Saturday, July 17, 2010

Anggur Beras Dari Jepang


Jakarta - Minuman fermentasi beras khas Jepang ini memang tak sepopuler wine. Tetapi, karena mengandung alkohol sake juga sering disebut sebagai anggur beras. Yuk, kenali sake lebih jauh!

Sake merupakan minuman khas Jepang yang sudah dikenal sejak ratusan tahun lalu. Di negara asalnya sana, sake identik sebagai bagian dari ritual dan perayaan. Namun sake juga biasa digunakan masyarakat Jepang sebagai penghangat tubuh terutama di musim dingin.

Di Indonesia, sake tidak begitu populer karena tak banyak yang menjual minuman ini. Sake sendiri terbuat dari fermentasi beras, koji beras, dan kapang /jamur untuk mengubah pati di dalam beras menjadi gula. Ada dua jenis sake yaitu yang ditambahkan alkohol dan yang merupakan fermentasi beras murni.

Zake-iwai atau sake perayaan biasanya diberikan secara gratis kepada semua orang pada saat perayaan di kuil-kuil untuk mendatangkan nasib baik. Sedangkan Toso adalah sake yang dibuat dengan merendam tososan, sebuah obat bubuk cina selama semalam di dalam sake. Sake ini biasanya dinikmati saat tahun baru bahkan juga oleh anak-anak.

Sake berwarna putih keemasan bening, biasanya paling enak diminum dengan didinginkan dan ada pula yang dihangatkan. Untuk sake dingin rasanya menyerupai wine berkualitas tinggi, sedangkan sake hangat biasanya lebih cepat memabukkan. Sehingga seringkali sake dinikmati dalam gelas-gelas kecil.

Di Jepang sana sake biasa dijual di berbagai tempat mulai dari restoran besar bahkan jajanan pinggir jalan sekalipun. Meskipun tentunya dalam kualitas yang berbeda-beda. Bahkan di Jepang sana tak jarang sake juga dipakai dalam memasak berbagai hidangan. Di Indonesia sake tak begitu populer dan masih sulit dijumpai. Hanya beberapa restoran Jepang tertentu yang menjual minuman ini.

Sunday, July 11, 2010

Inilah Dunia Kerja Jepang Yang Sebenarnya [Masih Ngarepin Tinggal Di Jepang?]


banyak dari kita, anak muda Indonesia selalu dan selalu membanggakan negeri Samurai, jepang. apakah salah? tidak juga. memang harus kita akui klo Jepang adalah negeri dengan segudang kehebatan, mulai dari teknologi, kedisiplinan, kreasi anime, sampai dunia sex! banyak juga dari kita yang mengandai2 “seandainya saya bisa ke jepang, sekolah di jepang dan hidup di jepang…” setelah baca thread ini, masihkan ngarep untuk idup di jepang?

Setiap tahun terdapat jutaan mahasiswa yang bersorak gembira ketika mereka dinyatakan lulus dari universitas. Mereka senang karena jerih payah orang tua tidak sia-sia setelah mereka di wisuda mengenakan toga. Sayang sekali… mereka tidak sadar kalau mereka baru saja keluar dari “kandang anak kucing” dan masuk ke hutan belantara yang dipenuhi oleh singa, ular berbisa, mawar beracun, dan banyak lagi yang aneh-aneh.



Menurut survey di Tokyo, orang-orang yang baru lulus kuliah cenderung mengalami tingkat stress yang lebih tinggi jika dibandingkan ketika mereka sedang menghadapi ujian terakhir di kampus.

Kenapa mereka lebih stress? Karena mereka tidak bisa mendapatkan pekerjaan!

Makin hari makin banyak darah segar yang bersaing ketat untuk mendapatkan pekerjaan. Dan ketika saingan semakin banyak, banyak pula yang rela di gaji rendah, kerja semakin larut, dan tingkat kesehatan yang semakin menurun.

Inilah dunia kerja Jepang yang sesungguhnya.

“Setiap hari saya hidup dengan kegelisahan yang mengerikan,” kata Ikezaki, seorang karyawan kontrak yang saat ini kerja dengan gaji ¥75.000/bulan (atau sekitar 7 juta rupiah per bulan). “Ketika saya berpikir tentang masa depan saya, saya jadi tidak bisa tidur di malam hari.”

Berdasarkan data dari pemerintah Jepang, terdapat lebih dari 10 juta orang yang hidup dengan penghasilan kurang dari standard normalnya Jepang yaitu ¥1.600.000/tahun (atau sekitar 155 juta rupiah per tahun).

Mungkin ini semua adalah akibat dari perusahaan-perusahaan Jepang yang lebih mementingkan keuntungan perusahaan dan memanfaatkan keluguan para pekerja baru (yang jelas-jelas tidak punya pilihan lain).




Terciptalah salaryman. Orang-orang yang hidup dengan gaji rendah, kerja setengah mati, tanpa uang lembur, dan tanpa kepastian peningkatan karir meskipun mereka telah bekerja puluhan tahun. Makanya jangan heran ketika kamu melihat banyak karyawan Jepang yang tertidur pulas di kereta ketika mereka menuju pulang ke rumah. Mereka terlalu lelah.





Kata salaryman sendiri diambil dari bahasa Inggris, yaitu salary (gaji) dan man (orang), jadi salaryman artinya adalah orang yang hidupnya 100% tergantung dari gaji. Mereka kalo sampai dipecat rasanya dunia kiamat. Kalo di Indonesia, ini sama dengan bangsawan = bangsa karyawan.


Saking stressnya, tercipta satu kata baru yang terkenal di dunia pekerja Jepang untuk menggambarkan betapa kerasnya kerja di Jepang, yaitu karoshi.

Apa itu karoshi?

Karoshi artinya “mati di kerja” atau kematian karena stress pekerjaan. Halusnya berarti “meninggal karena setia dan mengabdi kepada perusahaan”. Kematiannya bisa karena kecelakaan di tempat kerja, kematian karena terlalu lelah (kesehatannya menurun jauh), ataupun karena bunuh diri karena stress kerja.

Saking seriusnya masalah ini, pemerintah Jepang telah mencoba berbagai cara untuk mengatasinya. Mulai dari menyediakan nomor telepon darurat untuk menerima keluh-kesah para salaryman, buku petunjuk untuk mengurangi stress, sampai mensahkan undang-undang yang memberikan sejumlah uang (asuransi) ke para janda dan anak-anak yang ditinggal mati karena karoshi.


Menurut data pemerintah, dari 2.207 kasus bunuh diri pada tahun 2007, 672-nya adalah karena pekerjaannya terlalu banyak. Kasus karoshi yang terkenal adalah kasus kematian Kenichi Uchino pada tahun 2002, seorang manager quality-control berusia 30 tahun yang bekerja di perusahaan otomotif terbesar di dunia, Toyota.

Kenichi dikabarkan bekerja lembur selama 80 jam setiap bulan selama 6 bulan lamanya tanpa dikasih uang lembur atau bonus tambahan apapun. Dia akhirnya jatuh pingsan di tempat kerjanya dan dilarikan ke rumah sakit, yang kemudian membawanya ke akhirat.

McDonald’s Jepang pun terkena masalah ini. Salah seorang manager restorannya jatuh sakit dan meninggal karena bekerja lembur tanpa bayaran apapun.

Mau gak mau, karena tekanan publik, Toyota dan McDonald’s akhirnya memutuskan akan memberikan uang lembur bagi yang ingin bekerja lembur dan menyediakan fasilitas kesehatan yang lebih baik.

Para salaryman ini sebenarnya niatnya baik, yaitu ingin memajukan perusahaannya. Ditambah lagi dengan kebudayaan Jepang yang selalu menekankan disiplin tinggi, mereka berpikiran bahwa dengan bekerja lebih lama dan lebih keras daripada karyawan lain dan tanpa meminta bayaran apapun, boss mereka bisa memberikan posisi yang lebih baik. Tapi kenyataan, TIDAK!!.

Bagaimana sih kehidupan seorang salaryman sehari-hari?

06:30 = bangun dari tempat tidur
07:30 = berangkat ke kantor (jalan kaki / naik sepeda / subway)
08:50 = harus tiba di kantor
09:00 = meeting pagi dengan supervisor
09:10 = mulai kerja
12:00 = makan siang (bento / kantin / restoran terdekat)
13:00 = mulai kerja lagi
17:00 = lembur dimulai (biasanya tanpa uang lembur)
20:30 = pesta nomikai (kalau ada)
21:30 = pulang ke rumah (jalan kaki / naik sepeda / subway)
22:30 = sampe rumah, nonton TV, baca koran
23:00 = tidur

Ulangi terus dari Senin-Jumat. Sabtu biasanya pulang lebih awal (kalau ada lembur, kerja seperti biasa). Minggu libur (kalau ada lembur, kerja seperti biasa).

Peraturan di kantor:

#1. Kalau atasan bilang bumi berbentuk kotak, maka bumi bentuknya kotak.
#2. Kalau dia berubah pikiran, maka bumi juga bentuknya berubah.
#3. Lupakan apa kata pelanggan. Boss adalah raja.
#4. Karyawan baru? Boss adalah Tuhan.
#5. Membungkuk. Membungkuk. Membungkuk.

jadi, masih ngarep pengen idup di Jepang?

Friday, April 30, 2010

Rahasia Panjang Umur Orang Jepang


Secara bergurau seorang teman mengungkapkan rahasia panjang umur orang Jepang. Katanya, di Jepang semua serba mahal, termasuk biaya penguburan ketika meninggal. Jadi orang Jepang mau menabung dulu yang banyak sampai berusia lanjut supaya bisa dikuburkan dengan layak. Saya tertawa mendengarnya. Pada suatu kesempatan, saya menanyakan kepada salah seorang professor saya tentang hal ini. Dengan sedikit menambahkan dari beberapa hal yang saya lihat sehari-hari, inilah rahasia panjang umur orang Jepang.

Pertama dari makanan. Orang Jepang makan dengan makanan yang bergizi dan higyenis. Tentu kita tahu orang Jepang juga suka memakan ikan mentah yang dicampur sedikit nasi (sushi) bahkan yang benar-benar ikan mentah saja (sashimi). Ikan mempunyai gizi yang tinggi serta rendah kalori. Contoh lain, makanan yang digoreng menggunakan minyak goreng seperti tempura akan dimasak dengan sangat kering dan garing sehingga seolah-olah minyak goreng tidak melekat di makanan tersebut.

Pada hampir setiap restoran besar di Jepang, akan bisa kita lihat jumlah kalori yang terdapat pada setiap menunya. Dengan demikian orang bisa mengatur asupan jumlah kalorinya. Makanan yang dimasak juga tidak akan dihidangkan sampai lebih dari satu hari. Di banyak supermarket, setiap malam biasanya diadakan potongan harga untuk makanan yang dimasak pagi harinya karena tidak akan dijual lagi untuk keesokan harinya. Semua makanan yang menggunakan bahan pengawet tercantum jelas kapan habis masa berlakunya. Dari sisi minuman, teh Jepang juga sangat terkenal akan khasiatnya. Dan orang Jepang tidak pernah minum yang dicampur dengan gula.

Faktor yang kedua adalah olah raga. Sedari kecil, warga Jepang terbiasa berolah raga. Di sekolah dasar, selain diberikan pelajaran olah raga, setiap tahun diadakan lomba olah raga bersama yang melibatkan semua muridnya tanpa terkecuali. Walaupun sifatnya lomba, namun lebih banyak ditekankan tentang kerja sama dalam kelompok, sehingga setiap murid dapat berpartisipasi. Lomba yang sama juga diadakan pada tingkat TK. Karena cinta berolah raga, walaupun sedang musim dingin dan bersalju, banyak orang yang tetap melakukan aktivitas olah raganya.

Ditunjang faktor transportasi umum yang nyaman, warga Jepang biasa berjalan kaki atau mengendarai sepeda setelah turun dari bus/kereta untuk menyambung perjalanannya. Karena kebiasaan ini, kalau kita bertanya jarak suatu tempat, biasanya tidak akan dijawab dengan dalam berapa meter atau satuan jarak, mereka akan menjawab “Kira-kira 10 menit berjalan kaki dari sini”. Di jalan umum, biasa terlihat orang tua yang masih gagah berjalan kaki. Tanpa disadari, hal ini juga merupakan olah raga yang ringan.

Faktor ini masih sangat jarang dilakukan oleh masyarakat kita. Bagi mereka yang memiliki kendaraan, akan naik kendaraan dari rumah sampai ke tujuan. Bagi yang berkendaraan umum, akan memaksakan diri untuk turun sampai tempat terdekat (bahkan bukan di tempat pemberhentian) setelah itu disambung menggunakan ojek/bajaj sampai di depan rumah. Sehingga tubuh kita tidak terbiasa untuk melakukan olah raga yang ringan.

Yang ketiga adalah peran pemerintah. Di setiap kota disediakan sarana olah raga yang memadai. Minimal ada lapangan luas serta gym yang dilengkapi dengan tempat fitness serta kolam renang. Masyarakat bisa menggunakan fasilitas ini dengan biaya yang relatif murah. Pemerintah juga mewajibkan setiap warga untuk mengikuti asuransi kesehatan nasional yang disesuaikan dengan penghasilan kita. Sehingga pada saat sakit, biaya pengobatan ditanggung oleh asuransi.

Cukup dengan menunjukkan kartu asuransi, masyarakat dapat langsung mendapatkan potongan harga di rumah sakit atau dokter manapun. Untuk anak di bawah usia tertentu serta orang lanjut usia di atas usia tertentu biayanya akan sangat murah, bahkan ada yang gratis. Khusus untuk orang yang sudah sangat lanjut usia, bahkan pemerintah menyediakan sarana penjemputan bagi mereka yang hendak memeriksakan diri ke dokter/rumah sakit.

Yang terakhir adalah menyediakan waktu untuk bersantai guna menghindari kejenuhan. Berbagai macam cara digunakan untuk relaks. Contohnya adalah dengan menekuni suatu hobby tertentu.Bisa dengan memelihara tanaman, memelihara bonsai, menekuni fotografi, belajar kaligrafi dan lain-lain. Di rumah juga tidak sedikit yang menanam tanaman atau pohon bonsai. Selain bisa untuk melepaskan diri dari kejenuhan sehari-hari juga untuk menambah teman / kenalan untuk berbagi rasa.

Contoh lainnya adalah menikmati keindahan alam. Sebagai negara empat musim, warga Jepang setiap tahun sering menikmati pergantian musim. Pada saat musim semi mereka berkumpul sambil duduk menikmati bunga sakura (hanami). pergi melihat sunset di musim panas, serta menikmati indahnya dedaunan di musim gugur. Foto ilustrasi di atas adalah seorang nenek berusia sekitar 90 tahunan yang berkursi roda diantar cucunya untuk menikmati keindahan bunga tulip di musim semi.

Walaupun sepertinya tidak ada hal yang baru dalam rahasia panjang umur ini, namun apabila dijalankan secara konsisten akan berdampak bagi kesehatan kita. Mudah-mudahan informasi ini bermanfaat bagi kita semua.

Monday, April 26, 2010

Jepang Kembangkan Robot Pembaca Pikiran


TOKYO - Para ilmuwan di Jepang bersiap mengembangkan robot pembaca pikiran dan kemampuan menggerakkan berbagai barang elektronik hanya dengan pikiran.

Seperti dilansir AFP, Senin (26/4/2010), berbagai perangkat yang akan dikembangkan tersebut di antaranya meliputi televisi, ponsel, sistem navigasi pada mobil dan pendingin ruangan.

Semua perangkat tersebut nantinya akan menggunakan teknologi interface berbasis mesin pembaca otak. Terdapat sensor pada headset yang bekerja menganalisa gelombang otak dan pola aliran darah.

Sebagai contoh, jika teknologi ini diaplikasikan pada sistem navigasi mobil, sistem akan secara otomatis mencari jalan menuju restoran saat penggunanya tengah memikirkan untuk mencari makan. Begitu pun jika diterapkan pada pendingin ruangan, jika pengguna berpikir udara di dalam ruangan terlalu panas atau dingin, pendingin ruangan segera menyesuaikan suhunya.

Yang paling menarik adalah rancangan robot yang bisa mengetahui apa yang diinginkan seseorang. Robot ini dimaksudkan untuk merawat dan melayani pasien tuna daksa dan manula.

Teknologi ini rencananya akan segera dipasarkan tahun ini, bekerjasama dengan perusahaan teknologi besar seperti Toyota, Honda, Hitachi, dan lembaga teknologi ternama di Jepang seperti National Institute of Information and Communications Technology, Osaka University dan Advanced Telecommunications Research Institute International. (rah)

Friday, March 12, 2010

Berbagai Profesi di Jepang dan Gajinya


“Data pribadi yang paling tidak ingin diketahui oleh orang lain kalau pria adalah penghasilan, sedangkan wanita adalah alamat.”, demikian hasil survey yang diumumkan oleh Nihon RSA pada tahun 1998. Tetapi, besarnya gaji di Jepang mungkin adalah salah satu hal yang menarik untuk diketahui, terutama mereka yang ingin bekerja di Jepang. Berikut informasi yang diperoleh dari beberapa sumber di internet.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

1. Gaji di Jepang umumnya dihitung berdasarkan pendapatan kotor per tahun (“nenshu”, 年収), sebelum dikurangi dengan pension (“nenkin”,年金), asuransi (“hoken”,保険) dsb.


2. Pendapatan pertahun (年収) terdiri dari dua komponen : gaji (“kyuuyo”,給与) + bonus (“shouyo”, 賞与). Besarnya bonus tidak seragam. Ada yang besarnya tiga kali pendapatan per bulan, dua kali, atau tidak sama sekali.

3. Besarnya gaji dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain lama kerja dan usia.

Ada beberapa sumber mengenai gaji berbagai profesi di Jepang. Data di bawah berasal dari majalah President bulan Desember 2005 yang dikutip di situs Ini . Angka yang tercantum di dalam kurung adalah rata-rata pendapatan per tahun (bukan per bulan), dalam satuan juta yen. Hanya sebagian data saja yang ditampilkan. Sayang saya belum membaca artikel aslinya, sehingga tidak tahu secara detail bagaimana survey itu dilakukan.

Quote:
1. Perdana Menteri (41.65) = Rp 4,165 miliar/tahun

2. Menteri (30.41) = Rp 3,041 miliar /tahun

3. Anggota Parlemen (22.28) = Rp 2,228 miliar/tahun

4. Pengacara/”bengoushi” (21.01) = Rp 2,101 miliar/tahun

5. Pilot (17.13) = Rp 1,713 miliar/tahun

6. Dokter (12.27) = Rp 1,227 miliar/tahun

7. Professor (11.53) = Rp 1,153 miliat/tahun

8. Associate Professor (9.17) = Rp 917 juta / tahun

9. Polisi (8.40)= Rp 840 juta / tahun

10. Wartawan (7.82)= Rp 782 juta / tahun

11. Guru SMA (7.41) = Rp741 juta/ tahun

12. Pegawai Pemda (7.28) = Rp 728 juta/ tahun

13. Guru Sekolah Kejuruan (5.38) = Rp 538 juta / tahun

14. Perawat (4.64) = Rp 464 juta/ tahun

15. Salaryman (4.39)= Rp 439 juta/tahun

16. Programmer (4.12)= Rp 412 juta/tahun

17. Guru TK (3.28)= Rp 328 juta/tahun

18. Supir Taxi (3.06)= Rp 306 juta /tahun


Ini baru gaji bersih gan belom di tambah gaji kotor, kalo udah ditambah bakalan 3x lipat kali gan

Kurs yang ane pake Rp 100 = 1 Y

Ternyata 1 yen itu nilainya lebih dari Rp 100


5. Data dari NTA (National Tax Agency)menyebutkan bahwa pada tahun 2005, banyaknya orang yang memiliki penghasilan di Jepang dan bekerja selama 1 tahun adalah 44.94 juta orang. Rata-rata pendapatan mereka sebesar 4.37 juta yen (dalam satu tahun). Pekerja pria 27.74 juta orang dan rata-rata penghasilannya 5.38 juta yen. Sedangkan wanita, 17.20 juta orang dan rata-rata penghasilannya 2.73 juta yen.

6. Rata-rata penghasilan part time job (arubaito) : 966 yen (Juni 2006).

7. Sekedar referensi saja, beasiswa Monbukagakusho per bulan untuk tahun finansial 2007/2008 sekitar 134 ribu yen (S1) dan 172 ribu yen (S2 dan S3), berarti per tahun 1.7 juta (S1) dan 2.1 juta (S2). Beasiswa ini adalah jumlah bersih yang diberikan kepada siswa untuk hidup sehari-hari (membayar sewa apartemen, makan, minum, dsb.), di luar uang kuliah. Hanya saja beasiswa ini tidak dianggap sebagai penghasilan, dan pelajar dianggap zero income, sehingga tidak dikenakan pajak penghasilan.

8. Angka di atas kalau dikonversikan ke rupiah akan terkesan sangat besar. Tetapi hal ini tidak lantas berarti menggambarkan taraf kemakmuran seseorang dari sudut pandang Indonesia, demikian pula sebaliknya. Untuk memberikan gambaran yang tepat dan fair, perlu ditambahkan informasi living cost di negara tersebut. Hal ini karena terdapat perbedaan signifikan pada living cost antara keduanya. Contohnya, 150 yen di Jepang (di toko bento, kantin kampus, dsb.) hanya dapat dipakai untuk membeli satu porsi nasi putih tanpa lauk pauk. Tetapi di Indonesia kalau dirupiahkan dan dibawa ke warteg, nasi putih anda tidak akan sendirian, melainkan akan mendapat teman-teman yang menyenangkan (tempe, gorengan, sayur, telur, ikan, daging, es teh manis dsb.). Saya pernah ditanya oleh teman Jepang mengenai besarnya gaji di Indonesia. Jawaban sederhana adalah dengan mengkonversikan angka tersebut ke yen. Orang Jepang yang mendengarnya akan terkejut, karena gaji sebesar itu tidak akan cukup dipakai hidup di Jepang. Tetapi saat saya jelaskan bahwa biaya hidup di Indonesia sangat jauh berbeda dengan di Jepang, baru teman saya tersebut memahaminya.

9. Berkaitan dengan point 8 di atas, salah satu parameter yang sering dipakai untuk mengukur tingkat standard hidup adalah Engel’s coefficient. Engel’s Coefficient didefinisikan sebagai prosentase penghasilan yang dipakai untuk belanja kebutuhan primer pangan (飲食費) terhadap total pengeluaran bulanan. Semakin rendah nilainya, berarti semakin tinggi tingkat standard hidupnya. Berapakah Engel’s Coeff. di Jepang ? Menurut survey di tahun 2005 yang dikutip di artikel ini, besarnya pengeluaran rata-rata tiap keluarga adalah 266,508 yen, dan 60,532 yen, sehingga Engel’s Coef-nya 22.7%. Pemerintah Jepang setiap bulan melakukan pemeriksaan belanja rumah tangga (Kakei-chousa, 家計調査).

Quote:
Sebagai referensi, besarnya koefisien pada periode sebelumnya adalah sbb :

1. setelah PD-II selesai/pada tahun 1947 besarnya 63%
2. era 1950-an sekitar 40%
3. era 1960-an sekitar 30% (pada tahun 1962 berhasil tembus dari
40%-an ke 30%)
4. era 1970-an sekitar 20%
5. tahun 2002 sekitar 23.3%

Thursday, February 25, 2010

Erika Kirihara Naksir Cowok Indonesia Berkulit Gelap


Jakarta Bintang film porno asal Jepang, Erika Kirihara, mengaku baru dua kali mengunjungi Indonesia. Tapi dari kunjungannya itu, cowok-cowok Indonesia meninggalkan kesan bagi Erika.

Gadis kelahiran 15 Desember 1987 itu menilai cowok-cowok Indonesia yang pernah ditemuinya berbeda dari pria Jepang yang selama ini dikenalnya. Perempuan yang berdomisili di Tokyo tersebut mengunjungi Indonesia pertama kali pada Mei 2009 lalu. Saat itu ia berlibur di Bali.

"Cowok-cowok Indonesia kok ramah-ramah yah, mudah tersenyum dan cakep-cakep juga," ujarnya seraya tertawa dengan bahasa Jepang saat berbincang dengan detikhot di kantor detikcom, Jl Warung Buncit Raya, Jakarta Selatan, Rabu (17/2/2010).

Erika membandingkan dengan pria Jepang yang selama ini dikenalnya. Menurutnya, para cowok Jepang lebih cuek terhadap perempuan. Para pria jepang juga jarang memuji perempuan di Negeri Sakura.

"Kalau di negara ku, cowok-cowoknya tak terlalu bisa memperlakukan kami para perempuan dengan baik," urainya.

Selain sikap cowok Indonesia, perempuan berzodiak Sagitarius itu juga menyukai warna kulit kaum adam di tanah air. Baginya kulit gelap cowok Indonesia sangat seksi.

"Aku suka cowok-cowok kalian yang berkulit coklat, yang berkulit gelap. Kelihatannya menarik sekali," imbuhnya sembari tersenyum.

Erika yang memerankan karakter Tante Hanna di film 'Arisan Brondong' mengungkapkan tak tertutup kemungkinan dirinya menjalin cinta dengan cowok Indonesia. Namun seperti perempuan kebanyakan, ia butuh waktu yang cukup untuk mengenal sosok calon kekasihnya kelak.

"Bisa aja aku pacaran sama cowok Indonesia, lagipula aku juga lagi single kok. Mudah-mudahan aku bisa berkunjung ke Indonesia lagi," tandasnya.

Erika Kirihara Senang Santap Sate Kambing


Indonesia memiliki segudang warisan kuliner yang nikmat untuk disantap. Bukan hanya orang Indonesia yang dibuat ketagihan makanan Nusantara, artis asal Jepang Erika Kirihara pun demikian.

Pemain film 'Arisan Brondong' itu mengungkapkan kalau ia suka sekali menyantap sate kambing. Tekstur daging kambing serta bumbu pelengkap yang khas yang membuat Erika ketagihan.

"Enak, enak, sate kambing enak," jelasnya saat melakukan santap malam bersama detikhot di kantor detikcom, Jl Warung Buncit Raya, Jakarta Selatan, Rabu (17/2/2010).

Erika mengatakan di tanah kelahirannya, kambing tidak dijual. Otomatis makanan dari daging kambing pun tidak akan ditemukan di restoran-restoran di Jepang. Tak heran saat ditawari menu sate kambing oleh detikhot untuk makan malamnya, Erika tak menolaknya.

Ketika Erika berkunjung ke Jakarta pada Desember 2009 lalu untuk keperluan syuting film 'Arisan Brondong, ia ditawari oleh Maxima Pictures makanan sate kambing. Maxima Pictures adalah rumah produksi yang mengontrak Erika untuk bermain di film 'Arisan Brondong'.

Selain sate kambing, perempuan kelahiran 15 Desember 1987 tersebut juga menggemari nasi goreng dengan telur ceploknya. Makanan yang menjadi santapan bagi kebanyakan orang Indonesia tersebut dinilai Erika unik.

Jika cowok Indonesia, sate kambing dan nasi goreng membuat Erika tertarik, tidak dengan cuaca di Jakarta. Menurutnya udara di Jakarta sangat panas.

"Sangat panas di sini, berbeda sekali dengan di Tokyo," tuturnya.

Selain panas, Erika juga tak tahan dengan kemacetan dan polusi di Jakarta. Tak heran selama di Jakarta ia jarang keluar hotel di siang hari dan lebih memilih untuk jalan-jalan saat matahari mulai tergelincir di ufuk barat.

Monday, February 15, 2010

Kenapa orang Jepang tidak banyak menjadi anggota FaceBook??


Beberapa kali saya pernah mengirimkan invitation ke teman mahasiswa Jepang untuk ikut bergabung di FaceBook (FB). Tapi undangan saya tersebut sangat jarang ditanggapi oleh teman saya. Ada satu dua orang yang menjadi anggota, tapi itupun tidak aktif. Hanya sekedar membuka account saja. Yang lumayan aktif biasanya hanya mahasiswa Jepang yang mempunyai banyak teman mahasiswa asing.

Tahun 2008 Mark Zuckerberg membuat aplikasi bahasa Jepang untuk menarik lebih banyak peminat FB dari negeri sakura. Ternyata harapan itu tidak terpenuhi. Memang sebagian besar warga Jepang sangat tidak terbiasa dengan aplikasi berbahasa Inggris. Tetapi ketika YouTube membuat aplikasi berbahasa Jepang, berbondong-bondong orang Jepang mengupload video ke sana. YouTube relativ lebih disenangi dibandingkan dengan FB. Ternyata bahasa bukan kendali utama bagi menjamurnya FB di Jepang.

Untuk menjadi anggota FB, kita diharuskan mengisi data-data pribadi yang nantinya dicantumkan kepada orang yang menjadi teman kita. Sementara YouTube cuma mensyaratkan nama (itupun tidak perlu nama asli) dan alamat email . Di sinilah masalahnya. Sebagian besar orang Jepang tidak mau memperlihatkan data dan kehidupan pribadinya kepada banyak orang. Sebagai contoh, dengan memperlihatkan tanggal, bulan dan kelahiran kita, dipercaya dapat digunakan untuk mengetahui karakter kita yang sangat berbahaya apabila digunakan untuk kepentingan tidak baik.

Selain itu, orang Jepang juga tidak terlalu suka menonjolkan jati dirinya di hadapan orang banyak. Mereka terbiasa hidup berkelompok dan bekerja juga dalam kelompok. Kita mungkin kenal dengan produk walkman, tapi kita tidak tahu siapa penemunya, kecuali dari Sony Corpporation. Juga tamagochi yang terkenal itu, oleh perusahannya, sang penemu mendapat perlakuan sama dengan pegawai lainnya dan dianggap sebagai bagian dari kerja kelompok.

Dalam berinternetpun, orang Jepang lebih suka memakai identitas lain atau bukan nama sebenarnya. Tahun 2005 ada satu kisah nyata tentang warga Jepang yang bercurhat dalam suatu forum Internet. Pemuda Jepang tersebut adalah orang yang suka dengan komik (manga), game, animasi dan bergaya agak aneh. Di Jepang orang seperti ini disebut “otaku”. Dalam suatu perjalanan di kereta api, dia berhasil menolong seorang wanita cantik berpendidikan tinggi dari gangguan orang mabuk. Keinginannya untuk mendekati dan mencintai wanita tersebut dicurahkan dalam sebuah forum Internet. Dalam setiap langkah untuk mendekati sang wanita, dia menceritakannya di forum tersebut. Banyak sekali tanggapan, saran dan dukungan kepada pemuda tersebut. Kisah ini akhirnya menjadi populer dan dijadikan sebuah film, sinetron dan komik dengan judul “Densha Otoko” (Train Man). Sampai sekarang, identitas asli Train Main ini tidak diketahui.

Selain itu, ada juga rasa mawas diri dari orang Jepang untuk tidak membagi identitas, foto dan kehidupan pribadinya. Terutama para wanitanya. Mereka tidak mau diganggu oleh orang-orang iseng yang mengetahui identitas mereka melalui FB. Pernah juga ada kasus ketika seorang mahasiswi yang punya blog didatangi oleh pemuda Amerika yang ingin berkenalan dengannya. Sang mahasiswi menolak dan sempat terjadi kehebohan di kampus. Sejak saat itu ada himbauan di kampus untuk tidak membuka kehidupan pribadi melalui blog. Demikian cerita salah satu professor saya.

Jadi budaya masih banyak mempengaruhi orang Jepang untuk tidak sembarangan berinternet. Sementara di Indonesia banyak yang dengan secara sengaja membagi-bagikan nomor HP, alamat, nomor PIN BlackBerry dan identitas lainnya di FB mereka. Tanpa disadari, kalau ada orang yang berniat tidak baik, data-data ini bisa dengan sangat mudah dimanfaatkan untuk kejahatan.

Entri Populer