yang berkursi roda diantar cucunya untuk menikmati keindahan bunga tulip di musim semi.
Walaupun sepertinya tidak ada hal yang baru dalam rahasia panjang umur ini, namun apabila dijalankan secara konsisten akan berdampak bagi kesehatan kita. Mudah-mudahan informasi ini bermanfaat bagi kita semua.
Friday, March 12, 2010
Berbagai Profesi di Jepang dan Gajinya

“Data pribadi yang paling tidak ingin diketahui oleh orang lain kalau pria adalah penghasilan, sedangkan wanita adalah alamat.”, demikian hasil survey yang diumumkan oleh Nihon RSA pada tahun 1998. Tetapi, besarnya gaji di Jepang mungkin adalah salah satu hal yang menarik untuk diketahui, terutama mereka yang ingin bekerja di Jepang. Berikut informasi yang diperoleh dari beberapa sumber di internet.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
1. Gaji di Jepang umumnya dihitung berdasarkan pendapatan kotor per tahun (“nenshu”, 年収), sebelum dikurangi dengan pension (“nenkin”,年金), asuransi (“hoken”,保険) dsb.
2. Pendapatan pertahun (年収) terdiri dari dua komponen : gaji (“kyuuyo”,給与) + bonus (“shouyo”, 賞与). Besarnya bonus tidak seragam. Ada yang besarnya tiga kali pendapatan per bulan, dua kali, atau tidak sama sekali.
3. Besarnya gaji dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain lama kerja dan usia.
Ada beberapa sumber mengenai gaji berbagai profesi di Jepang. Data di bawah berasal dari majalah President bulan Desember 2005 yang dikutip di situs Ini . Angka yang tercantum di dalam kurung adalah rata-rata pendapatan per tahun (bukan per bulan), dalam satuan juta yen. Hanya sebagian data saja yang ditampilkan. Sayang saya belum membaca artikel aslinya, sehingga tidak tahu secara detail bagaimana survey itu dilakukan.
Quote:
1. Perdana Menteri (41.65) = Rp 4,165 miliar/tahun
2. Menteri (30.41) = Rp 3,041 miliar /tahun
3. Anggota Parlemen (22.28) = Rp 2,228 miliar/tahun
4. Pengacara/”bengoushi” (21.01) = Rp 2,101 miliar/tahun
5. Pilot (17.13) = Rp 1,713 miliar/tahun
6. Dokter (12.27) = Rp 1,227 miliar/tahun
7. Professor (11.53) = Rp 1,153 miliat/tahun
8. Associate Professor (9.17) = Rp 917 juta / tahun
9. Polisi (8.40)= Rp 840 juta / tahun
10. Wartawan (7.82)= Rp 782 juta / tahun
11. Guru SMA (7.41) = Rp741 juta/ tahun
12. Pegawai Pemda (7.28) = Rp 728 juta/ tahun
13. Guru Sekolah Kejuruan (5.38) = Rp 538 juta / tahun
14. Perawat (4.64) = Rp 464 juta/ tahun
15. Salaryman (4.39)= Rp 439 juta/tahun
16. Programmer (4.12)= Rp 412 juta/tahun
17. Guru TK (3.28)= Rp 328 juta/tahun
18. Supir Taxi (3.06)= Rp 306 juta /tahun
Ini baru gaji bersih gan belom di tambah gaji kotor, kalo udah ditambah bakalan 3x lipat kali gan
Kurs yang ane pake Rp 100 = 1 Y
Ternyata 1 yen itu nilainya lebih dari Rp 100
5. Data dari NTA (National Tax Agency)menyebutkan bahwa pada tahun 2005, banyaknya orang yang memiliki penghasilan di Jepang dan bekerja selama 1 tahun adalah 44.94 juta orang. Rata-rata pendapatan mereka sebesar 4.37 juta yen (dalam satu tahun). Pekerja pria 27.74 juta orang dan rata-rata penghasilannya 5.38 juta yen. Sedangkan wanita, 17.20 juta orang dan rata-rata penghasilannya 2.73 juta yen.
6. Rata-rata penghasilan part time job (arubaito) : 966 yen (Juni 2006).
7. Sekedar referensi saja, beasiswa Monbukagakusho per bulan untuk tahun finansial 2007/2008 sekitar 134 ribu yen (S1) dan 172 ribu yen (S2 dan S3), berarti per tahun 1.7 juta (S1) dan 2.1 juta (S2). Beasiswa ini adalah jumlah bersih yang diberikan kepada siswa untuk hidup sehari-hari (membayar sewa apartemen, makan, minum, dsb.), di luar uang kuliah. Hanya saja beasiswa ini tidak dianggap sebagai penghasilan, dan pelajar dianggap zero income, sehingga tidak dikenakan pajak penghasilan.
8. Angka di atas kalau dikonversikan ke rupiah akan terkesan sangat besar. Tetapi hal ini tidak lantas berarti menggambarkan taraf kemakmuran seseorang dari sudut pandang Indonesia, demikian pula sebaliknya. Untuk memberikan gambaran yang tepat dan fair, perlu ditambahkan informasi living cost di negara tersebut. Hal ini karena terdapat perbedaan signifikan pada living cost antara keduanya. Contohnya, 150 yen di Jepang (di toko bento, kantin kampus, dsb.) hanya dapat dipakai untuk membeli satu porsi nasi putih tanpa lauk pauk. Tetapi di Indonesia kalau dirupiahkan dan dibawa ke warteg, nasi putih anda tidak akan sendirian, melainkan akan mendapat teman-teman yang menyenangkan (tempe, gorengan, sayur, telur, ikan, daging, es teh manis dsb.). Saya pernah ditanya oleh teman Jepang mengenai besarnya gaji di Indonesia. Jawaban sederhana adalah dengan mengkonversikan angka tersebut ke yen. Orang Jepang yang mendengarnya akan terkejut, karena gaji sebesar itu tidak akan cukup dipakai hidup di Jepang. Tetapi saat saya jelaskan bahwa biaya hidup di Indonesia sangat jauh berbeda dengan di Jepang, baru teman saya tersebut memahaminya.
9. Berkaitan dengan point 8 di atas, salah satu parameter yang sering dipakai untuk mengukur tingkat standard hidup adalah Engel’s coefficient. Engel’s Coefficient didefinisikan sebagai prosentase penghasilan yang dipakai untuk belanja kebutuhan primer pangan (飲食費) terhadap total pengeluaran bulanan. Semakin rendah nilainya, berarti semakin tinggi tingkat standard hidupnya. Berapakah Engel’s Coeff. di Jepang ? Menurut survey di tahun 2005 yang dikutip di artikel ini, besarnya pengeluaran rata-rata tiap keluarga adalah 266,508 yen, dan 60,532 yen, sehingga Engel’s Coef-nya 22.7%. Pemerintah Jepang setiap bulan melakukan pemeriksaan belanja rumah tangga (Kakei-chousa, 家計調査).
Quote:
Sebagai referensi, besarnya koefisien pada periode sebelumnya adalah sbb :
1. setelah PD-II selesai/pada tahun 1947 besarnya 63%
2. era 1950-an sekitar 40%
3. era 1960-an sekitar 30% (pada tahun 1962 berhasil tembus dari
40%-an ke 30%)
4. era 1970-an sekitar 20%
5. tahun 2002 sekitar 23.3%
Monday, February 15, 2010
Kenapa orang Jepang tidak banyak menjadi anggota FaceBook??

Beberapa kali saya pernah mengirimkan invitation ke teman mahasiswa Jepang untuk ikut bergabung di FaceBook (FB). Tapi undangan saya tersebut sangat jarang ditanggapi oleh teman saya. Ada satu dua orang yang menjadi anggota, tapi itupun tidak aktif. Hanya sekedar membuka account saja. Yang lumayan aktif biasanya hanya mahasiswa Jepang yang mempunyai banyak teman mahasiswa asing.
Tahun 2008 Mark Zuckerberg membuat aplikasi bahasa Jepang untuk menarik lebih banyak peminat FB dari negeri sakura. Ternyata harapan itu tidak terpenuhi. Memang sebagian besar warga Jepang sangat tidak terbiasa dengan aplikasi berbahasa Inggris. Tetapi ketika YouTube membuat aplikasi berbahasa Jepang, berbondong-bondong orang Jepang mengupload video ke sana. YouTube relativ lebih disenangi dibandingkan dengan FB. Ternyata bahasa bukan kendali utama bagi menjamurnya FB di Jepang.
Untuk menjadi anggota FB, kita diharuskan mengisi data-data pribadi yang nantinya dicantumkan kepada orang yang menjadi teman kita. Sementara YouTube cuma mensyaratkan nama (itupun tidak perlu nama asli) dan alamat email . Di sinilah masalahnya. Sebagian besar orang Jepang tidak mau memperlihatkan data dan kehidupan pribadinya kepada banyak orang. Sebagai contoh, dengan memperlihatkan tanggal, bulan dan kelahiran kita, dipercaya dapat digunakan untuk mengetahui karakter kita yang sangat berbahaya apabila digunakan untuk kepentingan tidak baik.
Selain itu, orang Jepang juga tidak terlalu suka menonjolkan jati dirinya di hadapan orang banyak. Mereka terbiasa hidup berkelompok dan bekerja juga dalam kelompok. Kita mungkin kenal dengan produk walkman, tapi kita tidak tahu siapa penemunya, kecuali dari Sony Corpporation. Juga tamagochi yang terkenal itu, oleh perusahannya, sang penemu mendapat perlakuan sama dengan pegawai lainnya dan dianggap sebagai bagian dari kerja kelompok.
Dalam berinternetpun, orang Jepang lebih suka memakai identitas lain atau bukan nama sebenarnya. Tahun 2005 ada satu kisah nyata tentang warga Jepang yang bercurhat dalam suatu forum Internet. Pemuda Jepang tersebut adalah orang yang suka dengan komik (manga), game, animasi dan bergaya agak aneh. Di Jepang orang seperti ini disebut “otaku”. Dalam suatu perjalanan di kereta api, dia berhasil menolong seorang wanita cantik berpendidikan tinggi dari gangguan orang mabuk. Keinginannya untuk mendekati dan mencintai wanita tersebut dicurahkan dalam sebuah forum Internet. Dalam setiap langkah untuk mendekati sang wanita, dia menceritakannya di forum tersebut. Banyak sekali tanggapan, saran dan dukungan kepada pemuda tersebut. Kisah ini akhirnya menjadi populer dan dijadikan sebuah film, sinetron dan komik dengan judul “Densha Otoko” (Train Man). Sampai sekarang, identitas asli Train Main ini tidak diketahui.
Selain itu, ada juga rasa mawas diri dari orang Jepang untuk tidak membagi identitas, foto dan kehidupan pribadinya. Terutama para wanitanya. Mereka tidak mau diganggu oleh orang-orang iseng yang mengetahui identitas mereka melalui FB. Pernah juga ada kasus ketika seorang mahasiswi yang punya blog didatangi oleh pemuda Amerika yang ingin berkenalan dengannya. Sang mahasiswi menolak dan sempat terjadi kehebohan di kampus. Sejak saat itu ada himbauan di kampus untuk tidak membuka kehidupan pribadi melalui blog. Demikian cerita salah satu professor saya.
Jadi budaya masih banyak mempengaruhi orang Jepang untuk tidak sembarangan berinternet. Sementara di Indonesia banyak yang dengan secara sengaja membagi-bagikan nomor HP, alamat, nomor PIN BlackBerry dan identitas lainnya di FB mereka. Tanpa disadari, kalau ada orang yang berniat tidak baik, data-data ini bisa dengan sangat mudah dimanfaatkan untuk kejahatan.
Friday, February 12, 2010
keunikan yang hanya ada di jepang

1. Di Jepang, angka “4″ dan “9″ tidak disukai, sehingga sering tidak ada nomer kamar “4″ dan “9″. “4″ dibaca “shi” yang sama bunyinya dengan yang berarti “mati”, sedang “9″ dibaca “ku”, yang sama bunyinya dengan yang berarti “kurushii / sengsara.
2. Orang Jepang menyukai angka “8″. Harga-harga barang kebanyakan berakhiran “8″. Susu misalnya 198 yen. Tapi karena aturan sekarang ini mengharuskan harga barang yang dicantumkan sudah harus memasukkan pajak, jadi mungkin kebiasaan ini akan hilang. (Pasar = Yaoya = tulisan kanjinya berbunyi happyaku-ya atau toko 800).
3. Kalau musim panas, drama di TV seringkali menampilkan hal-hal yang seram (hantu).
4. Cara baca tulisan Jepang ada dua style : yang sama dengan buku berhuruf Roman alphabet huruf dibaca dari atas ke bawah, dan yang kedua adalah dari kolom paling kanan ke arah kiri. Sehingga bagian depan dan belakang buku berlawanan dengan buku Roman alphabet (halaman muka berada di “bagian belakang”).
5. Tanda tangan di Jepang hampir tidak pernah berlaku untuk keperluan formal, melainkan harus memakai hanko/inkan/ cap. Jenis hanko di Jepang ada beberapa, a.l. jitsu-in, ginko-in, dan mitome-in. Jadi satu orang kadang memiliki beberapa jenis inkan, untuk berbagai keperluan. Jitsu-in adalah inkan yang dipakai untuk keperluan yang sangat penting, seperti beli rumah, beli mobil, untuk jadi guarantor, dsb. jenis ini diregisterkan ke shiyakusho. Ginko-in adalah jenis inkan yang dipakai untuk khusus membuat account di bank. inkan ini diregisterkan ke bank. Mitome-in dipakai untuk keperluan sehari-hari, dan tidak diregisterkan.
6. Kalau kita membubuhkan tanda tangan, kadang akan ditanya orang Jepang: ini bacanya bagaimana ? Kalau di Jepang saat diperlukan tanda tangan (misalnya di paspor, dsb.) umumnya menuliskan nama mereka dalam huruf Kanji, sehingga bisa terbaca dengan jelas. Sedangkan kita biasanya membuat singkatan atau coretan sedemikian hingga tidak bisa ditiru/dibaca oleh orang lain.
7. Acara TV di Jepang didominasi oleh masak memasak.
8. Fotocopy di Jepang self-service, sedangkan di Indonesia di-service.
9. Jika naik taxi di Jepang, pintu dibuka dan ditutup oleh supir. Penumpang dilarang membuka dan menutupnya sendiri.
10. Pernah nggak melihat cara orang Jepang menghitung “satu”, “dua”, “tiga”.... dengan jari tangannya ? Kalau agan-agan perhatiin, ada perbedaan dengan kebiasaan orang Indonesia. Orang Indonesia umumnya mulai dari tangan dikepal dan saat menghitung “satu”, jari kelingking ditegakkan. Menghitung “dua”, jari manis ditegakkan, dst. Kalau orang Jepang, setahu saya, kebalikannya. Mereka selalu mulai dari telapak tangan terbuka, dan cara
menghitungnya kebalikan orang Indonesia. Saat bilang “satu”, maka jarinya akan ditekuk/ditutupkan ke telapak tangan. Kalo nggak percaya, coba deh… jikken dengan teman Jepang anda.
11. Sepeda tidak boleh dipakai boncengan, kecuali yang memboncengkannya berusia lebih dari 16 tahun dan anak yang diboncengkan berusia kurang dari satu tahun dan hanya seorang saja yang diboncengkan. Bila dilanggar, dendanya maksimal 20 ribu yen.
12. Kalo naik eskalator di Tokyo, kita harus berdiri di sebelah kiri, karena sebelah kanan adalah untuk orang yang terburu-buru. Jangan sekali-kali berdiri di kanan kalo kita ga langsung naik.
13. Pacaran di Jepang sungguh hemat, traktir2an bukan budaya pacaran Jepang. Jadi selama belum jadi suami-istri, siapin duit buat bayar sendiri-sendiri.
14. Nganter jemput pacar juga bukan budaya orang Jepang. Kalo mau ketemuan, ya ketemuan di stasiun.
15. Jangan pernah sekali-kali bilang ke orang jepang : “Gue maen ke rumah lu ya”. Karena itu dianggap ga sopan. Ke rumahnya cuma kalo udah diijinin.
16. “Aishiteru” yang berarti aku cinta kamu, jarang dipake sama orang pacaran, kecuali kalo mereka bener-bener udah mau nikah. Biasanya mereka make “Daisuke desu” buat ngungkapin kalo mereka sayang sama pacarnya.
17. Sebelum bepergian, biasanya orang Jepang selalu ngecek ramalan cuaca. Dan 90% ramalan cuaca itu akurat. Itu sebabnya kalo ada orang bawa payung, pasti kita bakal liat orang yang lainnya lagi bawa payung juga. Dan perempatan Shibuya adalah tempat yang paling menarik ketika hujan, karena dari atas kita akan melihat lautan payung yang berwarna-warni.
18. Bunga sakura adalah bunga yang spesial di Jepang, karena bunganya hanya tumbuh 2 minggu selama setahun. Ketika tumbuh, bunganya memenuhi seluruh pohon, tanpa daun. Setelah 2 minggu, ga ada satupun bunga sakura, yang ada hanyalah daun-daun hijau, tanpa bunga, dan jadi ga menarik lagi.
19. Di Indonesia, kita bakal dapet duit kalo kita ngejual barang bekas kita ke toko jual-beli. Tapi di Jepang, kita malah harus bayar kalo mau naro barang kita di toko jual-beli. Itulah sebabnya kenapa orang Jepang lebih milih ninggalin TV bekas mereka gitu aja kalo mo pindah apartemen.
20. Di perempatan jalan Kyoto, perempatan jalan yang kecil, ga ada mobil sama sekali, tapi ada lampu merah, pejalan kaki selalu berhenti ketika lampu tanda pejalan kaki menunjukkan warna merah. Mereka santai aja, baca koran, ngobrol, ngerokok, dan kemudian jalan lagi ketika lampu sudah hijau. Padahal ga ada mobil yang lewat satupun. Mungkin kalo mereka ngelanggar peraturan juga ga akan celaka.
21. Mereka ga percaya Tuhan (mayoritas atheis), tapi mereka bisa disiplin dan taat sama peraturan. Mungkin karena itu negara mereka maju. Entahlah...
Wednesday, February 10, 2010
KEHIDUPAN MUSLIM DI JEPANG

jepang bukanlah negara yang mayoritas penduduknya beragama islam seperti halnya Indonesia. Jepang adalah negara yang boleh dikatakan tidak begitu menganggap penting masalah keagamaan. Oleh karena itu, sebagai orang islam yang menuntut ilmu di negara ini, diperlukan ketahanan diri untuk senantiasa tetap istiqamah. Terkait dengan hal ini, saya ingin sedikit menceritakan kehidupan muslim di Jepang. Pada dasarnya, kehidupan muslim di jepang secara umum bisa dikatakan Alhamdulillah masih dalam keadaan stabil dan tidak mendapat gangguan ataupun hambatan yang betul-betul menjadi masalah. Selama hampir 6 bulan di Jepang, saya masih bisa beribadah dengan tertib, sholat 5 waktu, sholat malam dan sholat Jumat. Sholat 5 waktu dapat dikerjakan di sela-sela kegiatan kuliah ataupun lab.
Di Jepang ini terdapat Islamic Center yang secara umum berfungsi sebagai center atau `markas` bagi orang-orang islam yang ada di Jepang. Selain itu ada beberapa masjid (khususnya di Tokyo) dan mushalla-mushalla di kampus-kampus yang terdapat banyak mahasiswa islamnya (jangan samakan dengan mushalla atau masjid kampus yang ada di kampus-kampus di Indonesia lho, J ). Di Tokyo, masjid-masjid ini dikelola oleh muslim-muslim dari Saudi Arabia, Pakistan, dan Turki. Karena di jepang membuat keributan menjadi hal yang dilarang, maka suara-suara dari masjid tidak sampai ke luar masjid, tetapi hanya terdengar di dalam masjid saja. Pelaksanaan shalat lima waktu didirikan di masjid-masjid dan di mushalla-mushalla ini. Begitu pula dengan pelaksanaan shalat jumat dan shalat-shalat sunat lainnya yang terkait dengan waktu, seperti shalat tarawih dan sejenisnya. Akan tetapi, karena letak masjid ataupun mushalla ini jauh dari tempat beraktivitas kaum muslim di Jepang, pelaksanaan shalat-shalat tersebut diadakan sendiri oleh beberapa muslim yang berada di daerah itu.
Jadwal waktu shalat lima waktu ini pun akan berbeda dengan Indonesia yang waktu shalat lima waktunya agak teratur. Jadwal waktu shalat subuh misalnya, ada waktu di mana subuh masuk sekitar pukul 02.40, ada pula waktu di mana jadwal subuh masuk pukul 5.20. Karena itu pula, ada saat di mana Jepang mempunyai siang yang panjang, dan ada juga saat di mana siangnya pendek. Keadaan ini juga mempengaruhi jadwal dan lamanya puasa, baik itu puasa ramadhan ( yang beberapa tahun kedepan akan jatuh pada saat Jepang mempunyai siang yang panjang ) maupun puasa sunat bagi teman-teman yang sering mengamalkannya. Di asrama untuk keperluan penanda sholat lima waktu serta waktu sahur dan buka puasa, saya menggunakan software shollu yang akan secara otomatis mengumandangkan adzan jika waktu sholat tiba.
Selanjutnya, pada umumnya orang-orang Jepang sebenarnya sangat menghargai keberadaan kita sebagai pemeluk agama islam. Peraturan bahwa daging babi dan sake dan sejenisnya adalah haram bagi orang islam diketahui oleh kebanyakan orang jepang dan setiap mengadakan kegiatan-kegiatan yang mengundang kaum muslim, makanan-makanan dan minuman-minuman biasanya akan dipisah antara yang haram dan yang tidak haram. Akan tetapi, mereka akan menghargai keberadaan kita sebagai muslim ketika kita konsisten dengan apa yang kita katakan sebelumnya. Ketika mengatakan bahwa sake dan daging babi tidak boleh dimakan, maka tetaplah konsisten dengan keharaman makanan tersebut. Mereka akan sangat tidak senang ketika pada pertemuan pertama kita mengatakan bahwa minuman beralkohol ini haram, dan pada pertemuan selanjutnya, kita meminum minuman itu.
Begitu pula ketika teman-teman ingin membeli ataupun memakan makanan-makanan dan minuman-minuman yang dijual di toko-toko di jepang. Untuk daging, karena di Jepang dagingnya disembelih dengan tidak menggunakan cara yang diajarkan oleh islam, maka semua daging (kecuali daging ikan tentunya, )menjadi haram.\



Friday, January 29, 2010
Kiat Melamar Beasiswa ke Jepang

Oleh: Dr Jumiarti Agus
JAKARTA, KOMPAS.com — Setiap orang punya kiat berbeda, namun tetap saja kiat umum yang dilakukan lebih kurang sama. Alhasil, begitu Anda memutuskan memilih Jepang sebagai tempat studi dan berjuang mendapatkan gelar profesor, tahapan pertama yang harus dilalui adalah mengumpulkan sebanyak-banyaknya informasi.
Sama halnya ketika ingin mencari pekerjaan, tentu Anda pun harus tahu tentang perusahaan yang akan dilamar. Begitu juga ketika memutuskan untuk studi ke Jepang, mulailah mengumpulkan dan menggali informasi lebih luas dan dalam. Bisa saja informasi oral dari seseorang yang pernah sekolah di Jepang, melalui buku, internet, surat kabar, dan sebagainya. Informasi tersebut, misalnya, mulai tentang dinamika sekolah di Jepang, suka dan duka sekolah di negeri orang, biaya, dan lain-lainnya.
Budaya dan perilaku orang Jepang
Sangat penting mengetahui budaya, perilaku, dan karakter orang Jepang. Hal tersebut sangat erat hubungannya dengan adaptasi Anda kelak, baik di sekolah maupun di lingkungan tempat tinggal. Dengan demikian, akhirnya Anda tidak terkaget-kaget ketika hidup di Jepang. Banyak yang tidak bisa survive studi dan hidup di Jepang hanya lantaran tidak berhasil beradaptasi.
Sistem pendidikan
Sebaiknya Anda juga harus mengetahui informasi khusus terkait pilihan studi, baik untuk jenjang D-3, S-1, S-2, maupun S-3. Pelajari juga sistem pendidikannya karena masing-masing tingkatan sangat berbeda, misalnya di Tanah Air, S-1, S-2, dan S-3 merasakan kuliah di dalam kelas.
Di Jepang, mahasiswa S-3 tidak perlu mengambil kelas. Untuk lulus S-3, Anda harus mampu membuat publikasi di jurnal internasional, sesuai dengan persyaratan di departemen Anda dan masih banyak lagi hal lain.
Informasi tentang beasiswa
Anda juga harus mencari informasi-informasi tentang beasiswa yang tersedia. Bisa didapatkan di kedutaan besar, melalui koran, internet, melalui situs perguruan tinggi di Jepang, atau mendatangi presentasi beasiswa yang sering dilakukan di Tanah Air. Silakan mempelajari semua informasi dan persyaratan untuk melamar beasiswa tersebut, yang salah satunya bisa dilihat di Kompas.com ini edukasi.kompas.com/beasiswa.
Informasi tentang iklim
Terbentang membentuk busur pada arah barat laut Samudra Pasifik di tepi timur Benua Eurasia, negara Jepang terdiri dari pulau-pulau besar dan kecil, dengan luas sekitar 378.000 km² membentang dari selatan ke utara sepanjang 2.500 km dan terletak pada sekitar 20°-46° LU. Pulau-pulau utamanya adalah Hokkaido, Honshu, Shikoku, Kyushu, dan Okinawa.
Honshu terbagi dalam 5 daerah, yaitu Tohoku, Kanto, Chubu, Kinki, dan Chugoku. Sekitar tiga perempat dari daratan Japang terdiri atas daerah pegunungan dan perbukitan, sedangkan tanah datar yang tersedia untuk lahan dan pengembangan kota sangat terbatas. Di daerah yang terbatas inilah tinggal lebih kurang 130 juta penduduk.
Iklim Jepang berubah dengan pergantian 4 musim yang jelas karena Jepang terletak hampir di pusat daerah beriklim sedang. Musim semi dan musim gugur sangat nyaman. Pada musim panas (Juli-Agustus) angin bertiup dari Samudra Pasifik sehingga menjadikan Jepang sangat panas. Sebaliknya, pada musim dingin (Desember-Februari) angin bertiup dari daratan dan menjadikan Jepang sangat dingin.
Di Kepulauan Hokkaido, pada bulan Juni berlangsung tsuyu (musim hujan) dan hampir setiap hari turun hujan. Di samping itu, karena kepulauan Jepang memiliki struktur daratan yang rumit dan memanjang dari selatan ke utara, adanya perbedaan iklim yang mencolok antardaerah merupakan kekhasan tersendiri.
Di Hokkaido dan Honshu sekitar Laut Jepang, pada musim dingin curah saljunya tinggi. Dengan memanfaatkan perubahan musim seperti ini, berbagai macam olahraga pantai dan olahraga musim dingin bisa dinikmati dengan menyenangkan.
Musim dingin sangat dingin dan musim panas pun sangat panas. Untuk hal ini dibutuhkan kondisi fisik yang kuat. Oleh karena itu, kondisi fisik yang sehat adalah suatu persyaratan mutlak yang harus Anda penuhi.
Dus, jangan Anda membohongi kondisi kesehatan Anda! Khususnya pada saat Anda melakukan pengisian formulir beasiswa. Dalam beberapa kasus, mahasiswa mengundurkan diri karena alasan kesehatan. Untuk itu, semakin dalam Anda mengetahui informasi yang sudah semestinya Anda ketahui, semakin besar pula semangat juang dan kesempatan mendapatkan beasiswa dan studi di Jepang.
Penulis adalah alumnus Tokyo Institute of Technology dan Peneliti di Aku Cinta Indonesia Kita (ACIKITA) di Tokyo, Jepang
Setelah menghimpun informasi mengenai budaya dan perilaku orang Jepang, sistem pendidikannya, serta informasi tentang beasiswa di sana, kini Anda harus membuat keputusan. Tanyakan secara serius pada diri Anda, apakah Anda benar-benar siap dan tertarik studi di Jepang?
Bila ada hal yang tidak bisa Anda penuhi, sementara hal itu merupakan syarat mutlak, mungkin lebih baik Anda mencari beasiswa di negara lain. Namun, jika Anda sangat teguh dan mantap, lanjutkan perjuangan Anda. Ini tahapannya:
Studi D-3 dan S-1
Anda harus tahu jenis beasiswa yang tersedia. Untuk S-1 ada beasiswa dari Monbukagakusho, Mitsui, serta dari Departemen Transmigrasi. Namun untuk D-3, sejauh ini hanya ada beasiswa dari Monbukagakusho.
Semua beasiswa tersebut bisa dilamar di negara asal. Silahkan pelajari di situs-situs terkait pemberi beasiswa di atas. Seleksi biasanya mulai dari seleksi administrasi, tes kemampuan akademik dan terakhir wawancara. Detilnya? Nanti akan dibahas dalam kiat-kiat mendapatkan beasiswa S-1.
Studi S-2 dan S-3
Khusus untuk melamar beasiswa program S-2 dan S-3, Anda harus mengikuti beberapa tahapan berikut. Umumnya, antara satu beasiswa dan beasiswa lain baik yang berasal baik dari Pemerintah Jepang maupun perusahaan Jepang untuk studi S-2 dan S-3, memiliki persyaratan yang hampir sama. Langkah-langkahnya antara lain:
- Pelajari dulu beasiswa yang akan Anda lamar.
Pahami semua persyaratan dan prosedur aplikasinya. Catat tanggal-tanggal penting dan tidak boleh dilupakan. Hal ini agar Anda tidak terlambat dalam proses seleksi beasiswa tersebut. Beberapa beasiswa untuk S-2 dan S-3 misalnya adalah Monbukagakusho, Panasonic, Hitachi, dan lain-lainnya.
- Tentukan minat Anda (Mencari Profesor)
Berbeda dengan sistem pendidikan di Indonesia, melamar masuk S-2 dan S-3 tidak melalui pintu universitas, melainkan lewat seorang profesor pembimbing. Ya, profesor adalah gerbang untuk Anda memasuki sebuah universitas. Artinya, jika sudah diterima oleh professor, kurang lebih Anda akan diterima di universitas, karena professor akan berjuang untuk Anda agar bisa masuk universitas.
Di Jepang, bidang-bidang kajian/penelitian dilakukan secara spesifik. Sangat jarang orang menyebut laboratoriumnya seperti di negara kita, misalnya laboratorium kimia organik, kimia analitik, atau biokimia, dan sebagainya. Hal itu disebabkan karena sudah sangat berkembanganya riset dan penelitian di tingkat perguruan tinggi di Jepang.
Sebutlah, misalnya, bidang biokimia yang akan berkembang menjadi departemen bioscience, bioengineering, atau bioprotein, dan lain-lainnya. Departemen-departemen ini masing-masing terdiri dari banyak laboratorium dengan beragam penelitian yang spesifik dan mendalam. Hal itu menyebabkan riset di perguruan tinggi di Jepang terpakai di banyak industri di negaranya sendiri.
Namun, untuk menentukan minat Anda dalam rangka mendapatkan seorang profesor, pelajarilah lebih dulu homepage salah satu universitas di Jepang. Bila masih blank, Anda bisa memulainya dari universitas terkenal seperti Tokyo University, Tokyo Institute of Technology, Kyoto University, dan masih banyak lainnya.
Dari situs universitas-universitas itu, Anda kemudian masuk ke situs departemen yang ada. Akhirnya, di situlah Anda bisa membuka homepage masing-masing milik para profesor, baik yang masih berdekatan dengan minat atau penelitian Anda di Indonesia atau justeru bidang yang ingin Anda pelajari.
Anda juga dapat langsung membuka situs researcher. Di sana Anda akan menemukan beragam informasi tentang bidang yang Anda cari dan sekaligus professor yang sesuai dengan bidang Anda.
Bila semua langkah di atas sudah Anda penuhi dan Anda merasa menemukan bidang yang cocok, Anda sebaiknya mencatat dan memelihara alamat itu dengan baik. Bagi Anda yang telah mempunyai profesor, apakah melalui rekomendasi pembimbing di Indonesia atau kolega di Jepang, tentu tahapannya akan lebih gampang.
Seperti diketahui, "posisi" seorang profesor di Jepang sangat penting sebagai pintu masuk ke universitas. Beruntungnya, banyak cara untuk mengejarnya, baik itu melalui rekomendasi kolega dekat atau dosen pembimbing di Indonesia yang mempunyai hubungan kerjasama dengan profesor terkait di Jepang.
Cara lainnya bisa juga ditempuh dengan mengunjungi situs-situs seperti Directory Database of Research and Development Activities atau Humanities Web Sites. Atau, bisa juga mencarinya melalui jurnal atau publikasi ilmiah, momen-momen ilmiah seperti seminar dan kongres, serta dari brosur-brosur yang sering ditempelkan di universitas untuk suatu keperluan tertentu.
Searching di internet, semisal lewat Google, juga bisa dilakukan dengan menggunakan kata-kata kunci tertentu sesuai spesifikasi atau minat keilmuan Anda. Beberapa milis beasiswa atau milis-milis Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) juga bisa Anda manfaatkan sebagai media pencarian informasi, apalagi milis adalah media komunikasi yang bisa digunakan langsung untuk bertukar informasi.
Mengeksplorasi homepage Profesor
Selanjutnya, eksplorasi penelitian dan publikasi profesor yang Anda minati itu. Khususkan dan fokuskan waktu Anda untuk mempelajari homepage profesor tersebut, sehingga akhirnya Anda mantap untuk mendalami dan mempelajari suatu bagian kecil dalam lingkup penelitiannya.
Biasanya, ada list jurnal yang telah dipublikasi dalam homepage profesor tersebut. Untuk itu, silahkan download dan pelajari. Dengan begitu, kelak Anda memunyai banyak bahan dalam berkomunikasi dengan sang profesor.
Selain itu, akan bagus sekali jika Anda pun mempersiapkan proposal dan memasukkan juga publikasi profesor tersebut ke dalam daftar referensi yang Anda rujuk.
Lakukan Komunikasi dan Pendekatan dengan Profesor
Biasanya, setiap profesor mencantumkan alamat email di situsnya. Maka, setelah banyak informasi Anda dapatkan dari homepage miliknya, mulailah untuk melayangkan surat kepadanya.
Anda bisa memulainya dengan perkenalan singkat tentang diri Anda, latar belakang pendidikan, serta bidang penelitian yang Anda geluti saat ini. Silahkan Anda mengungkapkan semuanya dalam kalimat yang cerdas, singkat, dan jelas.
Kebanyakan profesor sangat sibuk sekali, dan malas untuk membaca email yang terlalu panjang, apalagi pada tahapan perkenalan. Untuk itu, alangkah bagusnya bila bidang yang akan Anda pelajari tersebut beririsan dengan bidang penelitian profesor yang Anda tuju, sehingga komunikasi dapat mengarah pada ketertarikan Anda untuk belajar dengannya lebih lanjut.
Setelah komunikasi berjalan dan merasa sang profesor meresponnya dengan baik, ungkapkan ketertarikan dan keinginan kuat Anda untuk melanjutkan sekolah, ketertarikan untuk menjadi muridnya, dan sertakan alasan pasti memilih profesor tersebut sebagai pembimbing Anda.
Selanjutnya, Anda bisa mengirimkan hasil penelitian yang pernah Anda lakukan dengan dilengkapi proposal rencana penelitian yang akan Anda lakukan.
Meminta surat Latter of Acceptance
Umumnya, untuk melamar beasiswa ke Jepang dibutuhkan surat kesediaan professor sebagai pembimbing Anda. Untuk mendapatkan surat tersebut, akan lebih baik bila disertakan surat rekomendasi dari pembimbing di kampus atau atasan.
Mengingat profesor di Jepang sendiri tidak mengenal calon mahasiswanya, tampaknya cukup sulit untuk memberikan keputusan hanya berdasarkan dokumen saja. Selain itu, jarang sekali surat penerimaan sementara dari profesor diperoleh hanya melalui korespondensi singkat. Ya, perlu berkorespondensi berulang kali dan harus menunjukkan kesungguhan pada niat belajar Anda.
Tuesday, January 26, 2010
10 perilaku buruk penumpang KA di Jepang

Sebuah survei yang dilakukan oleh perusahaan kereta api Jepang, Association of Japanese Private Railways mengenai perilaku penumpang kereta api. Hasil survei menyimpulkan bahwa suara adalah masalah besar, dan suara keras percakapan serta musik dari headphone menempati posisi utama dan suara nada dering telepon genggam berada pada posisi keempat.
Selain itu, banyak orang asing yang naik kereta bawah tanah dan kereta cepat di Jepang mengeluh mengenai aksi main dorong dan desak yang dilakukan rombongan orang yang akan naik kereta dan keengganan untuk memberi kursi kepada orang yang lebih tua dan perempuan hamil.
Survei yang melibatkan 4.200 responden tersebut tersebut membuat daftar perilaku buruk yang sering dikeluhkan oleh penumpang kereta api. Ada 10 perilaku buruk yang sangat mengganggu penumpang lain sebagai berikut :
1. Suara berisik percakapan, yang menyebar ke mana-mana;
2. Suara musik dari headphone;
3. Cara penumpang duduk;
4. Nada dering telefon genggam dan berbicara di telefon;
5. Mendorong, mendesak ketika naik dan turun dari kereta;
6. Memakai make-up;
7. Buang sampah;
8. Duduk di lantai kereta;
9. Naik kereta dalam keadaan mabuk;
10. Naik kereta yang padat penumpang sambil mendorong kereta bayi.
Jika Anda berada di Jepang dan akan naik kereta api, jangan lakukan 10 perilaku tersebut di atas. Sepertinya daftarnya akan bertambah panjang jika survei tersebut dilakukan di Indonesia. PT. KAI harus lebih memperhatikan kenyamanan penumpang kereta api.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Entri Populer
-
Berapa persen dari Perempuan Jepang yg main film porno..??? sebuah artikel meyebutkan tempat penyewaan dan tempat penjualan AV SELALU PENUH ...
-
Haruna Ai (はるな愛) Ini cerita pada waktu Natal 2012, yang kebetulan pada malam itu saya menonton acara 嵐にしやがれXMASスペシャル (Arashi ni shiyagare X...
-
perbedaan jepang jaman dulu ma sekarang Mari kita lihat bagaimana arsitektur Jepang berubah dari akhir abad 19, awal abad ke-20 sampai hari ...
-
Anda pasti sudah tidak asing dengan kata "Samurai". Tapi jika anda berfikir Samurai adalah pedang, anda salah besar. Pedang panjan...
-
Seperti yang kita ketahui dari pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yang kita terima pada waktu masih duduk di bangku SD, mata uang negar...
