Friday, February 20, 2015

Tanaman Bonsai

Bonsai adalah tanaman yang pernah terkenal di Indonesia pada tahun 2000 silam. Bonsai (盆栽) adalah tanaman atau pohon yang dikerdilkan di dalam pot dangkal dengan tujuan membuat miniatur dari bentuk asli pohon besar yang sudah tua di alam bebas. Penanaman (sai, 栽) dilakukan di pot dangkal yang disebut bon (盆). Istilah bonsai juga dipakai untuk seni tradisional Jepang dalam pemeliharaan tanaman atau pohon dalam pot dangkal, bonsai dapat di nilai darii keindahan bentuk dahan, daun, batang, dan akar pohon, serta pot dangkal yang menjadi wadah, atau keseluruhan bentuk tanaman atau pohon. Bonsai adalah pelafalan bahasa Jepang untuk penzai (盆栽).
Bonsai di "Foire du Valais", Swiss, 2005.

Seni ini mencakup berbagai teknik pemotongan dan pemangkasan tanaman, pengawatan (pembentukan cabang dan dahan pohon dengan melilitkan kawat atau membengkokkannya dengan ikatan kawat), serta membuat akar menyebar di atas batu. Pembuatan bonsai memakan waktu yang lama dan melibatkan berbagai macam pekerjaan, antara lain pemberian pupuk, pemangkasan, pembentukan tanaman, penyiraman, dan penggantian pot dan tanah. Tanaman atau pohon dikerdilkan dengan cara memotong akar dan rantingnya. Pohon dibentuk dengan bantuan kawat pada ranting dan tunasnya. Kawat harus sudah diambil sebelum sempat menggores kulit ranting pohon tersebut. Tanaman adalah makhluk hidup, dan tidak ada bonsai yang dapat dikatakan selesai atau sudah jadi. Perubahan yang terjadi terus menerus pada tanaman sesuai musim atau keadaan alam merupakan salah satu daya tarik bonsai.

Jenis

Pohon yang paling umum dibonsai adalah berbagai spesies pinus. Jenis tanaman dan pohon dipakai untuk mengelompokkan jenis-jenis bonsai:
    1. Bonsai pohon pinus dan ek: tusam, cemara cina, cemara duri, sugi, dan lain-lain.
    2. Bonsai pohon buah untuk dinikmati keindahan buahnya (Ilex serrata, kesemek, Chaenomeles sinensis, apel mini, dan lain-lain).
    3. Bonsai tumbuhan berbunga untuk dinikmati keindahan bunganya (Prunus mume,Chaenomeles speciosa, sakura, azalea satsuki).
    4. Bonsai pohon untuk dinikmati bentuk daunnya (maple, Zelkova serrata, Rhus succedanea, bambu).

      Ada banyak sekali tanaman tropis yang telah dicoba dan ternyata cocok untuk dibonsai, di antaranya asam jawa, beringin, cemara udang, waru, dan jambu biji.

      Bentuk dasar

      Tegak Lurus (直幹 Chokkan)

      Batang pohon tegak lurus vertikal ke atas. Pohon dikatakan memiliki batang yang ideal bila pohon memiliki diameter batang yang makin ke atas makin mengecil, dimulai dari bagian batang yang dekat dengan akar. Pohon dikatakan memiliki dahan yang ideal bila dahan ada di sisi depan-belakang atau kiri-kanan saling bersilangan satu sama lainnya. Jarak antardahan makin ke atas makin sempit. Bentuk akar ideal adalah akar yang bila dilihat dari atas, menjalar ke segala penjuru.

      Tegak Berkelok-kelok (模様木 Moyogi)

      Batang pohon tegak berkelok-kelok ke kiri dan ke kanan. Diameter batang makin ke atas makin mengecil dengan keseimbangan kiri dan kanan yang baik. Dahan yang baik adalah dahan yang ada di bagian puncak lengkungan batang pohon. Dahan yang berada di bagian dalam lengkungan dipotong. Dari pangkal batang hingga bagian puncak pohon dapat ditarik garis lurus, dan orang yang melihat tidak merasa khawatir dengan keseimbangan pohon tersebut.

      Miring (斜幹 Shakan)

      Batang pohon miring ke satu sisi bagaikan terus menerus ditiup angin ke arah tersebut. Bagaikan ada benda yang menghalangi di salah satu sisi, batang pohon tumbuh mencondong ke sisi lain. Ciri khas bentuk ini berupa dahan yang ada hanya di bagian puncak lengkungan batang, dan berselang-seling di sisi kiri-kanan dan depan-belakang.

      Sarung Angin (吹流し Fukiganashi)/Tertiup Angin

      Dibandingkan bonsai bentuk Miring, pohon tumbuh sambil mengalami paksaan yang lebih kejam. Batang dan dahan pohon hanya condong ke satu arah. Batang dan dahan pohon yang condong ke satu sisi jauh lebih panjang daripada tinggi pohon yang diukur dari pangkal batang ke puncak pohon. Posisi batang dan dahan mirip dengan bonsai gaya Setengah Menggantung, namun batang dan dahan terlihat membentuk garis paralel.

      Menggantung (懸崖 Kengai)

      Kengai
      Han Kengai
      Pohon diibaratkan tumbuh di permukaan dinding terjal yang berada di tebing tepi laut atau dinding lembah terjal. Batang pohon tumbuh bagaikan menggantung ke bawah tebing. Puncak pohon tersebut menggantung jauh hingga melebihi dasar pot. Bila puncak pohon tidak melebihi dasar pot maka bonsai disebut Setengah Menggantung (Han Kengai).

      Batang Bergelung/ Berkelok (蟠幹 Bankan)

      Batang pohon terlihat sangat dipilin, atau pohon tumbuh dengan kecenderungan memilin diri. Batang pohon begitu terlihat dipilin bagaikan ular yang sedang bergelung.

      Sapu Tegak (箒立ち Hōkidachi)

      Batang tegak lurus hingga di tengah sebelum dahan dan ranting tumbuh menyebar ke segala arah. Puncak pohon sulit ditentukan dari sejumlah puncak dahan yang ada sehingga bentuk bonsai ini mirip sapu dari bambu. Keindahan bonsai gaya ini dinilai dari percabangan dahan yang rapi, dan titik dimulainya persebaran dahan dan ranting ke segala arah, tinggi pohon, dan keseimbangan unsur-unsur tersebut.

      Menonjolkan Akar (根上り Neagari)

      Akibat pohon dipelihara di lingkungan pemeliharaan yang kejam, bagian pangkal akar yang bercabang-cabang di dalam tanah menjadi terekspos ke luar di atas tanah bagaikan akibat diterpa angin dan hujan.

      Berbatang Banyak (多幹 Takan)

      Dari satu pangkal akar tumbuh tegak lebih dari satu batang pohon. Bila tumbuh dua batang pohon, maka bonsai disebut Berbatang Dua (Sōkan). Bila ada tiga batang pohon, maka disebut Berbatang Tiga (Sankan). Bonsai berbatang lima atau lebih disebut Tunggul Tegak (Kabudachi). Batang berjumlah ganjil lebih disukai. Selain bonsai berbatang dua, bonsai dengan batang berjumlah genap tidak disenangi dan tidak dibuat.

      Akar Terjalin (根連なり Netsuranari)    

      Akar dari sejumlah batang pohon dari satu spesies (tiga batang pohon atau lebih) saling melekat dan berhubungan satu satu sama lainnya. Bentuk ini juga dapat berasal dari batang pohon yang tadinya tegak, namun roboh dan terkubur di dalam tanah. Bagian yang dulunya adalah dahan pohon, berubah peran dan tumbuh sebagai batang pohon. Dari batang pohon tersebut keluar akar, dan akar tersebut terjalin dengan akar pohon asal. Bentuk yang mirip dengan Akar Terjalin disebut Rakit atau Tumbuh dari Batang (Ikadabuki). Bonsai berbentuk Tumbuh dari Batang juga berasal dari pohon yang tadinya tegak, namun roboh dan dahan berubah peran menjadi batang. Perbedaannya dengan Akar Terjalin terletak pada akar yang hanya ada di satu tempat. Seperti halnya bonsai Berbatang Banyak, pohon berbatang genap tidak disukai.

      Kelompok (寄せ植え Yoseue)

      Lebih dari satu pohon ditanam bersama dalam satu pot dangkal atau ditanam di atas batu. Pohon yang ditanam dapat saja beberapa pohon dari satu spesies, atau campuran dari beberapa spesies berbeda. Nilai kreativitas karya dapat ditinggikan dengan perpaduan benda-benda hiasan yang diletakkan sebagai tambahan.

      Pohon Sastrawan (文人木 Bunjinki)

      Bentuk bonsai ini asal usulnya dari meniru bentuk pohon dalam nanga. Dinamakan bonsai bentuk Pohon Sastrawan karena sastrawan zaman Meiji sangat menggemari bonsai bentuk ini. Pada zaman sekarang, batang kurus, jumlah dahan sedikit, dan dahan pendek juga disebut Pohon Sastrawan.

      Pohon Tak Lazim (代わり木 Kawariki)

      Bentuk ini dipakai untuk menyebut bonsai yang tidak dapat digolongkan ke dalam bentuk-bentuk bonsai yang lazim.

      Sejarah


      Bonsai berasal dari seni miniaturisasi tanaman yang disebut penjing (盆景) dari periode Dinasti Tang. Di makam putra dari Maharani Wu Zetian terdapat lukisan dinding yang menggambarkan pelayan wanita yang membawa pohon berbunga dalam pot dangkal. Pot dangkal berukuran kecil ini merupakan miniaturisasi dari pemandangan alam.
      Kalangan bangsawan di Jepang mulai mengenal penjing sekitar akhir zaman Heian. Aksara kanji untuk penjing (盆景) dilafalkan orang Jepang sebagai bonkei. Sama halnya dengan di Cina, bonkei di Jepang juga merupakan miniaturisasi dari pemandangan alam. Seni yang hanya dinikmati kalangan atas, terutama kalangan pejabat istana dan samurai, dan baru disebut bonsai pada zaman Edo
      Menanam bonsai adalah pekerjaan sambilan samurai zaman Edo, saat bonsai mencapai puncak kepopuleran. Sejak zaman Meiji, bonsai dianggap sebagai hobi yang bergaya. Namun pemeliharaan bonsai dan penyiraman memakan banyak waktu. Sejalan dengan lingkungan tempat tinggal di Jepang yang makin modern dan tidak memiliki halaman, penggemar bonsai akhirnya terbatas pada kalangan berusia lanjut.

      Ukuran

      Bonsai dikelompokkan menjadi enam kelompok berdasarkan tinggi tanaman dari pangkal batang hingga bagian puncak tanaman:

          Raksasa: tinggi pohon lebih dari 101 cm.
          Sangat besar: tinggi pohon antara 76-100 cm.
          Besar: tinggi pohon antara 46-75 cm
          Sedang: tinggi pohon antara 31-45 cm
          Kecil: tinggi pohon antara 16-30 cm
          Sangat kecil: tinggi pohon kurang dari 15 cm.

      Sumber: http://id.wikipedia.org

      Boneka Daruma


      Daruma (だるま atau 達磨) adalah boneka sekaligus mainan asal Jepang yang bentuknya hampir bulat, dengan bagian dalam yang kosong serta tidak memiliki kaki dan tangan. Model dari benda ini adalah Bodhidharma, yang merupakan pendiri dari Zen.


      Kalo pernah nonton Benteng Takeshi (Takeshi Castle) pasti tau permainan yang namanya "Daruma Jatuh" kan?. Yang pesertanya di gelindingin dari bukit?. Itu adalah bentuk boneka Daruma dalam ukuran besar.

      Permainan Daruma Jatuh

      Boneka ini merupakan pembawa keberuntungan dan lambang harapan yang belum tercapai. Daruma dijual dengan kedua belah mata yang belum digambar. Orang yang ingin harapan atau cita-citanya terkabul menggambar hanya salah satu sisi dari kedua matanya dengan kuas dan tinta. Bila harapan orang tersebut sudah tercapai, orang tersebut akan menggambarkan mata yang satunya lagi pada boneka daruma.

      Daruma yang hanya sebelah matanya sudah dibuat
      Di Jepang, produsen boneka daruma terbesar ada di kota Takasaki, Prefektur Gunma.

      Sejarah

      Boneka daruma adalah boneka tradisional Jepang yang disebut Okiagari Koboshi. Boneka okiagari-koboshi memiliki bagian dasar yang bundar dan berat sehingga boneka ini kembali bisa berdiri tegak jika dimiringkan dengan bantuan beratnya sendiri. Muka boneka okiagari-koboshi digambar seperti wajah Bodhidharma karena daruma yang selalu bisa berdiri tegak sesuai dengan cerita ketegaran Bodhidharma yang bermeditasi selama 9 tahun menghadap tembok di vihara Shaolin.

      Pembuatan


      Daruma dibuat dengan teknik yang di Jepang disebut hariko. Teknik yang sama dapat juga digunakan untuk membuat maneki neko atau berbagai macam bentuk patung yang lain. Patung yang dijadikan pola ditempel dengan lapisan kertas hingga dapat menjadi bentuk yang diinginkan. Setelah lem kering, kertas yang melapisi patung dibelah dan patung yang menjadi pola akan dikeluarkan. Belahan bagian depan dan bagian belakang disatukan kembali dengan tempelan lapisan kertas.

      Pembuatan Daruma
      Boneka daruma biasanya dicat dengan warna merah menyala sesuai dengan warna pakaian Bodhidharma. Selain itu, warna merah dianggap memiliki kekuatan menolak bala.

      Sumber: http://id.wikipedia.org

      Thursday, February 19, 2015

      Shinkansen

      Shinkansen (新幹線) sering juga dipanggil jalur kereta peluru, adalah jalur kereta yang memiliki kecepatan tinggi di Jepang. Jalur kereta ini dikelola oleh 4 perusahaan dalam group Japan Railways atau biasa di singkat "JR".
      Salah satu kereta cepat di Jepang

      Shinkansen merupakan salah satu sarana angkutan antar kota di jepang, kecepatan tertingginya adalah 300km/jam. Ga kebayang kan kecepatannya kaya gimana?. Nama Shinkansen sendiri sering di anggap sebagai nama kereta apinya, padahal nama tersebut adalah nama jalur kereta api. Jadi jangan salah sangka lagi ya. Mau tau aja kereta- keretanya kaya gimana?.

        JR East

      Logo Japan Rail East
      Kereta yang melalui Joetsu Shinkansen

      Kereta yang melalui Akita Shinkansen

      Kereta yang melalui Tohoku Shinkansen (Ini yang jalurnya paling panjang, lihat di peta)

      Kereta yang melalui Yamagata Shinkansen

       

      JR Central

      Logo Japan Rail Central
      Kereta yang melalui Tokaido Shinkansen

       

      JR West

      Logo Japan Rail West
      Kereta yang melalui San'yo Shinkansen

       

      JR Kyushu

      Logo Japan Rail Kyushu
      Kereta yang melalui Kyushu Shinkansen
      Kereta yang melalui Kyushu Shinkansen, type 800

      Sejarah

      Shinkansen (jalur kereta) dibuka tepatnya pada 1 Oktober 1964 untuk menyambut Olimpiade Tokyo yang di laksanakan pada waktu itu. Jalur ini sukses melayani 100 juta penumpang kurang dari 3 tahun sejak resmi dibuka untuk umum pada tanggal 13 Juli 1967, dan melayani satu miliar penumpang pada 1976. Fantastis bukan?.

      Pada mulanya Shinkanshen dari Tokyo ke Shin-Osaka (515,4km) akan memakan waktu kurang- lebih 4 jam. Pada 1992, Shinkanshen model baru 'Nazomi' yang memiliki kecepatan 270 km/jam telah menghasilkan perjalanan yang singkat.

      Saat ini pada kereta yang melaju antara Fukushima dan Shinjo punya pijat refleksi kaki yang dipasang untuk merendam kakimu, sambil kamu menikmati pemandangan. Kereta ini juga dengan gerbong yang dipasangi tatami supaya para turis asing bisa lebih menikmati perjalanan mereka.


      Keamanan

      Hingga saat ini, tidak ada daftar kecelakaan yang berakibat fatal dalam pengoperasian Shinkansen sejak sekitar 40 tahun yang lalu. Namun ada beberapa orang terluka dikarenakan pintu yang menjepit penumpang atau barang bawaan mereka. Selain itu, ada beberapa percobaan bunuh diri oleh penumpang. Karena itu beberapa stasiun telah memasang pagar pelindung.

      Untuk menghadapi gempa bumi yang sering terjadi di Jepang, kereta ini dilengkapi dengan sistem pendeteksian yang akan memberhentikan kereta bila gempa bumi terdeteksi. Pada gempa bumi Chuetsu pada Oktober 2004 silam, sebuah Shinkansen yang dekat dengan pusat gempa lepas dari relnya, namun tidak ada penumpang yang terluka.
      Kereta generasi berikutnya, FASTECH 360 akan memiliki sayap rem penahan angin (yang mirip dengan kegunaan telinga) untuk membantu proses pemberhentian bila gempa bumi terdeteksi.

      Ketepatan waktu


      Untuk ketepatan waktu, tidak usah di ragukan lagi. Pada 2003, JR Central melaporkan selisih waktu kedatangan kereta dengan jadwal adalah 0,1 menit atau 6 detik. Ini termasuk seluruh kesalahan alami dan manusia (human error) dan dihitung dari seluruh 160.000 perjalanan yang dijalani oleh Shinkansen. Rekor sebelumnya pada tahun 1997 tercatat selisih keterlambatan hanya 0,3 menit atau 18 detik.

      Sumber: http://id.wikipedia.org

      Kebersihan Kereta

      Berbeda dengan kereta- kereta di negara lain, kereta cepat di jepang terkenal dengan kerapihan dan kebersihannya. Itu semua berkat kedisiplinan para petugas dan keperdulian para penumpang. Pada saat pemberentian terakhir para petugas akan dengan sigapnya membersihkan dan menyapu setiap gerbong. Untuk membersihkan setiap gerbong mereka hanya memiliki waktu 7 menit. Saksikan bagaimana cekatannya mereka membersihkan gerbong pada video di bawah ini.

      Sumber: http://www.youtube.com

      Kotatsu Meja unik dari Jepang

      Kotatsu (炬燵) adalah meja kayu pendek yang ditutupi oleh kasur tipis atau selimut tebal. Di bawah kotatsu biasanya terdapat pemanas. Dulu pemanas yang digunakan adalah tungku batu bara, tapi karena perkembangan zaman, pemanas tungku sudah mulai di tinggalkan dan beralih menggunakan pemanas yang menggunakan listrik. Pemanas yang menggunakan listrik biasanya dijual sepaket dengan meja kotatsunya dan sudah di patenkan di bawah. Kotatsu ini terdapat hampir di setiap rumah di Jepang. Kotatsu ini biasa di gunakan untuk bersantai atau hanya sekedar menghangatkan diri dari dinginnya musim dingin di Jepang. Anda sudah sering melihat Kotatsu bukan?. Biasanya kotatsu sengaja di tambahkan pada beberapa scene dalam film Anime.

       

      Sejarah Kotatsu


      Sejarah kotatsu dimulai pada era Muromachi pada abad ke-14. Diawali dari tungku/ perapian masakan di Jepang yang biasa di sebut Irori. Arang/ batu bara adalah bahan bakar yang digunakan perapian tersebut. Sejak saat itu diperkenalkanlah sebuah meja yang di atasnya diberi selimut (Oki) dan di bawahnya perapian. Tujuan selimut tersebut untuk menjaga panas yang di hasilkan tungku. Kotatsu modern disebut hori-gotatsu. Kata hori-gotatsu (掘 り 炬 燵) berasal dari kanji 掘 - り (hori) yang berarti parit atau menggali, 炬 (ko) berarti obor atau kebakaran, dan 燵 (tatsu) yang berarti kaki lebih hangat.

      Di pertengahan abad kedua puluh, sumber panas diganti dengan listrik. Kotatsu ini telah dipasangkan perlengkapan pemanas listrik langsung ke rangka bawah meja. Dengan demikian, kotatsu menjadi bisa di pindah- pindah dengan penggunaan pemanas listrik. Kotatsu menjadi benda yang umum berada di rumah Jepang selama musim dingin.

       

      Tipe Kotatsu Menurut Jenis Pemanas

      Pemanas Listrik

       

      Pemanas Elektrik
      Skema Oki-gotatsu

      Gaya modern kotatsu (Oki-gotatsu -置 き 炬 燵) terdiri dari meja dengan pemanas listrik yang melekat pada bagian bawah meja. Ini merupakan pengembangan Kotatsu dengan pot tanah liat dengan bara panas ditempatkan di bawah meja. Kotatsu biasanya ditaruh kasur tipis di bawahnya (di atas lantai). Kasur yang lebih tebal ditempatkan di atas meja kotatsu. Pemanas listrik yang melekat pada bagian bawah meja memanaskan ruang di bawah selimut.

      Pemanas Arang 


      Skema Hori-gotatsu

      Jenis yang lebih tradisional adalah pemanas ditempatkan tersembunyi pada lantai (hori-gotatsu -掘 り 炬 燵). Lubang dibuat sekitar 40 cm ke dalam lantai. Sebuah arang pemanas ditempatkan dalam lubang tersebut.

      Sumber: http://id.wikipedia.org

      Kimono

      Kalau anda pernah nonton film/ anime dari Jepang, pasti anda tau yang namanya Kimono (着物). Kimono adalah pakaian khas jepang yang bentuknya sangat unik. Kata Kimono berarti baju atau sesuatu yang dikenakan (ki berarti pakai, dan mono berarti barang).


      Zaman sekarang, kimono bentuknya mirip Huruf "T" dan cenderung lebih mirip mantel lengan panjang berkerah. Kimono biasa di buat panjang hingga mata kaki. Untuk wanita, biasanya Kimono yang digunakan adalah yang jenisnya terusan, sementara untuk pria menggunakan Kimono yang bentuknya setelan (Baju dan Celana). Aturan dalam menggunakan kimono adalah kerah sebelah kanan harus di sebelah bawah kerah sebelah kiri. Juga harus menggunakan sabuk kain yang disebut Obi yang di lilitkan di bagian perut/ pinggang. Simpul tali pada obi berada di belakang atau berada di punggung. Alas kaki khusus pada saat mengenakan kimono disebut zōri atau geta.

      Inilah yang disebut Obi
      Ini yang disebut Geta
      Karena perubahan zaman, kini Kimono hanya dikenakan pada acara- acara khusus saja. Kimono digunakan untuk mereka yang sudah menikah. Untuk yang belum menikah biasanya mengenakan Kimono jenis Furisode. Yang menjadi ciri Furisode adalah lengan baju yang lebar hingga hampir menyentuh lantai. Wanita yang genap 20 Tahun (Belum Menikah) biasanya mengenakan Furisode untuk menghadiri Upacara Seijin shiki. Pria biasanya mengenakan Kimono pada pesta pernikahan, upacara minum teh dan acara formal lainnya.
      Bagian- bagian Kimono

      Pakaian pengantina wanita Tradisional Jepang (hanayome ishō) terdiri dari furisode dan uchikake. Furisode khusus pengantin biasanya memiliki motif/ gambar yang di yakini dapat mengundang keberuntungan. Warnanya juga cenderung lebih cerah dibandingkan Furisode yang lain. Shiromuku adalah sebutan untuk baju pengantin wanita tradisional berupa furisode berwarna putih bersih dengan motif tenunannya yang juga berwarna putih.

      Kimono pada wanita biasanya terdiri dari:
      1. Nagajuban, yaitu “daleman” saat memakai kimono
      2. Date eri, yaitu kerah tambahan saat memaikai kimono sehingga pemaikainya terlihat seperti mengenakan dua lapis nagajuban, padahal sebenarnya date eri hanyalah sehelai kain yang berbentuk seperti kerah kimono.
      3. Kimono utama yang dipakai di lapisan terluar, bisanya memiliki corak indah. Ada banyak macamnya seperti Furisode (kimono lengan panjang untuk wanita yang belum menikah), Iromuji, Tsukesage, dan lain-lain.
      4. Obi, yaitu sabuk pinggang dari kain yang dipakai sewaktu mengenakan kimono atau keikogi. Obi untuk kimono umumnya dibuat dari kain sutra. Kimono wanita dikenakan bersama obi berhiaskan corak tenun atau bordir. Obi dililitkan seperti halnya memakai setagen.
      5. Obiage, yaitu kain berwarna yang dililitkan di bawah obi supaya obi tidak melorot.
      6. Obijime yaitu, tali kecil yang diikat di atas obi supaya letak obi tidak berubah, atau membantu ikatan obi.

      Jenis Kimono Untuk Wanita

       Kimono untuk wanita yang sudah ataupun belum menikah memiliki 9 jenis, diantaranya adalah:

       1. Kurotomesode


      Kurotomesode adalah Tomesode berwarna hitam. Kurotomesode memiliki lambang keluarga (kamon) di tiga tempat: yang pertama di punggung, yang kedua ada di dada bagian atas (kanan/kiri), dan pada kedua bagian belakang lengan (kanan/kiri). Ciri khas kurotomesode adalah motif yang indah pada suso (bagian bawah sekitar kaki) pada bagian depan dan belakangnya . Kurotomesode dipakai untuk menghadiri resepsi pernikahan dan acara-acara yang sangat resmi.

       2. Irotomesode


      Irotomesode adalah Tomesode yang dibuat dari kain berwarna. Tergantung kepada tingkat formalitas acara, pemakai bisa memilih jumlah lambang keluarga pada kain kimono, mulai dari satu, tiga, hingga lima buah untuk acara yang sangat formal. Kimono jenis ini biasanya dipakai oleh wanita dewasa yang sudah/belum menikah. Kimono jenis irotomesode dipakai untuk menghadiri acara yang tidak memperbolehkan tamunya untuk datang mengenakan kurotomesode, misalnya resepsi di Istana Kaisar. Sama halnya seperti kurotomesode, ciri khas irotomesode adalah motif yang indah pada suso.

      3. Furisode


      Furisode adalah kimono paling formal untuk wanita muda yang belum menikah. Bahannya cenderung berwarna-warni cerah dengan motif yang mencolok di seluruh bagian kain. Ciri khas furisode adalah bagian lengan yang sangat lebar dan menjuntai ke bawah. Furisode dikenakan sewaktu menghadiri upacara seijin shiki, menghadiri resepsi pernikahan teman, upacara wisuda, atau hatsumode. Pakaian pengantin wanita yang disebut hanayome ishō adalah termasuk salah satu jenis furisode.

      4. Homongi


      Hōmon-gi (訪問着) yang berarti baju untuk berkunjung adalah Kimono formal untuk wanita untuk yang sudah menikah ataupun belum menikah. Kita bebas memilih untuk memakai bahan yang bergambar lambang keluarga atau tidak. Ciri khas homongi adalah motif di seluruh bagian kain, depan dan belakang. Homongi dipakai sewaktu menjadi tamu resepsi pernikahan, upacara minum teh, atau merayakan tahun baru.

      5. Iromuji


      Iromuji adalah kimono untuk acara semiformal, namun bisa dijadikan kimono formal bila iromuji tersebut memiliki lambang keluarga (kamon). Sesuai dengan tingkat formalitas kimono. Iromoji dibuat dari bahan tidak bermotif dan bahan-bahannya berwarna lembut, merah jambu, biru muda, atau kuning muda. Iromuji dengan lambang keluarga di 5 tempat dapat juga dikenakan untuk menghadiri pesta pernikahan. Bila menghadiri upacara minum teh, cukup dipakai iromuji dengan satu lambang keluarga saja.

      6. Tsukesage


      Tsukesage adalah kimono semiformal untuk wanita yang sudah atau belum menikah. Menurut tingkatan formalitas, kedudukan tsukesage hanya setingkat dibawah homongi. Kimono jenis ini tidak memiliki lambang keluarga. Tsukesage dikenakan untuk menghadiri upacara minum teh yang tidak begitu resmi, pesta pernikahan, pesta resmi, atau merayakan tahun baru.

      7. Komon


      Komon adalah kimono santai untuk wanita yang sudah atau belum menikah. Ciri khas kimono jenis ini adalah motif sederhana yang berukuran kecil-kecil yang berulang. Komon dikenakan untuk menghadiri pesta reuni, makan malam, bertemu dengan teman-teman, atau sekedar menonton pertunjukan di gedung.

      8. Tsumugi


      Tsumugi adalah kimono santai untuk dikenakan sehari-hari di rumah oleh wanita yang sudah atau belum menikah. Walaupun demikian, kimono jenis ini boleh dikenakan untuk keluar rumah seperti saat berbelanja atau berjalan-jalan. Bahan yang biasa digunakan adalah kain hasil tenunan sederhana dari benang katun atau benang sutra kelas rendah yang tebal dan kasar. Kimono jenis ini lebih tahan lama dan dulunya dikenakan untuk bekerja di ladang.

      9. Yukata


      Yukata adalah kimono santai yang dibuat dari kain katun tipis tanpa bahan pelapis untuk kesempatan santai di musim panas.

      Jenis Kimono Untuk Pria

      Kimono pria dibuat dari bahan berwarna gelap seperti hijau tua, coklat tua, biru tua, dan hitam. Ada 2 jenis kimono untuk pria, diantaranya adalah:

      1. Kimono Pria Formal (Montsuki)

      Kimono Pria paling formal untuk pria berupa setelan Montsuki hitam dengan hakama (pakaian luar tradisional untuk menutupi pinggang sampai mata kaki) dan haori

      Bagian punggung montsuki dihiasi lambang keluarga pemakai. Setelan montsuki yang dikenakan bersama hakama dan haori merupakan busana pengantin pria tradisional. Setelan ini hanya dikenakan sewaktu menghadiri upacara sangat resmi, misalnya resepsi pemberian penghargaan dari kaisar/pemerintah atau seijin shiki.

      2. Kimono Pria Santai (Kinagashi)


      Pria mengenakan kinagashi sebagai pakaian sehari-hari atau ketika keluar rumah pada kesempatan tidak resmi. Aktor kabuki mengenakannya ketika berlatih. Kimono jenis ini tidak dihiasi dengan lambang keluarga.

      Sumber: http://id.wikipedia.or, https://nochaneyscrafts.wordpress.com/2013/09/10/kimono/

      Ocha dan Manfaatnya

      Jika kalian mendengar kalimat 'Ocha' pasti kalian sudah langsung membayangkan teh yang biasa di suguhkan di beberapa rumah makan atau yang biasa kalian seduh di rumah. Tapi kalo kalian ke Jepang dan kalian membeli 'Ocha' di sana, yang akan kalian lihat adalah Teh yang berwarna Hijau bukan warna Coklat seperti yang biasa kita konsumsi. Ini di karenakan di sana Teh Hijau adalah minuman yang sudah lazim di konsumsi. Jadi mereka menyingkat 'Ryokucha' atau Teh Hijau menjadi 'Ocha' saja.
      Ryokucha atau Teh Hijau
      Produksi Teh dan tradisi minum teh dimulai sejak zaman Heian, setelah Teh dibawa masuk ke Jepang oleh duta kaisar yang berkunjung ke China pada era Dinasti Tang. Sejak itulah mulai berkembang Upacara Minum Teh (茶の湯 -Chanoyu) di Jepang. Pada Zamannya upacara minum teh berkembang hingga memiliki lebih dari 30 aliran.

      Upacara Minum Teh (Chanoyu)

      Jenis Teh Hijau


      Ada 3 Jenis Teh Hijau yang terkenal di Jepang. Diantaranya adalah Gyokuro, Matcha dan Sencha.

      1. Gyokuro 

      Gyokuro adalah teh terpilih dari daun teh kelas atas yang disebut Tencha.

      Kiri- Tencha, Kanan- Gyokuro
      Teh dinamakan Gyokuro karena warna hijau pucat yang keluar dari daun teh. Daun dilindungi dari terpaan sinar matahari sehingga mempunyai aroma yang sangat harum.

      2. Matcha

      Matcha adalah teh hijau berkualitas tinggi yang digiling menjadi bubuk teh dan dipakai untuk upacara minum teh.

      Kiri- Chasen, Kanan- Matcha
      Matcha mempunyai aroma yang harum sehingga digunakan sebagai perasa untuk es krim rasa teh hijau, berbagai jenis kue tradisional Jepang (wagashi), berbagai permen dan coklat.

      Es krim Rasa Teh Hijau

      3. Sencha

      Sencha adalah teh hijau yang biasa diminum sehari-hari, dibuat dari daun yang dibiarkan terpapar sinar matahari.

      Sencha

      Manfaat Teh Hijau

      Selain Enak, Kandungan dalam Ocha juga memiliki banyak manfaat bagi kesehatan manusia. Selain dapat memberikan efek relaksasi, anti-oksidan yang terkandung dalam Ocha dapat memerangi radikal bebas. Anti-oksidan di dalam ocha bahkan lebih baik dari vitamin C dan vitamin E, juga lebih ampuh dari resveratrol yang terkandung dalam minuman anggur. Tak hanya itu, EGCG dalam ocha ternyata juga bermanfaat untuk membantu menurunkan berat badan. Penelitian menyebutkan bahwa ia dapat memicu proses pembakaran lemak, serta sedikit meningkatkan metabolisme tubuh. Dengan dibarengi olahraga dan diet seimbang, ocha bisa menjadi asupan tambahan yang tepat untuk Anda.
      Teh secara umum terbagi menjadi tiga kelas, yaitu teh hitam, teh oolong, dan teh hijau. Kategori ini ditentukan menurut level oksidasi dan proses fermentasinya, di mana teh hitam difermentasi secara penuh, oolong difermentasi sebagian, dan teh hijau – termasuk ocha - tidak melalui proses fermentasi.

      Entri Populer