Showing posts with label Wawasan. Show all posts
Showing posts with label Wawasan. Show all posts

Monday, July 4, 2016

Tata krama membunyikan klakson di Jepang

KLAKSON bisa disebut sebagai perlengkapan standar. Dengan maksud agar Anda lebih nyaman dalam berkendaraan. Tentu saja, penggunaan klakson amat berkait dengan sopan santun di jalan.

Di Jepang, Eropa, atau Amerika, jarang sekali orang menggunakan klakson.

Coba perhatikan saat Anda sedang berada di jalanan Jepang, pasti jarang terdengar klakson kendaraan. Padahal, jalanannya cukup macet.

Kenapa ya? 


Tingginya rasa solidaritas, disiplin berlalu lintas memang faktor utama, dan memang disebagian wilayah seperti rumah sakit, pemukiman penduduk, sekolah dll, klakson sangat dilarang dibunyikan.

Orang Jepang hanya menggunakan/membunyikan klakson bila :
  1. Di traffic light ketika lampu sudah hijau tetapi kendaraan di depan tidak menyadarinya, maka sebagai pengingat mereka membunyikan klakson.
  2. Saat di situasi yang dianggap membahayakan, seperti ada pengendara ugal-ugalan.
  3. Sebagai ucapan terima kasih ketika diberi jalan (hanya di sebagian wilayah di Jepang).
Jadi meskipun macet, sangat tidak dianjurkan membunyikan klakson di Jepang, harus sabar menunggu. Kalau terlanjur membunyikan klakson, siap-siap saja mendapat makian atau dianggap orang tak punya santun.

Semacet ini orang tetap sabat menunggu

Kota yang bersih dari sampah, jalanan yang tertib kendaraan dan jarang suara klakson terdengar, membuat Jepang begitu nyaman untuk dikunjungi.

Sunday, June 12, 2016

Learn from Japan


LET'S LEARN FROM JAPAN
Read this beautiful Information about Japan

1. Did you know that Japanese children clean their schools every day for a quarter of an hour with teachers, which led to the emergence of a Japanese generation who is modest and keen on cleanliness.

2. Did you know that any Japanese citizen who has a dog must carry bag and special bags to pick up dog droppings. Hygiene and their eagerness to address cleanliness is part of Japanese ethics.

3. Did you know that hygiene worker in Japan is called "health engineer" and can command salary of USD 5000 to 8000 per month, and a cleaner is subjected to written and oral tests!!


4 Did you know that Japan does not have any natural resources, and they are exposed to hundreds of earthquakes a year but do not prevent her from becoming the second largest economy in the world?

5. Did you know that Hiroshima returned to what it was economically vibrant before the fall of the atomic bomb in just ten years?

6. Did you know that Japan prevents the use of mobile in trains, restaurants and indoor.

7. Did you know that in Japan students from the first to sixth primary year must learn ethics in dealing with people.

8. Did you know that the Japanese even though one of the richest people in the world but they do not have servants. The parents are responsible for the house and children.

9. Did you know that there is no examination from the first to the third primary level; because the goal of education is to instill concepts and character building, not just examination and indoctrination.

10. Did you know that the rate of delayed trains in Japan is about 7 seconds per year!! They appreciate the value of time, very punctual to minutes and seconds.

11. Did you know that children in schools brush their teeth (sterile) and clean their teeth after a meal at school; They maintain their health from an early age.

12. Did you know that students take half an hour to finish their meals to ensure right digestion When asked about this concern, they said: These students are the future of Japan.

PENDIDIKAN ANAK ALA JEPANG

Rahasia Pendidikan TK, SD, dan Daycare di Jepang
[Bisa Langsung Ditiru dan Dipraktekkan]
Suatu hari, saya dan seorang kawan mengantri di sebuah stasiun di kota Nara-Jepang. Tiba-tiba, kawan saya tersebut berseru sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah deretan panjang warga Jepang yang sedang berdiri mengantri sambil membaca buku.
Kita masyarakat beragama. Kita memiliki ayat dalam kitab suci yang memerintahkan kita untuk membaca. Lalu, kenapa malah mereka (masyarakat Jepang) yang notabene tidak beragama, justru yang gemar membaca? Seharusnya kita bisa lebih baik dari mereka.
Pertanyaan itu terus menghantui saya. Benar juga apa yang ia katakan. Kita memiliki aturan dan perintah untuk membaca dalam kitab suci. Namun, justru kebanyakan dari kita jarang mengamalkannya. Sedangkan masyarakat Jepang yang bisa dikatakan tidak beragama, justru mengamalkan ajaran-ajaran dari kitab suci kita. 

 Tak hanya ajaran untuk membaca, namun juga ajaran dalam menjaga kebersihan, kedisiplinan, ketertiban, hingga menjaga kenyamanan orang lain. Orang Jepang lebih mengamalkan ajaran-ajaran itu ketimbang kita.... (dikutip dari halaman 84). 

Lalu, adakah yang kurang tepat pada pendidikan di negara kita? Khususnya pendidikan anak, di mana karakter manusia dewasa terbentuk sejak anak-anak. Temukan berbagai rahasia pendidikan anak di Jepang dalam buku ini. Rahasia yang sebenarnya sangat mudah kita tiru dan terapkan di sekolah, daycare, maupun di rumah kita. 

Testimoni: 

 "...Buku yang sangat luar biasa. Saya banyak belajar dari buku ini. Karena saya juga mengagumi sistem pendidikan di Jepang. Semoga bisa menjadi pencerahan bagi para orang tua dan pendidik di Indonesia…” (Kak Seto, Tokoh Pemerhati Anak) 

 Buku ini membeberkan nilai-nilai positif dari pendidikan masyarakat Jepang yang bisa kita tiru bersama. Memang tidak semua budaya mereka sempurna. Namun, apabila kita bisa mengambil nilai-nilai positif yang mereka miliki, bukanlah mustahil kita bisa menjadi bangsa yang jauh lebih besar dan berakhlak mulia. (Dr. Berry Juliandi - Alumnus NAIST Jepang, Dosen IPB dan Chief and Editor Hayati Journal) 

Penulis : Saleha Juliandi, M.Si & Juniar Putri, S.Si 
ISBN : 978-602- 1277-195 
Tebal Buku : 200 halaman

Bagi yang ingin pesan buku ini bisa contact ke alamat email
layanankdj@gmail.com

Sunday, May 29, 2016

Arti memberikan tanda High beam di Jepang



Berbeda dengan Indonesia, di Jepang memberikan tanda high beam kepada mobil dari arah berlawanan berarti mempersilahkan mobil dari arah berlawanan tersebut melaju terlebih dahulu.

#lalulintasjepang #drivingsafely

Thursday, August 13, 2015

Budaya bunuh diri Jepang

Budaya bunuh diri di Jepang sudah ada sejak jaman dulu kala dan masih mendarah daging hingga sekarang.

Mengapa ada budaya yang negatif seperti itu?
Budaya negatif? Tidak juga, karena negatif atau positif itu tergantung dari sudut pandang mana...


Bukankah itu bertentangan dengan agama?
Agama? Tergantung juga pada apa hal yang diyakini dan dipegang teguh seseorang...

Bunuh diri = tidak bermoral?
Menurut saya bunuh diri bukan masalah moral, tetapi masalah mental seseorang.

Di Jepang, budaya bunuh diri lahir berawal dari semboyan atau prinsip hidup yang sangat keras, yaitu MENANG atau KALAH. Bila kalah maka harga diri mereka menjadi sangat rendah sehingga harus berakhir dengan kematian.


Berawal dari para Samurai yang bila mengalami kekalahan mereka mengadakan ritual Seppuku atau Harakiri (menusuk dengan katana pendek dan membelah perut sendiri hingga mati).

Tindakan ini biasanya dilakukan karena alasan harga diri, tanggung jawab karena gagal dalam tugas, kalah dalam peperangan sehingga sebelum dipermalukan karena akan ditangkap oleh pihak musuh, para pemimpinnya umum melakukan tindakan bunuh diri.

Seppuku dalam kondisi terdesak bisa dilakukan dengan instan, namun dalam kasus standard, umumnya dilakukan dengan ritual yang cukup panjang. Pelaku seppuku akan melakukannya dalam kondisi bersih, baik badan dengan cara mandi maupun pakaian yang serba putih.

Ritual ini tidak dilakukan seorang diri namun disaksikan oleh sejumlah orang serta di belakang pelaku juga berdiri seorang asistent yang bertugas untuk memenggal kepala si korban untuk menghindari penderitaan yang berkepanjangan !


Pada perang dunia kedua,

Para pilot pesawat melakukan Kamikaze dengan menabrakkan pesawatnya ke kapal Amerika di Pearl Harbour demi kemenangan, dan ketika Jepang menyerah kepada Amerika banyak tentara Jepang yang melakukan bunuh diri khususnya para petinggi militer atau sebagian yang tidak melakukan bunuh diri tidak kembali ke negara Jepang karena Malu.


Di jaman sekarang pun masih ada

The Deputy Mayor of Kobe yang bunuh diri karena merasa tidak mampu menjalankan tugas pemulihan kota Kobe pasca gempa bumi hebat tahun 1995.

Pejabat negara bunuh diri karena kasus korupsinya terbongkar. Contoh paling populer adalah yang dilakukan oleh Menteri Pertanian Jepang di tahun 2007, karena tersandung kasus korupsi. Kasus ini kemudian menyeret Kepala Mantan Green Resource Agency yang akhirnya juga memutuskan untuk mengambil jalan pintas untuk menyusul rekannya.


Dan akhir-akhir inipun motif bunuh diri menjadi beragam, seperti :
  • Kehilangan pekerjaan 
  • Usaha bangkrut 
  • Hutang piutang 
  • Gangguan kesehatan 
  • Masalah tekanan di lingkungan kerja 
  • Pergaulan dan masalah di lingkungan sekolah. 
  • Ijime atau bullying 
Khusus untuk motif bagian terakhir yaitu Ijime umumnya menimpa golongan pelajar atau anak anak. Ijime kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia artinya kurang lebih "diganggu, diejek, di olok olok atau diteror secara mental oleh orang lain" Orang lain yang dimaksud dalam hal ini umumnya adalah teman sendiri, kakak kelas atau bahkan guru pembimbing.


Menabrakkan diri adalah salah satu cara favorit

Melompat dari gedung tinggi, menabrakkan diri dengan kereta yang sedang melaju, menutup semua pintu mobil dan menghubungkan saluran knalpot kedalamnya adalah beberapa cara bunuh diri yang umum dilakukan disamping cara lain yang lebih konvesional yaitu gantung diri.

Selain "media favorit" seperti disebutkan di atas, ada juga "tempat fovorit" untuk melakukannya. Untuk kasus menabrakkan diri ke kereta api, jalur kereta api jurusan Chuo (Chuo Line) di Tokyo merupakan jalur kereta yang paling banyak dipilih, kemudian untuk area luar kota mereka sepakat memilih hutan Aokigahara yang terletak di kaki gunung Fuji !

Data tahun 1988, 1999 dan 2002 tercatat 30, 74 dan 78 kasus yang berarti terus meningkat dan semakin menjadikannya sebagai "tempat terfavorit untuk bunuh diri "dari tahun ke tahun.


Keluarga tetap harus bayar

Bunuh diri umumnya berarti menghilangkan nyawa diri sendiri. Segala beban dan permasalahan si korban mungkin akan selesai. Pihak keluarga yang ditinggalkan mungkin cuma akan direpotkan walau cuma sebatas biaya pemakaman saja.

Namun untuk kasus tertentu masalahnya mungkin tidaklah sesederhana itu. Untuk kasus bunuh diri seperti Jisin Jiko misalnya, yaitu menabrakkan diri ke kereta api, kasusnya akan menjadi sangat panjang dan berat terlebih lagi kalau dilakukan di jalur kerata yang padat.

Yang jelas selama beberapa jam pergerakan kereta di jalur tersebut akan berhenti, ratusan ribu atau bahkan jutaan penumpang akan terlantar atau dialihkan ke jalur lain. Situasi ini belum berhenti sampai disitu. Keluarga korban juga diharuskan membayar sejumlah uang denda untuk biaya bersih bersih dan konspensasi keterlambatan kereta.

Bayangkan, Ini namanya, cara bunuh diri bukan untuk mengakhiri masalah namun menambah masalah. Namun walaupun begitu setiap tahun kasus seperti ini selalu saja berulang.

Demikian juga untuk kasus lain seperti terjebak hutang pituang. Walaupun pelakunya sudah meninggal, hutang tidak akan lunas dengan sendirinya. Pihak keluargalah yang harus menanggungnya.


Bunuh diri dan asuransi 

Kebanyakan dari pelaku bunuh diri adalah pria dan alasan terbesarnya adalah karena masalah kehilangan pekerjaan. Hal yang menyedihkan dan terasa berat tentu saja saat seseorang harus berada dalam kondisi tanpa pekerjaan, terlebih lagi bagi seorang yang telah menikah.

Tanggung jawab dan harga diri sebagai seorang kepala keluarga jatuh dan sebagai ungkapan rasa malu karena merasa gagal melindungi keluarga tidak jarang para pria tersebut melakukan bunuh diri.

Karena di negara jaminan asuransi juga mencakup bunuh diri. Jumlah yang dibayar tidak tangung tanggung, sangat besar apalagi kalau dirupiahkan. Mungkinkah faktor ini yang menyebabkan banyaknya kasus bunuh diri di negara tersebut ? Bisa iya namun bisa juga tidak. Namun sepertinya dalam situasi normal tidak akan ada orang yang berniat mati demi uang.


Yakuza tidak mengenal kata bunuh diri

Kasus bunuh diri umumnya dilakukan oleh golongan ksatria pada jaman dulu dan masyarakat biasa pada masa sekarang.

Golongan preman, pelaku kriminal , golongan semacam Yakuza atau sejenisnya hampir tidak mengenal tradisi bunuh diri semacam ini. Ungkapan rasa tanggung jawab karena gagal dalam tugas untuk golongan ini tidaklah sampai berakhir dengan kematian atau membunuh diri sendiri tapi cukup dengan cara potong jari yang dalam bahasa yakuza disebut dengan Yubisume.

Ritual ini hanya dilakukan untuk tingkat kesalahan yang fatal dan umumnya jari yang dipotong dipilih yang paling kecil yaitu jari kelingking. Hal ini tentu saja merupakan suatu kasus ataupun fenomena unik yang sepertinya berlaku di negara mana saja.

Seorang rekan saya pernah mengatakan "Jadi orang itu jangan terlalu baik ataupun perasa, nanti bisa cepat mati". Kalau menunjuk pada kasus yang ada, sepertinya pendapat rekan saya itu ada benarnya juga. Jadi besar ataupun kecilnya kasus bunuh diri yang terjadi di negara lain sama sekali tidak bisa dipakai sebagai kesimpulan akhir tentang kondisi moral negara yang bersangkutan karena bisa jadi adalah sebaliknya. Namun kalau dikaitkan dengan masalah mental, ya saya cendrung menyetujuinya.


BUNUH DIRI DAN AGAMA

Kenapa kasus bunuh diri di negara Jepang sangat tinggi ?

Apa penyebabnya ?

Bagiamana dengan agama ?

Ini mungkin merupakan pertanyaan paling menarik. Tentu saja tidak bisa dipungkiri agama memberikan andil besar untuk meminimalkan kasus kasus bunuh diri.

Agama mengajarkan keseimbangan antara jasmani dan rohani, keduniawian dan dunia fana. Namun untuk kasus di negara Jepang atau di negara maju sepertinya ada sedikit hal yang perlu digaris bawahi.

Untuk kasus tertentu seperti hilangnya semangat hidup, masalah cinta ataupun kekosongan jiwa mungkin agama adalah salah satu jalan terbaik. Namun untuk kasus lain seperti hilangnya pekerjaan, bangkrut atau terjebak hutang piutang, agama sama sekali dianggap tidak bisa membantu.

Masalah hutang dan pekerjaan dianggap tidak akan hilang atau lunas hanya dengan sembahyang. Hidup di kota besar tanpa pekerjaan dan penghasilan, dikejar berbagai tagihan asuransi, sewa kamar dan pajak tentu bukanlah hal yang mudah dan cepat atau lembar mereka akan terlempar hidup dijalan sebagai gelandangan.

Parahnya lagi budaya bantu saudara, pinjam uang atau minta tumpangan tidur sangat tidak umum dilakukan oleh orang Jepang. Hal inilah yang sering memicu seseorang untuk menarik diri dari kehidupan yaitu dengan melakukan bunuh diri.

Bagi kebanyakan orang Jepang, bekerja adalah ibarat agama bagi mereka. Dengan bekerja maka hidup memiliki arti dan makna. Jadi di saat mereka kehilangan pekerjaan maka harga diri dan kebanggaan akan lenyap.

Itulah sebabnya kasus bunuh diri terbesar disebabkan oleh karena kehilangan pekerjaan. Dalam kondisi dan situasi normal, sepertinya tidak ada seorangpun yang berpikiran untuk melakukan tindakan konyol ini, namun dalam kondisi tertekan, stress dan bingung atau bahkan marah segala tindakan yang tidak masuk akalpun sepertinya adalah mungkin.


BUNUH DIRI DI INDONESIA 

Kasus bunuh diri di Jepang dan sering menjadi sorotan dari banyak orang namun kita sering lupa bahwa sebenarnya kasus bunuh diri ini juga cukup banyak terjadi di Indonesia.

Kasus ini seakan lepas dari sorotan mungkin salah satunya karena tidak adanya informasi yang transparan tentang hal ini. 16.000 orang pertahun ?

 Menurut guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, A Prayitno menyebutkan, berdasarkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization yang dihimpun tahun 2005-2007 sedikitnya 50.000 kasus bunuh diri di Indonesia.

Jadi kalau di rata ratakan adalah sekitar 16.600 an kasus pertahun atau 7,41 orang per 100.000 penduduk. Masih lebih rendah dari kasus di Jepang yaitu 24 orang per 100.000 penduduk. Sedangkan angka rata rata kasus bunuh diri di dunia (kalau tidak salah) adalah 14.5 orang per 100.000 penduduk. Jumlah yang tentu saja kecil kalau dibandingkan dengan kasus di negara Jepang.

Namun perlu dicatat bahwa jumlah ini belum termasuk korban yang meninggal akibat overdosis obat terlarang dan sejenisnya. Jadi kalau semua angka digabungkan maka jumlahnya akan menjadi fantastis.

Sedikit membingungkan juga, kenapa data ini justru harus dikutip dari WHO ?
Sepertinya kebanyakan kasus yang terjadi di Indonesia cendurng "ditutupi", baik oleh pihak keluarga maupun pihak lain. Hal yang wajar tentu saja, keluarga mana yang bangga kalau saudaranya meninggal karena bunuh diri.

Hal inilah menyebabkan sulitnya mendapatkan data yang akurat. Satu satunya daerah yang bisa memberikan data paling lengkap adalah Bali dan Jakarta, yang mencatat sebagai berikut.

  • Untuk daerah Bali pada periode Januari hingga 22 September 2005 yang mencapai 115 kasus bunuh diri, sedikit lebih rendah dari angka tahun sebelumnya (2004) yaitu tercatat 121. Dari rentang umur tercatat 82 pria (71%) dan perempuan 33 orang (29%). Sedangkan pelaku bunuh diri dari kelompok anak-anak usia 7 s/d 15 tahun tercatat ada 8 orang, usia lanjut juga 8 orang. 
  • Sedangkan untuk daerah Jakarta sepanjang 1995 s/d 2004 mencapai 5,8 orang per 100.000 penduduk. Kalau diasumsikan penduduk Jakarta adalah 7,72 juta jiwa (data tahun 2000 menurut sumber BPS DKI ) maka akan didapat angka sekitar 563 orang pertahun, Masih untuk kasus di Jakarta, mayoritas pelaku adalah kaum pria. Dari 1.119 korban bunuh diri, 41% di antaranya gantung diri, 23% dengan minum racun dan 256 sisanya overdosis. 
  • Sumber dari site Menkokesra ( www.menkokesra.co.id ) mencatat data lain sebagai berikut : "Berdasarkan data forensik FKUI/RSCM 1995-2004 terdapat 771 orang laki-laki bunuh diri dan 348 perempuan, jadi perbandingannya adalah sekitar 68% pria dan 32% wanita. Dari jumlah tersebut, 41% melakukan bunuh diri dengan cara gantung diri, dengan menggunakan insektisida 23% dan overdosis mencapai 356 orang . . . . . " 

Bagaimana dengan daerah lain ?

Nyaris tidak terdengar namun tentu saja bukan berarti tidak ada. Kalau seandainya berdasarkan data di atas yaitu 16.600 an kasus bunuh diri di Indonesia pertahun, kita kurangi dengan kasus yang ada di Bali dan Jakarta, serta dibagi 31 propinsi (minus Bali dan Jakarta), maka akan didapat angka sekitar 500 orang pertahun untuk setiap provinsi.
Tentu bukan merupakan angka yang bisa dibilang kecil.


Bom Bunuh Diri 

Kasus bunuh diri bisa jadi jumlahnya kecil di Indonesia, namun untuk kasus bunuh diri dengan menggunakan bahan peledak atau dengan kata lain juga berarti membunuh orang lain, kasusnya relatif tinggi di negara kita.

Kasus ini sepertinya cukup menghawatirkan karena bunuh diri cara ini akan memakan korban orang lain yang nyaris tidak ada sangkut pautnya dengan si pelaku.



Penutup, Kesimpulan dan Opini 


Masalah Mental 

Bunuh diri seperti halnya dengan korupsi, adalah merupakan masalah sosial yang tidak sederhana dan bisa terjadi di negara mana saja tidak hanya sebatas di negara jepang saja tapi juga (tanpa kita sadari) juga terjadi di Indonesia.

Disamping karena alasan mental, masalah lain seperti lingkungan, keluarga, kelompok, masyarakat dan juga budaya ikut mempengaruhi.


Seleksi Alam

Bunuh diri adalah ibarat seleksi alam. Ditengah persaingan hidup yang sangat ketat seperti di negara Jepang, seakan hanya memberikan 2 pilihan saja dalam hidup yaitu MENANG atau MATI. Tapi kehidupan terus berjalan maju dan seakan hanya menyisakan yang TERBAIK, sedangkan mereka yang "Lemah" dan menganggap diri tidak berguna terpaksa harus menyisihkan diri atau tahu diri.

Beruntunglah, kehidupan di negara kita tidaklah sekeras dan segila kehidupan di Jepang. Kondisi alam kita juga sangat bersahabat hangat sepanjang tahun sehingga sama sekali tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Tidak ada rasa cemas harus mati kedinginan di musim salju dan juga tidak ada yang namanya hantu pajak yang selalu menuntut harus dibayar. Jadi dengan kondisi seperti ini budaya aneh semacam ini tampaknya tidak akan mungkin menular ke negeri kita.


Agama sebagai salah satu solusi dan pemicu

Tentang agama, sepertinya sangat jelas yaitu merupakan salah satu solusi mengurangi kasus bunuh diri. Namun disisi lain harus diakui juga bahwa agama juga bisa memicu seseorang melakukan bunuh diri, contoh salah satunya adalah kasus bom bunuh diri seperti yang cukup sering terjadi di sejumlah tempat.


Referensi dan sumber
keranjangkecil.jp



Sunday, June 28, 2015

Bekerja illegal di Jepang.

Kebanyakan modus yang digunakan adalah dengan mengajukan visa sebagai turis. Apalagi dengan E-passport memudahkan sekali untuk mendapatkan visa tourist.

Begitu visa di tangan, berangkat sebagai turis (paling lama visa hanya berlaku 3 bulan), kemudian overstay (OS) untuk bekerja.

Atau bisa juga dengan visa keluarga, pelajar dan yang paling banyak adalah visa training (Kenshusei). Tapi setelah visa mereka habis, karena alasan tertentu misalnya target keuangan belum tercapai atau di Indonesia nggak ada kerjaan mereka kabur, tidak pulang ke Indonesia.

Perlu diketahui bahwa dengan status sebagai pekerja illegal sangat tidak nyaman. Tidak dapat menetap (nomaden) dan selalu saja dihantui oleh bayang-bayang petugas imigrasi yang akan menangkap. Tidak jarang, hasil keringat setelah kerja beberapa lama bisa hilang begitu saja untuk menghindari petugas.

Hal terburuk kalau tertangkap, akan masuk penjara, kena denda dan harus dibayar (kurang lebih 300.000 yen), dideportasi dan nama anda masuk blacklist tidak dapat kembali ke Jepang selama 5 tahun.

Bagi yang illegal dan ingin segera pulang satu-satunya cara menyerahkan diri ke kantor imigrasi dan mengajukan "Departure Order System).
Dengan cara ini tidak akan kena denda dan blacklist hanya 1 tahun.
Tapi syaratnya, harus meninggalkan Jepang segera mungkin, yang dulu tidak pernah dideportasi dan tidak ada catatan kriminalitas selama di Jepang.

Bagi yang illegal dan ingin jadi legal, satu-satunya cara Get Married with Japanese people atau mengajukan permohonan visa suaka hukum.

Secara umum seperti itu, saya tidak bisa cerita secara spesifik disini. Bisa seluas samudera nanti tulisan saya.

Jadi saran saya lebih baik cari yang legal saja. Tidur tenang, tidak takut jalan-jalan ke tempat umum, tidak takut digrebek polisi, dll.

Lebih bebas deh. Dan yang penting tidak membuat jelek image negara Indonesia di Jepang.





Komunitas Orang Indonesia di Jepang

Komunitas Orang Indonesia di Jepang 
Dikelompokkan menurut Status atau Pekerjaannya

  1. Komunitas Pekerja Magang (Kenshusei/Jisshusei)
    Merupakan jumlah terbesar dan terbanyak. Magang terjemahan bebasnya adalah training atau kerja praktek. Jadi jangka waktu mereka dibatasi antara 1-3 tahun saja dan tidak bisa diperpanjang sehingga arus perputaran dan tenaga kerja ini sangat tinggi. Keberadaan mereka umumnya bisa ditemukan dengan mudah di sekitar daerah industri atau kadang di pusat keramaian dan pertokoan elektronik. Tentu saja karena jam kerja yang sangat padat dan hari libur yang terbatas, aktivitas kumpul kumpul ini tidak bisa mereka lakukan secara rutin.

  2. Komunitas Pelajar / mahasiswa
    Kelompok terbesar ke dua mungkin adalah pelajar atau mahasiswa. Sebagian besar diantaranya adalah golongan muda yang mendapatkan beasiswa baik dari pemerintah Jepang maupun swasta dan sebagian lagi adalah para dosen atau pegawai negeri yang mendapat tugas belajar dari instansinya. Dibandingkan dengan kelompok pekerja magang, kolompok ini relatif lebih mudah ditemukan. Kelompok ini merupakan satu satunya yang memiliki perkumpulan atau organisasi tunggal yaitu PPI sehingga aktivitas ataupun keberadaan mereka lebih menonjol dibandingan dengan kelompok lainnya.

  3. Komunitas Pekerja Tetap
    Yang dimaksud dengan pekerja tetap adalah adalah mereka yang bersatatus sebagai pekerja atau karyawan tetap di salah satu perusahaan Jepang atau perusahaan asing. Hampir bisa dipastikan bahwa kelompok ini adalah para pekerja profesional yang memiliki skil tinggi dan sebagian lagi adalah lulusan dari universitas di negara tersebut. Jumlah mereka relatif sangat sedikit.

  4. Komunitas Pegawai Pemerintah
    Terdiri dari para konsul, staff kedutaan, manager BUMN beserta staff seperti BNI dan Garuda.

  5. Komunitas Keturunan Jepang
    Mereka adalah orang-orang yang mempunyai darah keturunan Jepang minimal kakek atau nenek mereka adalah warga negara Jepang. 

  6. Komunitas Spouse Visa
    Merupakan orang Indonesia yang tinggal di Jepang karena menikah dengan penduduk lokal. Jumlah mereka relatif sangat kecil dan sedikit susah ditemukan karena umumnya berbaur dengan penduduk setempat. Kemudian dari segi visa, golongan ini memiliki sedikit keistimewaan yaitu bebas bekerja di bidang apa saja jadi kebanyakan dari mereka berstatus sebagai pekerja tetap. Keistimewaan yang lain setelah mendapat visa permanent resident dan tinggal lebih dari 10 tahun mereka dapat mengajukan permohonan naturalisasi menjadi warga negara Jepang.

  7. Komunitas Pekerja Illegal
    Tidak ada catatan pasti tentang jumlah pekerja ini namun disinyalir jumlahnya cukup besar. Mereka umumnya adalah pekerja magang yang melarikan diri dari pekerjaannya atau tidak mau kembali (melarikan diri) saat visa magangnya berakhir. Tentu saja, dengan status sebagai pekerja ilegal, mereka nyaris tidak bisa menuntut banyak pada pihak perusahaan seperti gaji atau asuransi kecelakaan. Mereka juga tidak memiliki surat atau dokumen resmi apapun yang masih berlaku, sehingga harapan untuk kembali ke Indonesia adalah hanya dengan satu cara yaitu menyerahkan diri ke pihak kepolisian.

Termasuk di komunitas nomer berapakah anda?
-RGKdJ-
di komunitas no 6



Wednesday, May 27, 2015

Peraturan nonton konser di Jepang

One OK ROCK
in Japan No Smartphone, Tab or Camera
Outside Japan What the Hell Smartphone everywhere

Summer is come, yah karena lagi musim panas banyak sekali festival musik atau konser di Jepang. Mulai dari Summer Sonic, Fuji Rock, belum lagi solo konser band atau penyanyi.
Kali ini saya akan membahas tentang nonton konser di Jepang.

Barang yang wajib dibawa 
  1. Baju ganti, ketika konser telah selesai ada waktunya baju kita basah karena keringat. Apalagi kalau konser musiknya bergenre rock dan all standing.
  2. Handuk, untuk mengusap keringat. Tidak perlu kuatir biasanya ada yang jual handuk khusus merchandise band di tempat konser.
  3. Uang receh, untuk beli minum.

Saran
  1. Pakai sepatu jangan sandal, supaya kalau lompat lompat kaki tidak terinjak orang sebelah.
  2. Jangan memakai aksesoris yang berlebihan.
  3. Jangan membawa tas besar yang tidak perlu karena dapat mengganggu orang lain. Lebih baik dititipkan atau masukkan di koin loker.




Manner 
  1. Smartphone wajib di silence mode.
  2. Dilarang bawa kamera dan mengambil gambar atau video di dalam ruangan saat konser berlangsung. Untuk band dari luar Jepang biasanya hanya diperbolehkan untuk mengambil gambar dari Smartphone. Hati-hati kalau melanggar yang satu ini, anda bisa diusir keluar dari tempat konser.
  3. Untuk wanita yang berambut panjang, lebih baik rambutnya di kuncir supaya tidak mengganggu orang di sebelah karena terpaan rambut anda.
  4. Jangan melakukan chikan saat konser berlangsung.
  5. Jangan memakai topi besar atau sesuatu di kepala yang dapat menghalangi pandangan orang di belakang.
Ada alasan tertentu mengapa bila artis Jepang konser terutama di Jepang tidak diperbolehkan mengambil foto atau video saat konser berlangsung, yaitu agar setiap orang yang datang ke konser dapat menikmati dan bersenang-senang secara totalitas sampai puas.


Monday, May 18, 2015

Sampah botol plastik di Jepang

Tempat sampah di Service Area (SA)
Aichi Prefektur
Membuang sampah di Jepang khusus untuk membuang botol plastik, tutup botol dan botol harus dibuka dan dibuang secara terpisah dan tentunya harus dibuang di tempat sampah bertuliskan petto botoru.

Mengapa?

Hal ini  karena bahan botol plastik dan tutup botol berbeda. Berbeda bahannya berbeda pula cara recycle atau daur ulangnya.

Pada umumnya botol plastik terbuat dari Polyethylene Terephthalate (PET, PETE atau polyester).

Sedangkan untuk tutup botol plastik terbuat dari Polypropylene atau Polyethylene.



Simbol Polythylene Terephthalate 
yang biasanya tercantum di botol plastik

Selain itu di Jepang ada program ECOCAP MOVEMENT yang dimana program itu bertujuan untuk membantu anak-anak yang kurang beruntung (kesehatan).


Untuk 800 buah tutup botol dihargai seharga ¥20 (Rp.2100an).

Uang itulah yang nantinya disumbangkan ke sebuah yayasan yang mengelola uang tersebut untuk pengobatan/pemberian vaksin kepada anak-anak yang kurang beruntung.





Marilah buang sampah pada tempatnya.


Baca juga artikel Peraturan buang sampah di Jepang


Wednesday, May 13, 2015

Manner pejalan kaki di Jepang

Sumber gambar google
Ketika saya membuka Facebook, terbaca status teman yang dulu pernah study di Jepang dan sekarang tinggal di Indonesia yang kelihatan kesal sekali karena pejalan kaki di Indonesia jalannya lambat sambil lihat BB atau Smartphone mereka.

Seakan-akan pejalan kaki di Indonesia tidak peduli atas pejalan kaki lain yang sedang terburu-buru, terutama di jembatan bus way.

Saya komen, "Ambil jalur kanan saja".

Dan dia menjawab, "Percuma. Orang-orang sini kagak ada yang punya manner kayak disana."

Kembali ke Jepang...

Di Jepang, pejalan kaki juga punya manner atau aturan tidak tertulis, dimana selalu mendahulukan dan memberi jalan bagi orang yang sedang terburu-buru.

Terutama di stasiun, bila naik ekskalator atau tangga berjalan, jalur kiri untuk orang yang tidak buru-buru, sedangkan jalur kanan untuk orang yang terburu-buru (wilayah Kanto, untuk wilayah Kansai sebaliknya).

Jadi jangan salah jalur, karena menyalahi aturan yang tak tertulis. Yang melanggar tentu saja akan menghadapi rasa MALU.

Jadi istilahnya sesama pejalan kaki harus tidak egois, dan menghormati kepentingan orang yang terburu-buru.

Entah mengapa pejalan kaki di Indonesia tidak mempunyai manner seperti itu. Barangkali mereka yang terburu-buru mempunyai kepentingan yang sangat penting yang dapat merubah hidup mereka.

Sebaliknya bila kita sedang terburu-buru pasti kesal jugakan kalau jalan kita dihalangi oleh orang-orang yang tidak tahu MALU.


Wednesday, May 6, 2015

HP di Jepang


Karena banyak yang menanyakan tentang HP di Jepang, saya jadi tergelitik untuk sharing sedikit masalah HP di Jepang.

Di Jepang, membeli/menggunakan HP sama seperti memasang telepon rumah.

Kenapa begitu.???

Karena jika mau membeli/memakai HP, maka konsumen harus datang ke toko-toko provider yang sudah dipilih. Beberapa diantaranya ada: DOCOMO, Soft Bank, au dll.

Lalu membuat kontrak. Setelah datang ke toko provider, lalu konsumen memilih jenis HP yang ingin dipakai, setelah itu baru membuat kontrak baru untuk aktivasi dan mendapatkan nomor HPnya.

Waktu membuat kontrak-pun, para konsumen diharuskan memenuhi syarat-syarat yang sudah diajukan, seperti; harus ada hanko, ada/menunjukkan ID card (SIM/Passport/ID lainnya) alamat tempat tinggal, nomor rekening di Bank/Credit Card, dan beberapa persyaratan lainnya.

Hampir sama seperti di Indonesia waktu mau memasang telepon rumah. Cuma kalau membuat kontrak penggunaan/pembelian HP di Jepang ada masanya, bisa satu tahun, dua tahun atau lebih. Tapi ada juga yang kurang dari satu tahun.

Kalau sahabat KDJ yang di Indonesia mau ganti HP atau mau beli HP baru, biasanya bilang; "Yuk, ke toko HP Cellular Sinyal Lancar Jaya Abadi Selamanya Tanpa Beli Pulsa", misalnya.

Nah lain kalau di Jepang mau beli HP baru/ganti HP, bilangnya; "Yuk, ke Docomo, Soft Bank, atau au dll. Yang notabene mereka adalah bukan toko HP, melainkan toko provider.

Jadi mereka jual provider, dan HP menjadi pilihan kedua setelah memilih provider. Biasanya masing-masing provider menyediakan tipe-tipe HP andalan tertentu sebagai pilihan.

HP-HP di Jepang semua menggunakan sistem pasca bayar, jadi pembayarannya setiap satu bulan sekali, dan tidak ada yang pra bayar. Jadi di Jepang tidak ada counter-counter pulsa.

Dengan menggunakan sistem seperti ini, para konsumen/pengguna HP di Jepang tidak bisa seenaknya gonta-ganti nomor seperti di Indonesia. Karena HP-nya tidak menggunakan SIM card.

Segi positifnya dari sistem ini, di Jepang hampir tidak ada penipuan melalui SMS/telpon; Seperti SMS/telpon penipuan menang undian helikopter, minta dikirimi pulsa, minta ditransfer angpao dll. Dan juga hampir tidak ada pencurian HP. Karena semua perusahaan provider di Jepang, menyimpan semua data-data pribadi pelanggannnya (pengguna HP tersebut).

Waktu itu ada juga diantara Sahabat KDJ yang di Indonesia salah tafsir, mereka mengira bahwa; DOCOMO, Soft Bank, au dll-nya adalah merek HP. Mereka itu bukan merek HP ya Sahabat KDJ, melainkan nama provider seperti kalau di Indonesia ada; Telkomsel, Indosat, Pro-XL dll.

Cuma biasanya kalau HP-HP yang disediakan oleh DOCOMO, otomatis nanti di cover HP-nya ada tulisan DOCOMO juga, jadi kesannya itu seperti merek HP, padahal bukan.

Seperti contoh waktu saya membuat kontrak baru dan memakai (membeli) Berry Hitam, di sana ada tulisan DOCOMO-nya, seperti yang terlihat di foto di bawah ini.

HP penulis

Lalu ada juga yang bertanya; "Katanya HP di Jepang murah-murah ya.???"

Iya, memang murah, tapi itu yang second alias bekas.

Kalau yang baru ya harganya tetap mahal, tidak jauh beda kok dengan di Indonesia. Dan HP second tadi, bisa dibeli di toko-toko tertentu (tapi ini-pun sangat jarang). Dan kalau mau pakai/aktivasi HP second tersebut, tentunya harus pergi ke toko provider seperti yang sudah saya sebutkan tadi, dan dengan syarat + ketentuan yang sama seperti membuat kontrak baru seperti yang sudah saya jelaskan di atas.

Oh ya, mungkin ada Sahabat KDJ yang di Jepang mau menambahkan mengenai HP dan penggunaan HP di Jepang.???

Silahkan dishare di sini ya untuk Sahabat kita di Indonesia.


7 September 2013
Penulis adalah admin page KdJ
 ~Widi Yokohama~



Bunga Ume dan Bunga Sakura

Penulis dan bunga ume
Tak terasa waktu berlalu, musim dingin akan segera berakhir dan musim semi sudah menanti.

Seperti di musim-musim semi yang terdahulu, salah satu hal yang ditunggu-tunggu adalah menikmati bunga sakura yang cantik bermekaran di bulan April, atau biasa disebut juga 'cherry blossoms'.

Tapi sebenarnya sebelum bunga sakura mekar ada tanaman yang sudah mekar terlebih dahulu di akhir musim dingin dan bunganya tidak kalah cantik dengan bunga sakura, bahkan bisa dibilang sangat mirip dengan bunga sakura.

Namanya bunga ume atau biasa disebut juga 'plum blossoms'.

Tak sedikit orang-orang dari luar Jepang yang terkecoh dengan kemiripan bunga ume dan bunga sakura. Untuk lebih mengenal bunga ume dan sakura, berikut ini saya berikan gambaran beberapa perbedaan antara bunga ume dengan bunga sakura.


☆ Bunga ume (plum blossoms)

  • Bunga ume mekar lebih awal daripada bunga sakura, yaitu antara pertengahan Febuari sampai awal Maret (akhir musim dingin).
  • Bunga ume tidak mempunyai tangkai bunga, sehingga bunganya seperti menempel pada batang pohon.
  • Satu kuntum hanya ada satu bunga, jadi terlihat lebih jarang/sedikit dibanding bunga sakura
  • Ujung kelopak bunganya berbentuk bundar dan cenderung lebih kecil dibanding bunga sakura
  • Bunga ume beraroma harum yang lembut.
  • Pohon ume menghasilkan buah plum/ume yang nantinya dijadikan umeboshi


☆ Bunga sakura (cherry blossoms)

  • Bunga sakura mekar pada pertengahan bulan April (awal pertengahan musim semi) 
  • Bunga sakura mempunyai tangkai bunga yang agak panjang dan terlihat seperti menjuntai dari batangnya 
  • Bunganya banyak bergerombol seperti buah anggur 
  • Ujung kelopak bunganya terpecah dua dan cenderung lebih lebar dibanding bunga ume 
  • Bunga sakura tidak beraroma 
  • Kebanyakan pohon sakura di Jepang tidak berbuah, akan tetapi ada satu jenis pohon sakura yang berbuah namanya sakuranbo dan dibudidayakan di Yamagata prefecture.


Oh ya Sahabat KDJ, kemarin saya sempat jalan-jalan ke Gunung Makuyama yang ada di Yugawara Town, Kanagawa Prefecture.

Dan kebetulan di sana sedang ada 'ume matsuri' atau 'festival bunga ume' yang sedang mekar.

Ume matsuri yang ada di Gunung Makuyama Yugawara-Town ini berlangsung dari akhir Februari sampai awal Maret.

Dan berikut ini saya sertakan beberapa foto plum blossoms atau bunga ume yang sedang bermekaran hasil jepretan kemarin.









Cantik dan indah bukan.???

8 Maret 2014
Penulis adalah admin page KdJ
☆Widi ~ Yokohama-Kanagawa☆


Tuesday, May 5, 2015

Buang sampah minyak di Jepang

Bubuk pengeras minyak Katameru Tenpuru 

Beberapa hari ini saya selalu masak bermacam-macam gorengan, tentu saja menggunakan minyak goreng.

Masak goreng pakai air, ya enggaklah..

Nah setelah goreng menggoreng, tahukah sahabat KdJ kalau di Jepang minyak bekas gorengan atau yang biasa disebut minyak jelantah itu TIDAK BOLEH atau DILARANG dibuang di wastafel atau di selokan..

Mengapa??

Alasan pertama adalah karena air dan minyak tidak bisa menyatu.
Dan tentunya bila dibuang di sungai atau selokan akan menjadi limbah yang membuat air menjadi kotor dan bahkan ikan atau makhluk hidup lainnya bakalan mati.

Seperti kasus kapal minyak tangker yang mengalami kebocoran sehingga banyak ikan di laut mati dan ekosistem laut menjadi rusak.

Begitu juga bila dibuang di sungai atau selokan.

Bila musim panas di Jepang jangan kaget, bila melihat banyak ikan koi beraneka warna yang indah menari-nari di selokan, karena memang air selokan limbahnya sedikit atau bisa dibilang tidak ada.

Alasan kedua adalah supaya melindungi air tanah tetap bersih.
Bila air yang ada di atas tanah (selokan dan sungai) bersih, otomatis air tanah juga ikut bersih, bukan?

Itulah SALAH SATU sebabnya air kran di Jepang bisa diminum langsung, sedikit menggunakan obat-obatan yang membuat air bersih, sehingga rasa dari air kran itu enak.

JADI BAGAIMANA CARANYA BUANG MINYAK JELANTAH???

Cara pertama adalah menggunakan bubuk pengeras minyak (KATAMERU TENPURU).

Setelah menggoreng, masukkan bubuk Katameru Tenpuru ke dalam minyak dan aduk sampai rata.
Setelah mendingin minyak akan menjadi keras seperti Jelly.
Setelah keras itulah dibuang di tempat sampah.

Cara kedua adalah minyak goreng bekas sebelum dibuang dimasukkan ke dalam botol plastik, dan ditutup rapat supaya tidak merembes keluar.

Tempat dan lokasi pembuangan sampah sudah ditentukan, kita harus membawa dan membuangnya disana.

Nah, apakah sahabat KdJ peduli dengan kebersihan air selokan atau sungai di sekitar tempat tinggal.

Bila ingin merubah Indonesia, harus dimulai dari diri sendiri dari hal yang kecil.

Buanglah sampah pada tempatnya

Tidak membuang sampah sembarangan terutama di selokan atau sungai.
Apalagi membuang bangkai binatang ke sungai.

Mari kita peduli terhadap kebersihan lingkungan kita (terutama selokan dan sungai) yuk.


Baca juga artikel Peraturan buang sampah di Jepang


Sunday, May 3, 2015

Peraturan Buang Sampah di Jepang

Plamfet peraturan buang sampah
Beberapa hari yang lalu saya menerima plamfet mengenai peraturan detail membuang sampah di Jepang.

Berbeda jauh dengan Indonesia, dimana membuang sampah apapun jenisnya tidak diseleksi hanya buang saja di tempat sampah, bahkan (maaf) bangkai tikus ataupun kucing pun ada di tempat sampah, maka di Jepang untuk membuang sampah harus dibagi menurut jenis sampah.

Membuang sampah di Jepang memang ribet dan merepotkan sekali, tetapi itulah yang membuat jalan dan sungai di Jepang bersih dan bebas dari polusi. 

Saya akan menjelaskan aturan-aturan secara detail bagaimana cara membuang sampah di Jepang, sebagai contohnya di wilayah tempat tinggal saya (Gifu shi) berdasarkan dari plamfet yang saya terima.

Sampah Biasa
Sampah Biasa
Di tempat saya tinggal "sampah biasa" (sampah sisa bahan makanan, tisu, kertas dan bahan yang bisa dibakar), diangkut oleh petugas sampah tiap 2 kali seminggu (hari Selasa dan Jumat). 

Sampah dibuang di tempat yang telah ditentukan sebelum jam 8.30, supaya dapat diangkut oleh petugas sampah.

Sebelum dibuang, sampah harus dimasukkan ke dalam kantong plastik transparan kemudian diikat dengan rapat. Kantong sampah berwarna atau bertuliskan daerah lain di Jepang tidak boleh digunakan.

Untuk sampah popok bayi, kotoran bayi setelah dibuang di WC harap dimasukkan ke kantong sampah.

Untuk sampah dari kebun, ranting pohon sebelum dimasukkan ke kantong sampah harap dipotong kurang dari 30 cm.

Bagi yang tidak mentaati peraturan membuang sampah, kantong sampah tidak akan diangkut dan akan ditempel label berwarna kuning.


Sampah Botol kaca, Plastik dan Kaleng
Botol kaca, botol plastik dan kaleng
Di tempat saya tinggal sampah botol kaca, botol plastik dan kaleng diangkut oleh petugas sampah sekali seminggu (hari Rabu).

Sampah dibuang di tempat yang telah ditentukan sebelum jam 8.30, supaya dapat diangkut oleh petugas sampah.

Sebelum dibuang, sampah harus dimasukkan ke dalam kantong plastik transparan kemudian diikat dengan rapat. Kantong sampah berwarna atau bertuliskan daerah lain di Jepang tidak boleh digunakan.

Botol kaca dan botol plastik dimasukkan di kantong sampah yang sama, sedang kaleng dimasukkan di kantong sampah yang lain.

Untuk botol kaca dan botol plastik, tutup botol harus dibuka kemudian bagian dalam botol kaca dan botol plastik harap dibersihkan dengan air sampai bersih. Setelah bersih masukkan botol kaca dan plastik tanpa tutup ke kantong sampah yang sama.

Untuk tutup botol plastik akan dibuang bersama dengan sampah minyak dan stereofom di tempat yang berbeda. Sedangkan untuk tutup botol yang lain dibuang bersama dengan sampah biasa.

Untuk kaleng, sebelum dimasukkan ke kantong sampah bagian dalam kaleng harap dicuci dengan bersih.

Sama seperti sampah biasa, bagi yang tidak mentaati peraturan membuang sampah, kantong sampah tidak akan diangkut dan akan ditempel label berwarna kuning.


Sampah Besar
Sampah besar petugas masuk rumah ambil barang 

Sampah besar dikumpulkan ditaruh di depan rumah supaya diambil petugas

Biaya untuk membuang sampah besar
Sampah besar adalah sampah yang berukuran besar seperti meja, kursi, sofa, payung, sepeda, karpet, radio, kipas angin dan lain-lain.

Untuk membuang sampah ini kita harus membayar dengan cara membeli stiker khusus atau kantong sampah khusus untuk sampah besar yang biasa dijual di Convenience Store atau City Hall.

Cara membuangnya kita harus menelepon terlebih dahulu ke pusat pengambilan sampah besar, memberi informasi sampah yang akan dibuang serta meminta informasi biaya, membeli stiker khusus, kemudian menempelkan stiker khusus ke sampah yang akan dibuang.

Pengambilan sampah besar ada 2 jenis, yaitu 
  1. Petugas datang secara khusus masuk ke rumah sesuai dengan waktu yang disepakati bersama untuk mengambil sampah.
  2. Petugas tidak masuk rumah, tetapi sampah dikumpulkan di depan rumah supaya petugas bisa mengangkut sampah sesuai dengan jadwal petugas mengangkut sampah.


Karena barang seperti mangkok, gelas, mainan anak, sepatu, alat-alat memasak, seterika, termos, jam dinding termasuk golongan sampah besar, untuk membuangnya harus membeli kantong sampah khusus.

Barang yang tidak bisa diangkut adalah spare part dari kendaraan bermotor (roda, aki, dll), barang yang mengandung gas (LPG, tabung pemadam api dll), piano dan lain-lain.

Untuk membuang barang tersebut harus menghubungi tempat penjualan (toko) dari barang tersebut.


Sampah Daur Ulang (Recycle)
Sampah recycle barang elektronik kecil
Sampah barang elektronik kecil yang bisa di daur ulang seperti telepon genggam, tablet, digital kamera, video kamera, dan lain-lain bisa dibuang gratis di kotak recycle yang disediakan di tempat khusus di masing-masing daerah.

Karena ukuran lubang kotak sudah ditentukan, jadi kita tidak bisa memasukkan barang yang lebih besar dari ukuran lubang kotak recycle.

Sampah recycle barang elektronik besar
Barang elektronik besar seperti televisi, AC, kulkas, mesin cuci dan lain-lain untuk membuangnya kita harus menghubungi Recycle Center.

Bila kita membeli baru, sebagai contoh beli TV baru. 

Untuk membuang TV lama kita cukup berkonsultasi dengan tempat kita membeli TV baru.
Ada kemungkinan TV lama kita akan diangkut dan dibuang secara gratis tidak dipungut biaya.

Bola lampu, neon dan baterai
Untuk bola lampu, neon dan baterai bisa dibuang di tempat yang telah ditentukan di atas.


Sampah minyak, Stereofoam dan Tutup botol plastik
Minyak, Stereofoam dan Tutup botol plastik.
Minyak goreng bekas sebelum dibuang dimasukkan ke dalam botol plastik, dan ditutup rapat supaya tidak merembes keluar.

Minyak goreng bekas juga bisa dibuang dengan cara lain, yaitu membeli obat pengeras minyak, setelah minyak bekas menjadi keras bisa dibuang di tempat sampah biasa.

Tempat dan lokasi pembuangan sampah sudah ditentukan, kita harus membawa dan membuangnya disana.

Untuk koran bekas, majalah, karton, buku, komik ada tempat pembuangan khusus di sekitar tempat tinggal anda. Jadi kita harus membawa dan membuangnya di sana.

Untuk buku dan komik bisa juga dijual kembali di toko recycle seperti Hard Off dan lain-lain.
Merepotkan juga bukan?

Bagi saya sangat sangat merepotkan, tapi karena semua orang disini mentaati peraturan membuang sampah maka hasilnya bisa dilihat.

Jepang sangat bersih dan indah.


Baca juga artikel Buang sampah di Jepang


Tilang di Jepang 2


Nagoya, 31 Desember 2013

Hari ini saya bener sial. 

Tempat ini adalah parkiran mobil saya setiap pagi ketika kerja paruh waktu (Arubaito) di salah satu Restoran di Nagoya. 

Kurang lebih 3 bulan saya selalu parkir disini tanpa di tilang. 

Namun hari ini nampaknya saya bernasib sial karna Mobil saya di tilang. Padahal di sekitarnya ada beberapa mobil lain namun kenapa mobil mereka tidak di tilang…

Hmmmmmm bingung. 

Sedikit sharing tentang metode tilang di Jepang, gambar disamping adalah surat tilang yang di tempel di depan kaca mobil saya. 

Tulisannya Kanji dan saya sama sekali tidak bisa membacanya. 

Di bagian bawah ada tulisan Bahasa Inggris yang kira-kira artinya saya harus membayar sejumlah uang atas illegal parking. 

Ilegal parking adalah salah satu pelanggaran lalu lintas yang masuk kategori tidak fatal alias pelanggaran ringan. 

Setelah mendapatkan surat tilang ini beberapa hari kemudian saya akan dikirimkan surat untuk membayaran pelanggaran tilang ini. 

Di tilang di Jepang menurut saya tidak nyesek di dada, karena prosedurnya sudah jelas dan uang denda masuk ke kas Negara. 

Namun berat banget mengeluarkan uang ke pemerintah jepang yang jumlahnya bisa buat beli sepatu baru Nike hihihihihihi.. yah namanya apes ambil hikmahnya saja. 

Tilang Illegal parking ini menurut saya paling ringan, kenapa? Karna saya tidak bertemu langsung dengan polisi yang melakukan tilang tersebut dan tidak dimintai SIM serta tidak dikurangi poin SIM. 

Di Jepang ada sistem pengurangan poin dalam SIM bagi pelanggar lalu lintas, semakin banyak poin yang diambil dari SIM kita, bisa menyebabkan SIM kita dicabut dan tidak boleh mengendarai kendaraan lagi. 

Untuuuung banget ga dikurangi poin apalagi sampai di cabut (ingat susahnya dapet SIM Jepang admin KDJ RGKdJ pasti tahu gimana susahnya hihihihihii).

Di Jepang ada musim-musim razia, yaitu:
1. Haru no Koutsuu Anzen Undo Kikan (Safety Drive Monitoring pada Musim Semi)
2. Aki no koutsuu Anzen Undo Kikan (Safety Drive Monitoring pada Musim Gugur)

Demikian sedikit sharing saya hari ini. 


Berhati-hatilah dalam berkendara.


Penulis adalah admin page KdJ
Rais - Nagoya



Saturday, May 2, 2015

Tilang di Jepang

Surat tilang tampak depan
Saya akan menceritakan pengalaman saya melanggar lalu lintas kemudian di tilang di Jepang. 

Kejadian ini sebenarnya terjadi bulan November 2014. 

Saat itu saya berangkat kerja menggunakan kendaraan roda 4, karena saya masuk malam jadi sekitar jam 16.00 saya berangkat dari rumah saya menuju ke tempat kerja saya yang berada di Mizuho shi Gifu ken.

Melewati jalan rute 21, saya melanggar lampu lalu lintas yang saat itu telah berubah dari warna kuning ke merah. 

Alhasil dari arah belakang ada mobil polisi atau biasa disebut orang Jepang "Pato kaa" (singkatan dari Patroli Car), mengejar dan menghampiri saya serta menyuruh saya ke pinggir jalan.

"Sial" pikir saya, ya apa boleh buat.
Polisi dengan sopan berbicara pada saya, dan meminta untuk menunjukkan SIM saya.

Karena saya bukan orang Jepang, saya mengeluarkan SIM dan Residence Card saya.

Polisi cukup terkejut, karena dia mengira saya orang Jepang.

Kemudian saya berkata, "Pak maaf, saya buru-buru neh, mau kerja".

"Oh begitu, baiklah saya akan secepatnya melakukan prosesnya".

Sumpret, saya bilang begitu supaya dibebasin, ternyata..... Argggggg...

Proses memang cepat, mungkin sekitar 5 menit.

Surat tilang tampak belakang
Saya kena kasus melanggar lampu merah atau orang Jepang bilang 信吾無視 (Shingo mushi), kena denda sebesar 9000 yen serta poin SIM saya yang awalnya 0 bertambah jadi 2 poin,

Sekedar informasi, bila melanggar lalu lintas di Jepang selain kena denda atau hukuman penjara juga menerima poin.

Bila poin terkumpul lebih dari 5 poin dalam jangka waktu 3 tahun maka SIM bisa ditidak berlakukan selama waktu tertentu atau biasa disebut 停止/teishi (bisa 30 hari, 60 hari, 90 hari tergantung pelanggaran yang dilakukan), bisa juga SIM dicabut dan tidak diberlakukan atau biasa disebut 取り消し(tori keshi).

Jumlah poin SIM Teishi dan Torikeshi

Hukuman paling berat adalah mengemudi sambil mabuk, hukumannya masuk penjara, denda dan SIM dicabut serta tidak diberlakukan atau biasa disebut 取り消し(tori keshi).

Tidak memiliki SIM tapi mengendarai kendaraan, hukumannya masuk penjara dan denda.

Info lebih lengkapnya bisa dibaca di sini.


Kembali ke kasus saya.

Pembayaran denda dilakukan di bank terdekat, jadi denda tidak dibayar pada waktu kena tilang seperti di Indonesia.

Aduh sayang banget, uang 9000 yen (sekitar Rp. 900 ribu) melayang percuma.

Yah itulah pengalaman saya ditilang di Jepang.

Semoga sahabat KdJ tidak mengalaminya ya.

Taatilah rambu-rambu lalu lintas

Entri Populer