Tuesday, July 5, 2011

Kapal Solar Firaun Ditemukan Ilmuan Jepang

Cyber Sabili-Kairo: Satu tim arkeolog Mesir dan Jepang menemukan kapal solar milik Firaun Khufu baru-baru ini yang terletak dekat piramid agung Giza.


Para tim akan melakukan proyek mengangkat 41 blok batu dengan rata-rata berat setiap batu 16 ton dan kemudian mengangkut sebuah kapal yang sudah terpendam selama 4.500 tahun lalu di dalam lubang bawah tanah.


Proyek itu menjadi fokus penelitian Departemen Dalam Negeri Mesir, delegasi dari Universitas Waseda di Jepang dan Institut Kapal Solar Jepang. Mereka sudah memulai penelitian ini sejak 2007.


Menteri Dalam Negeri Mesir, Zahi Hawass hadir dalam upacara pemindahan kapal tersebut dan mengatakan kepada wartawan bahwa kerja pengangkatan Kapal solar paling tua di dunia ini akan mengambil waktu sekitar empat tahun sebelum ia bisa dipamerkan kepada pengunjung.


Raja Khufu adalah salah satu Firaun diantara Firaun Mesir yang terkenal dalam dinasti keempat dan yang memerintahkan untuk membangun Piramida Khufu.

Orang Mesir kuno percaya kapal itu dibangun untuk membawa beliau ke kehidupan abadi.


Pemindahan blok batu yang membawa kepada penemuan kapal Firaun Khufu dibuat di dalam sebuah bangsal besar yang dibangun untuk melindungi kapal itu.

Blok batu pertama diangkat Rabu lalu(29/6) sebagai tes sebelum tempatnya digantikan dengan blok kayu.


Kapal solar kedua Firaun Khufu terdeteksi pada 1987 di dalam sebuah lubang besar, di sebelah barat kapal solar pertama. Kedua kapal itu terletak di bagian selatan Piramida Khufu di Giza.


Kapal solar pertama ditemukan pada 1954 dan mulai dipamerkan di 1982, dekat piramida setelah para ahli bekerja selama 13 tahun.


Setelah selesai, kapal kedua akan ditempatkan dekat pagar piramida, sedangkan kapal pertama akan dipindahkan di Museum Besar Mesir yang sedang dalam pembangunan.


Kedua kapal dibuat dari kayu cedar Libanon dan kayu akasia Mesir.

Hawass mengatakan, kondisi kapal terbaru ini lebih baik dari yang diperkirakan.

Awalnya saya khawatir melihat kayu kapal itu. Namun, saya yakin kita dapat melihat sebuah lagi kapal Firaun dalam 4 tahun setelah diperbaiki, katanya lagi

Jepang Temukan Mineral Baru Untuk iPad

Peneliti Jepang telah menemukan sejumlah mineral "langka", yang dapat digunakan untuk membuat produk elektronik. Mineral nadir bumi (rare earth) itu antara lain untuk digunakan dalam pembuatan telepon pintar (smartphones), komputer tablet semacam iPad, dan televisi layar datar.

Mineral itu bisa ditemukan di dasar Lautan Pasifik di sekitar Hawaii, Amerika Serikat. Bahkan, dengan mudahnya mineral itu diekstrasi. Temuan ini sekaligus menambah pengetahuan akan fungsi mineral itu, namun sekaligus mengancam persediaannya.

"Kandungan mineral itu memiliki konsentrasi berat yang langka. Hanya per satu kilometer persegi dari kandungan itu bisa menyediakan seperlima dari konsumsi global secara tahunan (untuk digunakan di barang elektronik)," kata Yasuhiro Kato, asisten profesor di bidang ilmu bumi Universitas Tokyo, seperti dikutip dari The Guardian.

Temuan yang berhasil dilakukan tim yang dipimpin Kato ini bisa memiliki dampak untuk produksi barang elektronik yang membutuhkan mineral langka, seperti tantalum dan yttrium. Karena selama ini mineral tanah sebagian besar ada di China, yang menyediakan sekitar 97 persen dari suplai global.

Penelitian terbaru yang dimuat di jurnal Nature Geoscience itu menemukan mineral itu tersembunyi di lumpur di dasar laut itu dapat diekstrasi di kedalaman 3.500 hingga 6.000 meter, di 78 lokasi. Sepertiga dari lokasi tersebut, kata Kato, memiliki kekayaan kandungan mineral langka itu dan metal yttrium.

Kato menjelaskan, kandungan mineral nadir bumi itu bisa ditemukan membentang sepanjang timur hingga barat Hawaaii. Selain itu, bisa juga ditemukan di sebelah timur Tahiti di Polinesia, Perancis.

Kato memerkirakan mineral nadir bumi itu terkandung sebanyak 80 hingga 100 miliar ton. Dibandingkan dengan persediaan global yang ditemukan US Geological Survey, baru 110 juta ton yang ditemukan, antara lain di China, Rusia, negara bekas Uni Soviet, dan Amerika Serikat.

Penggunaan mineral nadir bumi untuk produksi barang elektronik berteknologi tinggi, magnet, dan baterai menyebabkan banyaknya kegiatan pertambangan mineral itu dalam beberapa tahun terakhir. Menurut Kato, lumpur laut yang ditemukan memang kaya mineral nadir bumi lain, seperti gadolinium, lutetium, terbium, dan dysporsium.

"Ini biasa digunakan dalam pembuatan televisi layar datar, juga LED (light-emmiting dioda) dan mobil hibdrida," jelas Kato.

Sunday, July 3, 2011

Unik, Burung Jepang Takut Sama Wanita

eits..burung apa dulu neh? jangan ngeres dulu ya .burung dalam blog ini bukan "burung"nya orang jepang tetapi benar-benar burung jepang . Burung yang dimaksud adalah burung pipit yang menjadi hama sawah dan merusak hasil panen. Lantas apa hubungannya dengan wanita?

anda pasti tahu boneka sawah atau orang-orangan sawah bukan?!? Orang-orangan sawah di jepang didandani cantik dengan dandanan perempuan khas jepang dengan pernak-perniknya. Ada yang mengenakan kimono ada juga yang casual dengan topi fancy. Sepintas dari jauh agan pasti salah mengira kalau yang berdiri di pematang sawah itu adalah boneka. Kreatifitas orang jepang memang mengagumkan, pantas siapapun bisa terkecoh. Dan burungpun bisa saja tertipu.
boneka sawah mempunyai banyak nama yaitu bebegig-sunda, wedhen-jawa, scarecrow-inggris dan di jepang dinamakan かかし(baca kakashi-jadi inget hatake kakashi) . Salah satu boneka sawah yang terkenal bernama kuebiko. Ingat kueibiko pasti ingat cerita kami gami nya negeri matahari terbit. Kueibiko digambarkan boneka sawah yang selalu berdiri diluar rumah, tak bisa berjalan kemanapun, tetapi mengetahui segala sesuatu yang ada didunia.

Prosesi perceraian pasangan suami istri di Jepang

Ternyata prosesi perceraian pasangan suami istri di Jepang tidaklah rumit dan berbelit, cukup bawa uang sekitar 5 Jutaan Rupiah ke pemuka Adat yang berwenang, lalu menghancurkan cincin pernikahan mereka dengan sebuah palu khusus hingga rusak, dan selesai.





Tadamichi Kuribayashi, Perwira Tinggi Jepang yang Terkenal Pada Perang Dunia II

Tadamichi Kuribayashi (栗林忠道, 7 Juli 1891-23 Maret 1945) adalah seorang perwira tinggi Jepang dalam Perang Dunia II yang terkenal prestasinya dalam Pertempuran Iwo Jima. Tugas mempertahankan pulau kecil ini diberikan padanya oleh Jenderal Hideki Tojo. Dalam pertempuran ini dia memimpin kurang lebih 20.000 pasukan tanpa dukungan angkatan udara dan laut melawan 100.000 pasukan Amerika Serikat.
Hampir seluruh prajuritnya bertempur sampai titik darah penghabisan, hanya 296 dari mereka yang menyerah. Dia dilaporkan melakukan seppuku menjelang detik-detik terakhir kejatuhan pulau itu ke tangan musuh.

Kehidupan awal
Kuribayashi dilahirkan di perfektur Nagano dari keluarga samurai dan berdarah bangsawan. Dia adalah kepala keluarga yang baik, waktu-waktunya sebisa mungkin dia habiskan bersama keluarganya. Dalam perjalanan dinasnya, dia selalu melakukan komunikasi dengan mereka walaupun secara jarak jauh. Dia pernah mengenyam pendidikan di Kanada dan bertugas dua tahun sebagai deputi atase militer Jepang di Washington DC. Selama masa ini dia sering mengadakan perjalanan di berbagai daerah Amerika Serikat. Perjalanan ini membuatnya mengetahui lebih dalam tentang negara ini dan juga mendapat respek dari orang Amerika. Menurutnya perang modern akan banyak tergantung pada produksi industri, dia pernah mengemukakan pendapatnya ini pada rekan-rekannya bahwa perang dengan Amerika akan sia-sia karena mereka memiliki industri yang kuat, pendapat ini ditentang keras oleh sebagian kaum militer Jepang. Walaupun pandangannya cukup kontroversial, dia adalah salah satu dari sedikit perwira yang pernah mendapat kesempatan audisi dengan Kaisar Hirohito. Selain sebagai pemimpin militer, Kuribayashi juga adalah seorang yang berbakat sastra, karyanya antara lain syair Aikoku Koshin Kyoku (Lagu Cinta Tanah Air).


Pertempuran Iwo Jima
Kuribayashi sudah memperkirakan dua hal dalam menghadapi pertempuran yang menentukan ini yaitu Iwo Jima bagaimanapun akan jatuh juga ke tangan Amerika dan dirinya beserta seluruh pasukannya akan gugur. Namun dia tetap berusaha semaksimal mungkin mempertahankan pulau itu agar Amerika membayar semahal mungkin untuk upayanya.

Kuribayashi sudah mengenali pola penyerangan Amerika, karenanya dia tidak memfokuskan pada pendaratan mereka di pantai. Strateginya adalah menyuruh para insinyurnya untuk mendirikan benteng-benteng pertahanan bawah tanah. Di pulau kecil ini mereka menggali terowongan bawah tanah sepanjang 5000 meter yang saling berhubungan satu sama lain seperti jaring laba-laba.

Taktik ini terbukti keampuhannya. Selama delapan bulan pulau itu dibombardir Sekutu pulau itu, ditambah 72 hari sebelum pendaratan dibom berturut-turut oleh pesawat tempur, dan tiga hari sebelumnya oleh kapal perang mereka memuntahkan ribuan ton peluru pertahanan Kuribayashi tetap kokoh. Pesawat-pesawat pembom bingung menentukan target yang hendak dibom dan foto yang diambil pesawat intai tak ada gunanya karena taktik kamuflase Jepang yang hebat.

Kuribayashi juga pandai membangkitkan semangat anak buahnya, dia menginstruksikan agar setiap orang harus menganggap posisi pertahanannya sebagai kuburannya sendiri, bertempur sampai titik darah penghabisan dan membunuh musuh sebanyak mungkin, targetnya adalah setiap orang membunuh sepuluh musuh sebelum diri sendiri gugur. Dia mengendalikan pasukannya dengan tangan besi sehingga disiplin dan moril mereka baik sekali.


Hari-hari terakhir
16 Maret 1945 pertahanan secara teratur berakhir, tapi Kuribayashi masih hidup , dia hanya terputus kontak dengan sebagian anak buahnya. Mayor Horie yang pernah menjadi salah satu staff Kuribayashi menulis: Letjen Kuribayashi memimpin pertempuran di bawah sinar lilin tanpa istirahat dan tanpa tidur dari hari ke hari. Hubungan antara dia dengan dunia luar masih ada tanggal 15 Maret. Kami kira dia gugur pada tanggal 17 Maret. Dia dipromosikan sebagai jenderal penuh pada hari itu. Dia berkata, “Pertahanan musuh 200 atau 300 meter dari kami, mereka menyerang kami dengan api yang disemburkan dari tank. Mereka menyerukan agar kami menyerah tapi kami tertawa dan tidak menghiraukannya.” Kabar tentang promosinya ini disampaikan Horie melalui kawat, namun tidak diketahui apakah Kuribayashi menerimanya.

23 Maret 1945, kawatnya yang terakhir berbunyi, “Kami tidak makan maupun minum selama lima hari, tapi semangat Yamato, semangat bertempur kami masih tinggi, kami akan bertempur sampai saat terakhir” dan “Kepada perwira-perwira di Chichi Jima, selamat tinggal dari Iwo”. Dia dilaporkan melakukan seppuku di salah satu tempat di terowongan bawah tanah itu, namun jenazahnya tidak pernah ditemukan. Iwo Jima sendiri baru diduduki Amerika tanggal 26 Maret 1945 dengan harga 6.800 tewas dan 17.000 lainnya terluka. Sementara di pihak Jepang hanya 1.083 dari 22.000 orang yang selamat dan tertawan.


Penilaian pihak Sekutu
Amerika tidak bisa tidak merasa kagum pada kegigihan Kuribayashi mempertahankan Iwo Jima hingga titik darah terakhir.Rasa kagum ini telah dimulai sejak hari pertama pertempuran dan terus bertambah hingga berakhirnya pertempuran. Jenderal Holland Smith, komandan pasukan Amerika dalam pertempuran Iwo Jima berkata, “Dari semua lawan kita di Pasifik, Kuribayashi adalah yang paling tiada tanding.” Jenderal Cattes yang pernah secara pribadi menyerukan lewat corong pengeras suara agar Kuribayashi menyerah juga memuji pertahanannya yang luar biasa.

Amerika memang telah beberapa kali berhadapan dengan panglima Jepang yang pandai dan memukau mereka, tapi belum pernah pujian mereka begitu tinggi seperti terhadap Jenderal Kuribayashi. Kuribayashi adalah orang yang harus mereka takuti ketika masih hidup akan tetapi mungkin ia lebih berbahaya setelah meninggal karena ia sanggup menjadi pahlawan perang yang pasti dipuja-puja kalau saja nasionalisme baru tumbuh lagi di Jepang. Maka tidak heran kalau Jenderal Smith juga pernah berkata, “Semoga Jepang tidak pernah memiliki orang lain seperti dia.”



Kutipan
“Hidup ayahmu ibarat lampu di tengah angin” – kepada putranya, Taro Kuribayashi
“Engkau jangan berharap akan keselamatanku” – dalam surat kepada istrinya, Yoshie Kuribayashi
“Amerika Serikat adalah negara terakhir yang akan kita perangi”
“Musuh akan segera mendarat di pulau ini dan begitu mereka tiba kita akan mengikuti nasib mereka di Attu dan Saipan. Perwira dan prajurit kita tahu persis mengenai kematian. Maaf aku harus mengakhiri hidupku disini berperang dengan Amerika Serikat, tapi aku akan mempertahankan pulau ini sebisa mungkin dan menunda serangan udara musuh atas Tokyo. Ah ! Engkau telah lama menjadi istri yang baik bagiku dan ibu yang baik bagi ketiga anak kita. Hidupmu akan lebih sulit dan keras setelah ini, jaga kesehatanmu dan panjang umur. Masa depan anak-anak kita juga tidak lagi mudah, jaga mereka baik-baik setelah kematianku” – kepada istrinya tidak lama sebelum pertempuran dimulai.
“Pertempuran sedang mendekati akhir. Karena musuh sedang mendarat, bahkan dewa-dewa pun akan mencucurkan air mata akan keberanian para perwira dan prajurit di bawah komandoku. Orang-orangku gugur satu persatu, saya sangat menyesal telah membiarkan musuh menduduki wilayah Jepang kita” – pesan radio kepada wakil kepala staff Pasukan Kerajaan Jepang.
“Kami menyesal karena tidak dapat mempertahankan pulau ini dengan baik. Kini aku, Kuribayashi, yakin bahwa musuh akan menginvasi Jepang dari pulau ini. Saya sangat menyesal karena dapat membayangkan bencana yang akan menimpa kekaisaran kita. Namun, setidaknya aku dapat sedikit menghibur diri dengan menyaksikan para perwira dan prajuritku gugur tanpa rasa penyesalan dalam memperjuangkan setiap jengkal medan perang ini menghadapi musuh yang melebihi jumlah kita yang dilengkapi tank dan bombardir yang tak bisa dilukiskan….Saya juga meminta maaf pada seniorku dan rekan-rekan perwiraku atas kekuatanku yang tidak cukup untuk menghentikan invasi musuh”

Friday, July 1, 2011

Menjajal Tol Termahal Dunia di Jepang

Rogoh Kocek Rp4 Juta Tempuh 1.600 Km Sudah sepekan ini pemerintah Jepang memberlakukan kenaikan tarif tol. Tidak tanggung-tanggung, besarnya lima kali lipat dari tarif sebelumnya. Padahal, tarif sebelumnya sudah yang termahal di dunia. Tol yang panjangnya 8 km, tarifnya 1.800 yen atau sekitar Rp180 ribu.


Inilah salah satu cara paling efektif untuk mencari dana recovery pascamusibah tsunami yang melantakkan Provinsi Sendai, Fukushima, dan Miyagi 11 Maret lalu. Dari sektor jalan tol, pemerintah butuh 1 triliun yen atau sekitar Rp100 triliun rupiah untuk membangun lagi bekas wilayah yang tersapu bencana yang menewaskan 30 ribu jiwa tersebut.

Dana sebesar itu ingin didapat dalam tempo setahun. Itu sebabnya, tidak ada jalan lain sehingga tarif tol dinaikkan, rata-rata lima kali lipat dari tarif sebelumnya. Kalkulasinya memang memungkinkan. Di jalanan Jepang, beredar 80 juta mobil dari 120 juta penduduknya. Tiap keluarga memiliki dua atau tiga mobil. Dari jumlah itu, 85 persen pengguna tol.

Dengan menaikkan tarif tol, semua masyarakat pasti terlibat untuk membangun lagi negaranya dan menolong saudara-saudaranya yang tertimpa musibah.

Tol di Jepang sudah menembus seluruh wilayah.
Mulai Nagasaki di Pulau Kyushu; menembus pulau terbesar Honshu, yang terdapat kota terpadat Tokyo dan provinsi kembarnya Jatim, yaitu Hiroshima; bersambung ke Pulau Shikoku, yang terdapat kota kembarnya Surabaya, yaitu Kochi; terus tembus ke pulau-pulau kecilnya.


Tol tertuanya, Meishing, yang berusia 50 tahun, membentang mulai Kobe, Nagoya, sampai menembus Tokyo. Jaraknya 600 km. Semua tol telah dihubungkan dengan jembatan-jembatan indah yang jalannya tersusun berlapis; mobil dan motor besar di bagian atas dan jalur kereta api di bawahnya.

Menerobos ratusan terowongan yang terpanjang adalah terowongan Shimisu untuk kereta api dan terowongan Seika di bawah laut Hokaido, masing-masing sepanjang 20 km. Semua jembatan yang menyeberangi lautan membentang tinggi, sehingga bagian bawahnya bisa dilalui kapal bertonase besar. Tidak ada kapal besar yang harus cari jalur lain karena jembatan tol seperti Suramadu, misalnya.


Menelusuri tol di musim semi menjelang musim panas pada Juni-Juli seperti ini cukup menyenangkan. Pemandangan yang membentang di kiri dan kanan sungguh indah. Momiji dan sakura yang biasanya berbunga pascamusim salju pada April ikut menghijau lebat meski tanpa bunga. Gunung-gunung di sepanjang jalan serasa memeluk dari belakang.


Kalau kita sudah sangat bangga dengan memiliki tol Cipularang yang menghubungkan Jakarta-Bandung lengkap dengan pemandangannya serta Jembatan Suramadu untuk Surabaya-Madura, rasanya perlu menelusuri jalan tol, terowongan, dan jembatan di Jepang supaya tergairahkan untuk membuat yang jauh lebih baik lagi.

Sepanjang 1.997 km jalan yang saya lewati, 1.600 km di antaranya tol ini saya ukur dari argometer Toyota Regius (seperti Alphard dengan BBM solar) yang saya gunakan sejak tiba di Osaka sampai kembali ke Osaka. Semuanya bertanda jelas.

Tidak ada markah yang buram. Tidak ada polisi tidur. ”Polisi tidur kecil”, yang di sini digunakan untuk mengejutkan pengemudi supaya tidak mengantuk, di sana hanya segaris di kiri kanan jalan untuk mengingatkan bahwa mobil mulai keluar jalur. Jika kendaraan mulai keluar jalur, menginjak marka, termasuk melaju melebihi atau kurang dari batas kecepatan, peringatan dari transponder transducer yang terangkai menjadi satu dengan monitor mobil ”berteriak”.


Memang semua mobil yang masuk tol terhubung dengan GPS (global positioning system). GPS itu memandu sekaligus memperingatkan pengendara. Juga suatu saat kalau pengendara melanggar, otomatis muncul data pelanggaran. GPS menjadi segala-galanya di Jepang. Terutama untuk lalu lintas.

Mencari alamat tidak perlu sulit-sulit, apalagi harus turun dari kendaraan untuk bertanya. Cukup memasukkan alamat, jalur yang mengantar ke alamat tersebut akan muncul di monitor dari titik kendaraan berada.

Kalau lupa alamat, cukup menuliskan nomor telepon. Bisa juga nama kantor, toko, restoran, apa saja, bahkan nama orang, asal lengkap. Sistem monitoring dengan GPS berbasis satelit seperti itu juga diterapkan di banyak bisnis. Bahkan, para tahanan di lembaga pemasyarakatan menggunakan nameplate pada baju mereka, yang dihubungkan ke satelit untuk dimonitor.


Memberikan nama untuk apa saja yang berkaitan dengan publik, terutama nama jalan, selalu mencerminkan daerahnya atau wilayah yang terhubungkan. Terowongan maupun sungai-sungai dan jembatan juga gampang dikenali. Semua terukur sampai luasannya dan terdata di GPS.


Kemudahan mengakses dan melihat tanda itu juga ditemui di pintu-pintu dan rambu sambungan tol. Terutama kalau kita deg-degan dengan berapa lagi uang yang harus kita keluarkan untuk bayar tol. Bertanda biru muda ketika kita memasuki pintu tol, itu berarti tol milik negara. Tarif tolnya paling murah meski jaraknya jauh. Yang bertanda biru tua adalah tol milik provinsi.

Tarifnya agak mahal dan jaraknya lebih dekat. Ada juga yang bertanda hijau. Itu yang termahal dengan jarak lebih pendek serta milik dan dikelola daerah. Ketika lepas dari tol di Kochi dan menyeberangi pulau kecil Naruto, yang terdapat Kota Awaji –seperti Bali kecil yang terkenal dengan udong-nya—dengan jarak kira-kira hanya 8 km, tarif tolnya 1.800 yen atau setara dengan Rp180 ribu.

Itu tarif setelah kenaikan. Tol seperti itu sambung-menyambung, berganti-ganti warna, yang menandakan ganti wilayah. Kalau kita tidak keluar dan terus, lihat saja di palang pintu otomatisnya, tarifnya muncul. Kecepatan melewati tiap pintu tol adalah 20 km/jam. Palang pintu membuka otomatis dengan kecepatan tidak sampai sedetik.


Saat melewati pintu tol otomatis, pengendara tidak perlu membuka kaca. Dari transponder transducer yang terangkai dengan monitor dalam mobil, cukup untuk semuanya. Sebab, alat itu menunjukkan siapa pemiliknya dan berapa uangnya di bank yang disisihkan untuk bayar tol. Uang tersebut terdebet langsung dan otomatis dikurangi untuk bayar tol.

Enaknya berlangganan seperti itu, selain cepat, pengguna didiskon 30 persen. Bisa juga yang langsung bayar. Pengendara harus keluar ke jalur lain yang bertanda ETC (electronic true card). Cara itu lebih mahal 30 persen karena di sana memerlukan petugas jaga yang harus melayani.


Menyetir mobil di tol Jepang pun, pengendara tidak akan merasa lelah. Selain jalur dan kecepatan selalu terukur dalam panduan GPS, jalannya terasa ikut menyetir. Misalnya, melepas setir untuk jarak yang lumayan panjang, mobil—yang spooring balancing-nya bagus—tidak akan berbelok atau pindah jalur sendiri karena jalannya mulus dan rata. Untuk tikungan pun, jalan digarap sedemikian rupa sehingga mobil seperti bisa melaju sendiri mengikuti jalan.

Hampir tidak ditemukan jalan menanjak atau menurun. Mereka memilih membuat terowongan, menembus gunung dan perbukitan daripada memaksakan jalan menanjak atau menurun. Rest area-nya juga sangat memadai. Klosetnya, tinggal tombol. Semua menggunakan semprot otomatis dengan air hangat. Biliknya berjajar puluhan. Tersedia air minum dan teh hangat pula. Restoran dan supermarket yang diperbolehkan berjualan terstandar. Beberapa di antaranya menggelar dagangan dari olahan hasil bumi setempat.


Saya menelusuri mulai bagian tengah Jepang, yaitu Osaka; terus menuju utara; agak ke barat; melewati jalur yang menghadap Lautan Pasifik; kembali ke tengah melalui jalur lain yang menghadap lautan baliknya, yaitu Laut Jepang; terus ke selatan; menyeberang ke Pulau Shikoku; tembus ke pulau kecil Naruto; lantas kembali ke Osaka. Total jarak yang saya tempuh dalam tujuh hari dari sembilan hari saya bertugas di Jepang adalah 1.997 km.


Dari keseluruhan jarak perjalanan tersebut, dibutuhkan 80 persen tol atau sekitar 1.600 km. Kira-kira dari Surabaya menuju Jakarta lewat selatan dan balik lagi ke Semarang melalui pantura, melewati beberapa tol negara, tol antarprovinsi, serta tol daerah. Total biaya tolnya saja 39.800 yen atau setara dengan Rp4 juta.

Sungguh tidak murah. Pada awalnya, masyarakat menggerutu atas kenaikan itu. Tapi, pemerintah jalan terus. Penjelasan lewat semua media digencarkan. Ada countdown di TV. Juga, satu hari sebelum kenaikan tarif, yaitu 19 Juni, tepat Minggu saat saya tiba di Osaka dan memulai perjalanan ini, jalan sangat ramai. Motor-motor besar di atas 1.000 cc ikut meramaikan perjalanan bersama mobil-mobil beraneka jenis. Mereka bersama keluarga menikmati hari terakhir sebelum tarif tol naik.


Besoknya, ketika tarif baru mulai diberlakukan, tol sepi. Tapi, tiga hari kemudian, kondisi tampak normal lagi. Lalu lalang mobil kembali tampak seperti biasanya. Tsuruno Keisuke, pengusaha yang membantu banyak pemagang dari Jatim bekerja di Jepang, mengatakan bahwa kenaikan tarif tol itu memang mencekik. Tapi, dia rela demi perbaikan dan kemajuan mendatang. Apalagi untuk kemanusiaan pascabencana.

Omurice (omelete ala jepang)

Omurice (オムライス omurais?) adalah makanan Jepang berupa nasi putih yang digoreng bersama saus tomat dan dibungkus oleh telur goreng omelet. Namanya berasal dari kata omelet dan rice. Di atas omurice biasanya disiram sedikit saus tomat atau saus demiglace agar kelihatan menarik.
Nasi untuk omurice biasanya diberi daging ayam, udang, cumi-cumi, jamur, dan bawang bombay. Chicken rice adalah sebutan lain untuk nasi untuk omurice dengan daging ayam dan saus tomat.
Nasi untuk omurice diletakkan di atas telur dadar setengah matang yang dibuat di atas penggorengan, lalu dengan gerakan tangan seperti membalik isi penggorengan, nasi menjadi terbungkus dengan telur dadar. Omurice yang dibuat di rumah biasanya menggunakan teknik membungkus nasi dengan telur yang lebih mudah dengan cara membalikkan isi penggorengan di atas piring.
Omurice pertama kali diciptakan untuk pengunjung restoran yang sakit gangguan pencernaan oleh restoran bernama Hokkyokusei yang terletak di Namba, Osaka. Ada juga versi lain yang mengatakan Omurice lebih dulu diciptakan oleh restoran bernama Renga-tei di Ginza, Tokyo sekitar abad ke-19.
Omukare adalah variasi omurice dengan kuah kari, sedangkan Omuhayashi adalah variasi omurice dengan saus Hayashi rice. Omusoba adalah Yakisoba yang dibungkus oleh omelet.
resep
-Campuran Nasi
2 sendok makan minyak goreng
1 sendok makan mentega
1/4 bawang bombay, potong kecil-kecil
1/4 sendok teh garam
1 sosis, potong bentuk koin, belah dua
1 piring nasi
-Bumbu Nasi
1 sendok makan saus tomat
1/4 sendok teh merica
1/4 sendok teh garam

-Omelette
1-2 butir telur (tergantung ukuran)
1 sendok makan mentega
1 sendok makan minyak goreng
1/4 sendok teh garam

-Saus
Saus tomat secukupnya

Cara memasak:
1.Panaskan minyak goreng
2.Masukkan bawang bombay dan tumis sampai bawang bombay berubah warna
3.Masukkan sosis dan bumbu nasi
4.Masak sebentar sampai sosis matang (jangan terlalu lama hingga bawang bombay gosong)
5.Masukkan nasi dan mentega,aduk hingga rata
6.Saat nasi sudah cukup panas, matikan api
7.Kocok telur hingga putih dan kuningnya menyatu, tambahkan garam
8.Panaskan wajan, tambahkan mentega dan minyak goreng
9.Goreng telur hingga setengah matang
10.Saat telur sudah setengah matang, tambahkan nasi yang telah dimasak diatas telur itu, disalah satu sisinya
11.Lipat sisi telur yang lainnya menutupi bagian atas nasi
12.Pindahkan omurice ke piring, beri saus tomat pada bagian atas
13. Omurice siap dihidangkan.
Bila kita kurang mampu untuk memasak nasi goreng, maka kita bisa mencoba memasak omurice dengan nasi goreng yang kita beli dari penjual nasi goreng atau menggunakan nasi goreng buatan orang lain. Bila kita melakukan hal ini, yang perlu dilakukan hanyalah memanaskan nasi goreng tersebut, lalu memasak mulai langkah 7-selesai.

Entri Populer